Ketika pulang ke kampung halaman, anakku pernah mengajukan pertanyaan, "Ayah, kenapa kampung ayah, namanya Leuweunggede, tetapi tidak ada hutannya ?" sebuah kepenasaran logis, yang diajukan anak zaman kiwari.
Pertanyaan ini sederhana. Terlebih lagi, bila sekedar pada penggalan pertamanya. Dengan mudah, dijelaskan bahwa nama kampung itu, disebut demikian, karena di zaman baheula, bentangan hutan sangat mendominasi kawasan ini. Bentangan hutan yang luas itulah, yang kemudian disebut leuweung (hutan), dan gede (luas). Sekali lagi, penggalan pertama pertanyaan ini mudah untuk diberikan penjelasan, tetapi pertanyaan keduanya, sedikit butuh kernyitan dahi, untuk jawabannya "mengapa hutannya, sekarang ini, sudah tidak ada ?"
Dalam konteks inilah, pikiran akademik seorang Geografi, perlu dihadirkan, dimunculkan, dan dikedepankan. Hal itu, bukan karena ada pertanyaan itu, namun lebih mendalam dari itu, diimbuhi dengan kenyataan bahwa toponim dihadapkan pada realitas yang dinamis, dan juga ada yang bersifat antinomis (berbeda keadaannya).
Seorang Pakar Toponimi, bila berkutat pada galian-makna dari sebuah toponim tanpa memperhatikan dinamika geosfera, maka akan mudah terjebak dengan kelelahan-nalar dalam menjelaskan mengapa toponim itu. Lelah untuk menjelaskannya, dan cenderung ke arah sejarah. Hal terjadi, karena fakta hari ini, tampak sudah lebih dari satu toponim yang mengalami kesenjangan antara makna dengan kondisi geosferanya.
Toponim Leuweunggede, hanya satu diantara toponim yang mengalami kehilangan-realitas. Sejumlah nama daerah lainnya, pun, banyak mengalami hal serupa ini. Misalnya di Bandung, Rancabadak sudah tidak ada ranca dan badaknya (ranca badak _ rawa badak), Cimahi malah mengalami kekurangan air (cimahi : air yang berkecukupan), Lebak Bulus malah sudah tidak ada bulusmengalami Banjir (Cisaat _ danau yang kering), dan lain sebagainya.Kita dapat mendata (list), jauh lebih banyak lagi, sejumlah toponim yang sudah mengalami kesenjangan makna, antara konsep dengan realitasnya.
Terkait hal ini, apa yang perlu disampaikan kalangan Geografi ?
Selain pentingnya kesadaran mengenai dinamika geosfera, penelaah toponim, atau kalangan Geograf perlu mengedepankan adanya kedinamisan pula konsep-konsep Geosfera atau toponim yang disampaikannya.
Pertama, toponim, selain sebagai identitas atau karakter daerah, pun dapat dijadikan bagian penting dari rujukan-sejarah geosfera. Dari toponim itu, seseorang memiliki cantolan-historik mengenai sejarah perkembangan daerah.
Kedua, manusia memiliki kemampuan dalam melakukan rekayasa dan perubahan terhadap kondisi bentang alam. Perubahan fungsi lahan, dari struktur alami menjadi struktur-kreatif, menjadi satu keniscayaan dalam kehidupan manusia saat ini. Hal ini,sudah dangat dengan mudah kita perhatikan bersama, adanya sejumlah gejala alih fungsi lahan.
Dalam konteks keilmuan, kita mengenal konsep Antroporuntunan (Anthroposcenery) atau pandangan antropogenik. Konsep ini, digunakan untuk menggambarkan adanya kondisi bentang alam yang seluruh strukturnya telah diubah, ditandai, dan didominasi oleh jejak aktivitas destruktif maupun konstruktif peradaban manusia, sehingga tidak ada lagi unsur alam yang murni terisolasi. Karena ada kepentingan itu, maka Rancabolang di Kota Bandung, pun, ubahsuaikan namanya menjadi Margahayu Raya.
Ketiga, manusia sebagai aktor domina dalam ekologi, memiliki keleluasaan imajinasi untuk melakukan perubahan dan penataan ruang. Tindakan manusia itu, ada yang bersifat konstruktif dan tidak jarang pula yang bersifat destruktif. Dengan modal kreativitas yang dimilikinya, manusia memiliki ruang terbuka untuk membuat konsep-konsep baru, dalam memberikan nama ruang geosfera yang ditempatinya.
Keempat, penulis malah berkeyakinan, kenampakkan geosfera hari ini dan ke depan, akan jauh lebih didominasi oleh bentangan budaya daripada bentang alam. Kawasan gurun bisa diubahsuaikan menjadi kawasan rimbun nan hijau, dan begitu pula dengan kawasan hutan alami menjadi hutan-kreasi. Kecanggihan tekonologi abad modern ini, memiliki kuasa untuk merekonstruksi ekologi sesuai dengan imajinasi-geografi manusia modern. Sehubungan hal itu maka toponim di era modern, adalah eksplorasi makna sesuai imajinasi maniusia modern mengenai bentang-kreativitasnya itu sendiri.
Terakhir, seiring dengan fenomena inilah, maka peluang muncul dan berkembangnya gejala distoponim, menjadi sesuatu hal yang niscaya terjadi. Distoponim, yang kita gunakan ini, adalah adanya (1) kesalahan penggunaan konsep untuk menggambarkan fenomena geosfera, dan (2) ada perubahan karakter bentang alam, sehingga menyebabkan adanya keterbalikan kondisi alam dengan makna literal konsep tersebut. Perubahan karakter alam itu, bisa disebabkan karena bencana alam, atau ulah tangan manusia itu sendiri.
Apa implikasi dari pemikiran itu ? bila dibiarkan adanya, maka toponim akan sekedar menjadi ingatan-sejarah, dan/atau pada sisi lain, ada upaya sadar manusia untuk mengubah nama daerah dengan imajinasi geografi terkini, yang dimilikinya.
Bagaimana menurut pembaca ?
.png)
0 comments:
Posting Komentar