Kejadian ini, terasa saat diambil sumpah jabaan. Di depan pejabat negara,
yang membacakan sumpah, para kandidat itu ditanya :
”apakah saudara siap, untuk diambil sumpah jabatan?”
Kemudian, dengan serentak, walau agak bergemuruh, terdengar jelas dan
tegas, ”SIAP”. Selepas itu, kemudian, sumpah pun dibacakan, yang didalamnya,
memuat terkait hak dan kewajiban. Di akhir sambutannya itu, sang pejabat tinggi
negara itu, mengatakan, ”sekarang, Sah, saudara menduduki jabatan yang sudah
disebutkan tadi..”
Bagi mereka yang ada dihadapan pejabat itu, termasuk saya pribadi, lantang
mengucapkan sesuatu hal, ”amin”. Ucapan itu, ada yang diucapkan lisan, dan ada
pula yang sekedar dalam hati. Ada pula yang ditambahi, seperti ucapan Umar bin
Abdul Aziz (717M-720M/99H-101H), saat
diangkat Sulaiman bin Abdul Malik sebagai Khalifah, kemudian berucap ”inna
lilahi wa inna ilaihi raji’un”.
Sah !
Itulah salah satu kata, yang terkenang dan terngiang. Bahkan, mungkin,
karena ada kata itu jugalah, setiap orang yang ada dalam ruangan itu, merasa
haru biru, dan gegap gempita, atau gembira ria.
Pikiran dan perasaan ini melayang. Melayang bukan karena sakao, tetapi megimajinasikan sesuatu hal yang diharapkan akan terwujud, terjadi, dan terasakan, selepas apa yang dialami hari ini.
Betul. Saya ingin mengatakan bahwa pelantikan itu, tak ubahnya dengan
sebuah praktek perkawinan. Selepas ada ijabkabul, maka akan berlaku lah hak dan
kewajiban.
Kalimat atau kata ”sah”, setelah melakukan sumpah/jabatan itu, ada impian untuk menegaskan sumpah setia pada jabatan. Karena di situlah, ijabkabul kita. Hari itu.
Melayang dan masuk ke rumah privat. Kemudian mengenali relung-relung
perkawinan. Dari sela-sela itu, terbersit pikiran mengenai peta perkawinan.
Sekali lagi, ada imajinasi, bahwa saat itu, tidak jauh berbeda dengan prosesi pernikahan, yang dilaksanakan Kantor Urusan Agama. Rasanya-rasanya, serupa hal serupa itu.
Sekedar kisah latar belakang masalahnya. Mirip dengan kondisi anak muda
zaman kiwari. Mencari-cari pacar. Ingin ke si A, Si B, atau Si C, yang didapat
si D. Pun demikian dengan pengalaman
hidup, atau dalam kaitanya dengan pekerjaan.
Sebelum dilantik, setiap calon kamad mengajukan lamaran kerja. Melamar lowongan kerja untuk menjadi Kepala Madrasah. Lamaran itu diajukan ke Pemerintah. Ada yang melamar di Aliyah, Tsanawiyah dan Ibtidaiyah. Tetapi, ada juga yang dalam hatinya, melamar dengan cara menyerahkan kepada Pemerintah, sebagai wali untuk menetapkan jodoh yang tepat bagi dirinya. Dimanapun, bersedia, itulah ungkapan janjinya.
Hal yang luar biasa, ternyata ada yang lamarannya diterima sesuai dengan
keinginannya. Misalnya ada yang berhasrat dan meminang jabatan di Kamad Aliyah,
dan terwujud. Ada pula yang tidak sesuai dengan keinginannya, yaitu melamar
jabatan Kamad Aliyah, malah ditempat di
Tsanawiyah. Ada pula yang pasrah, dan
menyerahkan ke wali, untuk dijodohkan dengan siap saja.
Bagaimana dengan perasaan yang saya dapatka hari ini ? rasanya pertanyaan itu, lebih bersifat retoris belaka, dan tidak membutuhkan jawaban. Hal yang terpenting untuk dikomentari, selaras dengan hasil penglihatan terhadap kondisi lingkungan sekitar, khususnya dalam kaitannya dengan masalah pernikahan, ternyata, masalah utama itu bukan dengan siapa kita berjodoh, dan kapan kita dinikahkan, namun terkait dengan apa yang kau lakukan setelah pernikahan ???
Apa masalahnya ?
Kembali lagi, bila imajinasi kita, hendak memanfaatkan peristiwa pernikahan
atau perjodohan ini, sebagai analogi dalam pekerjaan ini, maka akan ada empat
pola perkawinan dalam kehidupan ini. Siapapun kita, dan pekerajaan apapun yang kita
lamar (apakah guru, kepala madrasah atau tenaga kependidikan), tampaknya akan berada pada salah satu posisi di empat pola
kehidupan yang terjadi pada orang tersebut.
Pertama, pola nyalidung ka gelung, atau berlindung kepada pasangan. Madrasah sudah bagus, sudah berprestasi, sudah memiliki citra yang baik, kemudian kita melamar kerja di situ, dan diterima. Alhamdulillah. Tetapi, manakala kita tidak mampu menunjukkan kinerja yang baik, dan hanya sekedar numpang hidup, dan numpang keren saja, maka tidak ubahnya dengan seorang lelaki yang memiliki istri cantik, kaya raya, sementara dirinya menganggur atau tidak ada kontribusinya !!
Untuk kasus serupa ini perlu hati-hati. Kata pepatah, ”cantiknya istri
sebelum menikah, itu adalah natural, tetapi cantiknya istri setelah menikah
adalah perawatan dan pelayanan dari pasangan”. Sebaliknya dari itu, ”jika istri
cantik sebelum menikah, adalah natural, dan kemudian keriput setelah menikah”,
berarti pasangan hidupnya yang salah urus.
Pun demikian adanya. Bila madrasah kita ini, dianggap baik, dianggap sudah berprastasi sebelum kita hadir, maka hal itu, adalah prestasi yang natural atau alamiah. Tetapi, bila bila kemudian, madrasah terus berprestasi setelah kita hadir, itu menunjukkan ada peran kita yang mampu menjaga prestasi dan meningkatkan prestasinya. Tetapi, bila kemudian prestasinya menurun, padahal sudah ada kita, maka hal itu, perlu dipertanyakan. Ada salah urus terkait madrasah itu !!!!
Kedua,
ada pasangan yang awet rajet. Menikah, iya. Sah, Iya. Tetapi, keduanya tidak
memiliki chemistry. Menikah, Iya. Sah, Iya, tetapi tidak saling peduli dan perhatian. Kasus seperti ini, disebutnya awet
rajet.
Bila saja, seorang kepala madrasah, tidak peka dan peduli kepada sekolah atau rekanan yang lainnya, pun demikian, guru dan kependidikan, tidak hormat kepada pimpinannya, walaupun mereka tetap ada satu sekolah (perusahaan), maka hal itu, tak ubahnya seperti sebuah rumah tangga yang awet rajet, atau tak karuan. Tidak terjadi perceratan, tampaknya seperti berjalan biasa saja, namun di dalam banyak masalah yang tidak terselesaikan !
Ketiga,
hati-hati dengan perempuan matre atau lalaki pangeretan. Pasangan yang matre
atau pangeretan ini, adalah pasangan yang lebih mengutamakan harta, finansial
atau kepentingan sendiri, dan tidak peduli pada pasangannya. Situasi ini,
sangat memprihatinkan.
Perhatikan dengan seksama. Dulu melamar pekerjaan untuk menjadi guru di madrasah. Setelah diterima lamarannya, malah tidak peka atau tidak peduli kepada madrasah ini. Hal yang dilakukannya, sekedar mengeruk kekayaan madrasah untuk kepentingan sendiri saja.
Sesungguhnya, jika hal itu terjadi, maka kelakuan orang itu, tidak jauh
berbeda dengan cewe matre atau lalaki pangeretan. Dia hanya ingin gaji saja, tetapi tidak
peduli dan tidak merawat keberlanjutan keluarga-bear madrasah ini.
Keempat,
ada pasangan yang beruntung. Kendati
jodoh kita biasa saja, namun dengan hadirnya pasangan itu mampu memotivasi dan
saling dukung, untuk terus saling meningkatkan kualitas hidup, maka hasilnya
akan dapat dinikmati bersama.
Apun konidis dan persepsi kita hari ini, terhadap tempat kerja kita kali ini, tetapi, bila kita semua bersemangat untuk saling support dengan yang lainnya, dan kemudian mampu membangun kesejahteraan rumahtangga madrasah kita ini, yakinkah, kesejahteraan yang kita raih bukan warisan, melainkan sebuah kinerja alamiah yang kita lakukan.
Sekali lagi, untuk jadi bahan renungan bersama. Dulu kita melamar pekerjaan
ini, setelah lamaran diterima, dan ditempatkan di madrasah ini, apa yang kita
lakukan selanjutnya ? karena seringkal masalahnya itu, ternyata soal jodoh atau kebahagiaan berjodoh
itu, bukan soal kapan menikah atau dengan siapa menikah, melainkan apa yang kau
lakukan setelah pernikahan itu terjadi !
Setelah lamaran kita di terima di tempat kerja ini, di madrasah ini, maka pertanyaan utamanya adalah apa yang kita lakukan saat ini ? bukan soal kapan kita berjodoh, atau kapan kita bermula jadi ASN/P3K-nya, tetapi apa yang kita lakukan setelah diterima di pekerjaan ini. Karena penilaian itu, bukan dari kapan kita bermulanya ASN/P3K, atau honorer, melainkan apa yang kau sudah lakukan untuk madrasah ini !!!

0 comments:
Posting Komentar