Realitas tetap hadir dalam kehidupan kita. Apapun makna realitas itu sendiri. Entahlah disebut realitas-faktual fisik, realitas sosial, realitas politik, realitas ekonomi, realitas virtual, atau hiperrealitas. Terserah, dan silahkan saja, semua orang memilih satu atau lebih dari makna realitas itu sendiri.
Saya tidak akan memusingkan kategori, konsep atau definisi yang akan dianutnya. Karena point penting yang hendak disampaikan itu, adalah siapa yang ada dan mendominasi ruang realitas itu, dan kemudian, siapa yang mengalami posisi termarginalisasikan. Inilah soalan kita hari ini.
Untuk sekedar contoh. Entah apa maksud dan arah pembicaraannya. Gemba bumi dan atau kebakaran hutan, malah dikaji dari teori konspirasi. Seperti halnya, dulu, saat ada gempa dan tsunami Aceh, tidak sedikit orang menyakini adanya teori konspirasi. Bencana alam itu, diyakini, bukan karena gejala alam atau penyebab alam, melainkan karena ada rekayasa tekonologi oleh negara adikuasa.
Saya termasuk orang yang tidak alergi dengan sudut pandang beragam, dan untuk dijadikan bahan pembicaraan. Termasuk bila kemudian, bila ada yang mencoba menyambungkan kejadian bencana alam akhir-akhir ini di Indonesia dengan teknologi konspirasi serupa ini.
Namun pertanyaannya, akankah ilmuwan-murni, mampu memberikan opini yang dominan terhadap kasus serupa ini ? maksudnya, apakah ilmuwan murni, hanya berdiam diri, dan atau turut terjebak dengan teori konspirasi yang cenderung kualitatif ?
Pertanyaan lain yang sebanding. Bukankah, akademisi di negeri ini pun, tidak kekurangan ? gejala alam, seperti halnya gempa dan tsunami Aceh, atau letusan Anak Karakatau kali ini, adalah sesuatu yang bersifat faktual dan fisikawi ? akankah, nalar kita mengalami kesulitan untuk melakukan deteksi ilmiah dan akademis terhadap gejala alam itu, dan atau malah terjebak pada narasi kualitatif semata ?
Pertanyaan inilah, yang kemudian, menuntun penulis, untuk sampai pada salah satu halte perjalanan intelektual bangsa kita. Halte itu, bernama kematian kaum akademik (The End Academicus). Mengapa pertanyaan ini muncul ?
Pertama, adanya indikasi, narasi lebih dikuasai buzzer (siapapun dia, dan siapapun yang mengendalikannya), dibanding kaum intelektual. Bahkan, kaum intelektual cenderung menghindar untuk berbenturan dengan buzzer.
Kedua, buzzer itu ada di dunia maya. Dengan kata lain, dunia maya jauh lebih dominan daripada dunia nyata, Kaum intelek dibalik layar lebih mampu memainkan peran dan pengaruhnya, daripada dunia nyata. Para akademisi, mundur ke belakang dan duduk dibalik mimbar, dengan narasi yang tetap tertuang dalam naskah akademiknya, untuk disimpan di scopus atau perpustakaan digiltal kampusnya sendiri.
Ketiga, andaipun bersuara, suaranya bersifat solo-vokal. Narasi akademik, seakan berdiri sendiri, dan tidak ada rekanan lainnya. Sehingga, sangat mudah dihentikan oleh para pendengung yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan.
Stop dulu. Apakah kita anti buzzer ?
Tentu saja, yang kita maksudkan adalah kelompok orang yang kerap kali melakukan penyerangan pribadi, dan emosional, tanpa argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan, baik secara hukum maupun ilmiah. Kalau, dua sarat ini, minimalnya demikian adanya, maka siapapun yang bersuara, kendati masuk dala kategori buzzer, tentu tetap untuk diperhatikan !!!
Keempat, akademisi cenderung mencari isi dompet dari projek penguasa. Menjadi akademisi stempel, bisa jadi, pilihan posisi yang paling aman, dalam situasi serupa ini. Pengumpul data, pengolah data, dan manipulasi argumentasi, sehingga data penelitian sesuai dengan kebutuhan penguasa. setelah itu, kita akan mendapakan cuan, setelah melakukan pekerjaan tersebut.
bila saja, rangkaian soalan serupa itu, sudah mampir dalam diri kita, dan menjadikan kita nyaman dengan situasi serupa itu, maka tidak salah bila kemudian, era ini disebut sebagai era kematian akademisi.
Sekali lagi, apa realitas yang dikonstruksi ini, lebih merupakan realitas-konseptual yang dikonstruksi secara subjektif oleh penulis, yang kerap kali dihantui kekhawatiran yang berlebihan mengetani situasi dan kondisi kehidupan yang ada dihadapan mata ini ? atau, tuturan ini, merupakan realitas faktual, yang tidak banyak disadari oleh banyak pihak ?
eeee.....maaf, jangan terburu-buru, bernafsu untuk membunuh kaum akademisi. Eh, mengapa ? ya, sebab, jangan-jangan kaum akademik memang sudah melakukah hara kiri atau bunuh diri massal.
0 comments:
Posting Komentar