Just another free Blogger theme

Senin, 09 Februari 2026

"gali lobang, tutup lobang.." adalah sebuah istilah yang sudah banyak di kenal di lisan masyarakat kita. Bukan hanya, karena kerap kali terjadi di tengah masyarakat, namun mungkin diperkuat pula oleh hafalan masyarakat terhadap syair lagu, yang dilantunkan H. Rhoma Irama, dengan judul serupa itu juga.


 

Gali-gali-gali-gali-gali lobang //Gali-gali-gali-gali-gali lobang // Lobang digali menggali lobang //Untuk menutup lobang//Tertutup sudah lobang yang lama//Lobang baru terbuka//Gali lobang tutup lobang//Pinjam uang bayar hutang//Gali lobang tutup lobang//Pinjam uang bayar hutang

Sikap ini, biasa digunakan untuk menunjukkan kebiasaan masyarakat, yang berusaha keras dalam membunuhi kebutuhan hidup, dan atau keinginan hidup, kendati dalam posisi kemampuan ekonomi yang terbatas.

Bagaimana dengan indikasi negara sehat ?

Tradisi atau lebih tepatnya, kebiasaan serupa ini, pada dasarnya menunjukkan ada gambaran psikologi-ekonomi yang perlu diperbaiki dengan seksama. 

Pertama, hal yang kasat mata, menunjukkan ada kebutuhan yang lebih besar dari kemampuan. Karena ada kondisi ini, kemudian terjadi dan dilakukannya gali lobang tutup lobang. Sebuah keluarga, yang memiliki pendapatan sangat minim, akan merassakan dan memaksakan diri, untuk mengambil alternatif tindakan ini.

Kedua, minimnya kemampuan diri ini, bisa berawal dari pendapatan yang kecil, pemasukan yang kecil atau dalam konteks negara yaitu Pendapata Asli yang terbatas. Bila saja, hasil ekspor lebih kecil dari impor, maka potensial terposisikan sebagai negara  dengan PAD atau GNP yang terbatas juga. 

Ketiga, ketidakmampuan seseorang atau negara, untuk membedakan antara kebutunan dengan keinginan. Program pemerintah, sejatinya  perlu didasarkan pada kebutuhan masyarakat, dan bukan keinginan-pencitraan politik. Program yang berorientasi pada keinginan pencitraan politik, akan jauh lebih besar biaya-politiknya, dibanding dengan kemampuan-ril politiknya.

Keempat, pilihan pahit dari kondisi ini, adalah mengambil pilihan pinjam utang. Negara yang sakit, adalah negara yang mengandalkan pada utang. Karena sejatinya, utang itu, bukan prestasi, melainkan wujud dari ketidakberdayaan diri, dalam menggali potensi atau menyeimbangkan kebutuhan dengan kemampuan.

terakhir, bila kita menyandarkan diri pada utang, maka itulah yang biasa dikenali dalam media sosial kita, dengan sebutan Anggaran Defisit. Anggaran defisit,secara sederhana menunjukkan kondisi ketidakseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan negara.

Bisa jadi, ada yang berargumen, bahwa rasio utang yang kita miliki ini, masih sehat, dan masih tangguh, bila dibanding dengan devisa yang kita miliki. Pandangan ini, bisa mudah dipahami. Setidaknya bila ada dua kasus keluarga.

Ada satu keluarga, yang punya utang, 100 juta, dia merasa aman karena harga aset yang dimiliki masih bisa digunakan untuk bayar utang, misalnya, karena harga jual rumah kita yang 101 juta. Kemudian, ada keluarga yang lain, yang punya utang 100 juta, dan harga jual rumah 50 juta. Namun dari kedua kondisi itu, akab menunjukkan realitas yang serupa. Jika seluruh aset milik sendiri itu dijual, maka realitas yang akan dirasakan oleh kedua keluarga itu, adalah sama, yakni BANGKRUT. Hanya saja, beda kualitas, keluarga masih ada sisa modal, namun sangat nimim, sedangkan keluarga kedua, dalam kondisi minus. Pertanyaannya, apakah, kedua keluarga itu, akan tetap merasa bangga dengan model hidup gali lobang tutup lubang, dengan indikasi nambah banyak utang ?

Bagaimana menurut pembaca ?



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar