Just another free Blogger theme

Sabtu, 05 September 2026

Ada cara lain, dalam menjelaskan fenomena yang tengah terjadi, pada masyarakat Kota Bandung, pada tempo hari itu. Suara gemuruh, yang terdengar di malam hari. Sabtu dini hari.



Pada tulisan sebelumnya, menggunakan konsep gempa-langit. Konsep itu, lebih terkait pada fenomenanya. Atau gejala yang aktual terasa, dan dirasakan oleh masyarakat, pada saat itu. Kalangan ilmuwan menggunakan konsep gempa-langit.

Tetapi, ternyata, dengan memanfaatkan konsep itu saja, tidak cukup. Dibutuhkan ada konsep lain, yang bisa menjelaskan lebih kritis, terkait mekanisme terjadinya gempa langit itu sendiri. Konsep itulah, yang kemudian dikenali dengan adanya ruang akustik di langit Bandung.

Kembali pada pertanyaan terdahulua ? apa yang sedang terjadi di Bandung, malam itu ?

Suara gemuruh. Tetapi, tidak ada data, getaran gempa bumi, yang terjadi di sekitar Bandung. Berarti, tidak ada kaitannya, dengan sesar atau lempengan atau gunung api yang ada di sekitar Bandung. 

Lantas, mengapa ada suara gemuruh di Bandung, di malam itu ? 

Itulah yang disebut orang, gemuruh yang terjadi di atmosfer atau langit. Dini hari itu, gemuruh terjadi di langit Bandung. 

Pertanyaan selanjutnya, mengapa hal itu terjadi di Bandung, tetapi di sejumlah kota sekitarnya, tidak terasa atau tidak terjadi ? 

Di sinilah, informasi sains, yang perlu dicermati dengan seksama.

Meminjam ilustrasi yang disampaikan Daryono, suara itu atau getaran langit itu, atau skyquake itu, terjadi di lapisan troposfera. Lapisan tempat terjadinya gejala cuaca, atau lapisan terbawah, dari struktur atmosfer bumi. 

Getaran akustik akibat letusan gunung api tidak selalu merambat lurus dari sumber menuju pendengar. Letusan menghasilkan gelombang berfrekuensi rendah yang dikenal sebagai infrasound. Gelombang ini dapat merambat sangat jauh karena lintasannya dipengaruhi oleh struktur atmosfer, terutama perubahan temperatur dan pola angin menurut ketinggian.

Dalam kondisi atmosfer tertentu, gelombang infrasonik dapat mengalami refraksi dan kemudian terkanalisasi dalam apa yang disebut atmospheric duct. Jalur perambatan ini dapat terbentuk di wilayah troposfer maupun stratosfer. Karena itu, tidak tepat jika dikatakan bahwa gelombang harus selalu merambat tepat di sekitar tropopause. Tropopause memang dapat menjadi bagian penting dari struktur atmosfer, tetapi bukan satu-satunya “jalur” bagi gelombang infrasonik.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa suara letusan tidak selalu terdengar merata di sepanjang perjalanan. Gelombang dapat mengalami pembiasan ke atas, kemudian kembali membelok menuju permukaan pada jarak tertentu. Di antara sumber dan wilayah tempat gelombang kembali mencapai permukaan, dapat terbentuk acoustic shadow zone, yaitu wilayah yang menerima energi infrasonik jauh lebih lemah.

Dalam konteks dentuman yang terdengar di Bandung pada malam 5 September 2026, mekanisme semacam ini menarik untuk diperhatikan. Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menghasilkan energi akustik yang dapat merambat melalui atmosfer. Kondisi temperatur dan angin pada saat itu kemudian dapat menentukan jalur perambatan gelombang tersebut.

Bentuk topografi yang dikelilingi pegunungan dapat memengaruhi bagaimana gelombang diterima dan didistribusikan di wilayah lokal. Namun, menyebut Cekungan Bandung secara pasti sebagai “resonator alami” masih membutuhkan bukti pemodelan akustik yang lebih khusus. Istilah yang lebih aman adalah bahwa topografi Cekungan Bandung dapat menjadi salah satu faktor yang memodifikasi propagasi dan penerimaan gelombang infrasonik.

Dengan demikian, fenomena dentuman Bandung tidak harus dipahami sebagai suara yang “meloncat secara ajaib” dari Anak Krakatau ke Bandung. Ia lebih tepat dipahami sebagai perjalanan gelombang infrasonik melalui atmosfer yang bertindak sebagai sistem gelombang tiga dimensi: mengalami pembiasan, ducting, kemungkinan membentuk zona bayangan, kemudian diterima kembali di wilayah yang kondisi atmosfer dan topografinya mendukung.

-o0o-

diolah dengan bantuan AI 

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar