Just another free Blogger theme

Senin, 02 Desember 2013


Habis waktu karena digunakan, hilang waktu karena keterlenaan. Kehilangan jam adalah biasa, kehilangan waktu adalah kecelakaan. Hilang jam bisa diganti, hilang waktu apalah jadinya !

 Setiap orang memiliki kekayaan waktu yang sama.  Setiap orang memiliki tabungan waktu, sebanyak 24 jam perhari.Sama. jumlah itu, adalah jumlah standar deposito hidup setiap orang. Perbedaan antara satu dengan lainnya, bukan jumlah kumulatifnya, tetapi lebih mengarah pada jumlah musim yang dialaminya. Perbedaan siang malam, perbedaan musim dalam setahun, atau perbedaan cuaca  hariannya.  Untuk satu harinya, setiap orang memiiki tabungan waktu hidup yang sama. Dua puluh empat jam.
“waduh, mohon maaf, saya tidak punya waktu untuk kegiatan itu, jadi saya gak bisa hadir…” ujar seorang teman, dalam merespon ajakan teman lainnya. Perkataan itu diajukan, sekaitan dengan ajakan untuk touring bersama naik kendaraan roda dua, ke luar kota. Menurut informasi, dia memang termasuk anak muda yang rajin touring. Teman-temannya, senantiasa memberikan informasi mengenai kegiatan touring ke luar kota, walaupun belum ada perjalanan yang jauh. Untuk sementara yang paling jauh, adalah naik motor dari Bandung ke Pangandaran.
Sejak  menjadi seorang tenaga pendidik di sebuah madrasah, kebiasaan berkendaraan itu, terasa kian jarang, dan bahkan hampir terlupakan. Salah satu alasan, yang sering dikemukakannya itu, yakni tidak ada waktu. HIngga, teman-temannya memberikan apresiasi bahwa sahabat yang satu ini, sudah memiliki hobi yang baru, yaitu menggeluti kegiatan harian baru, yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya.
“gimana nih, kok kian sulit nih, main bareng?” sindir temannya. Mendengar ucapan itu, dia malah mengumbar senyum. “iya nih, aku gak punya waktu untuk itu?” kisah, keluhan, atau curhatan, orang yang seperti ini, kiranya pernah kita temukan dalam obrolan kita sehari-hari. Ungkapan dan pengakuan, kehabisan waktu itu, terungkap pula pada sebuah obrolan di ruang perpustakaan madrasah,
Sahabatku, menyimak kisah itu, saya ingin tegaskan bahwa ada perbedaan nyata antara orang yang kehilangan waktu dengan kehabisan waktu. Orang yang kehilangan waktu, adalah berlalunya waktu tanpa ada kesempatan untuk memanfaatkannya secara efektif. Tahu-tahu, waktu berlalu, Tahu-tahu sudha malam. Tahu-tahu sudah sore. Tahu-tahu sudah senja. Tahu-tahu sudah dekat ujian. Tahu-tahun sudah berusia setengah abad. Tidak sadar, tahu-tahu dirinya sudah banyak melalui sejumlah waktu tanpa banyak melakukan sesuatu  secara efektif dan produktif.
Saya teringat sebuah pepatah, yang mengatakan bahwa hilang jam bisa dicari, dan atau diganti, tetapi kehilangan waktu, tidak ada satu kesempatan pun untuk menemukan atau penggantinya.
Pada sisi lain, ada orang yang merasa kehabisan waktu. Mereka  adalah  orang tengah bersungguh-sungguh mengisi waktu dengan banyak kegiatan. Perasaan kehabisan waktu,  menunjukkan keseriusan dalam mengisi waktu dengan ragam kegiatan.  Pertanyaannya adalah apakah kegiatan yang dilakukan itu, adalah kegiatan efektif, dan produktif, sehingga bisa mewibawakan hidup dan pribadinya dalam mengisi waktu ?
Perlu ditegaskan di sini, kita tidak dilahirkan untuk menjadi orang lelah dan cape. Karena itu, isilah waktu secara efektif, dan bukan  habis waktu secara kurang bermanfaat, apalagi hilang waktu tanpa disadari.
Habis waktu karena digunakan, hilang waktu karena keterlenaan. Kehilangan jam adalah biasa, kehilangan waktu adalah kecelakaan. Hilang jam bisa diganti, hilang waktu apalah jadinya !
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar