Just another free Blogger theme

Minggu, 04 Oktober 2026

Untuk membangun kekuatan kerjasama, ada  hal kecil yang kerap diabaikan. Pengakuan. Memberikan pengakuan, adalah bentuk lain dari upaya sadar untuk memperkuat kerjasama, solidaritas, dan nilai kebersamaan. Tanpa ada pengakuan, setiap orang akan merasa jauh, dijauhkan dan terjauhkan, atau bahkan merasa tidak ada.



Adakalanya, seseorang itu memiliki kemampuan lebih dan  juga memiliki kemauan lebih. Namun, karena merasa tidak diakui, maka seluruh hal yang ada dalam dirinya itu, tidak muncul dan tidak dimunculkan. Mereka lebih suka menutup diri, dan menjaga jarak dengan orang lain, termasuk dalam konteks kelembagaan.

Satu waktu, melakukan pemanggilan. "Kaka, Aa, ayo kita shalat.." ajakku, kepada dua anak laki, yang kelihatannya masih saja santai. Bersantai ria dengan hobinya sendiri. hobi anak mudah di zaman kekinian. Gadget. Kalau tidak diingatkan, para orangtua pasti paham. Mereka akan diam, berlama-lama, sampai lupa banyak hal, termasuk kewajiban ibadah atau memenuhi kebutuhan jasmaninya sendiri.

"kok, aku gak dipanggil.." ungkap anakku yang paling bungsu. Dia masih anak SD, kelas 3. Ada di depan mata, sedang duduk santai. Dalam benakku, dia tidak perlu dipanggil, karena sudah ada disekitaran, dan sudah menunjukkan kesiapan untuk melakukan aktivitas rutin keluarga di sore itu. Berbeda dengan dua kakaknya, yang masih ada di kamar masing-masing dan masih melakukan aktivias pribadinya.

Mendengar permintaan yang bernuansa protes itu, membuat yang lain kaget. Iya maksudnya, membuat kaget kedua orangtuanya. Tersentak dan tersadarkan. Sebuah pertanyaan dari anak mungil, yang juga mengandung makna protes kepada orangtuanya, yang dianggapnya memberikan perlakuan berbeda antara dirinya, dan dua kakaknya yang lain. 

Pertanyaan dan protes serupa itu, bisa jadi, dapat dianggap sebagai satu kewajaran. Namun, dibalik itu semua, ada permasalah krusial yang bisa terjadi di setiap tempat. Permasalah yang kita maksudkan itu, adalah masalah pengakuan. 

Hakikat dari pengakuan itu sendiri, sejatinya, bisa merentan dalam 5 makna yang saling menggenapkan. Pertama, secara eksistensial, pengakuan adalah penghargaan terhadap keberadaan seseorang. Orangitu ada. Ada bukan sekedar fisik, tetapi ada pula secara fungsi dan kebermanfaatan. Pengakuan adalah wujud kesadaran, terhadap keberadaan seseorang.

Kedua, secara politis, pengakuan adalah bentuk penghargaan kesamaan derajat. Pemanggilan atas satu orang, dan melupakan orang lain, bisa dimaknai diskriminatif. Sedangkan, menyampaikan pemanggilan secara personal, hanya pada beberapa orang saja, adalah bagian dari pembedaan. Oleh karena itu, bila hendak melakukan pemanggilan secara umum, sehingga tidak ada yang merasa tidak terpanggil, maka lakukan dan gunakan dengan nama panggilan umum. Misalnya, "hai, anak-anakku, ayo...". Pemanggilan serupa ini, merupakan bentuk kesamaan dan kesederajatan.

Ketiga, secara psikologis, pengakuan adalah penghargaan. Ketika dipanggil secara personal, seseorang akan merasa terhormat, diakui dan dihargai. Orang yang dipanggil secara personal, akan merasa diakui, dan terhormat. Sementara orang lain yang mendengarkannya, akan mengartikan penyebutan personal itu, sebagai bentuk keistimewaan.

Keempat, secara sosial, pengakuan adalah menunjukkan ikatan lebih dibanding yang lainnya. Pada saat, seseorang dipanggil nama personalnya, sementara orang lain, tidak dipanggil serupa itu, hal ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan kualitas jarak sosial. Orang yang dipanggil dengan nama personal, menunjukkan jarak sosial yang lebih dekat, dibanding dengan mereka yang tidak dipanggil secara personal.

Terakhir, tentu saja, pengakuan merupakan wujud  pengkhususan. Pengkhususan, bisa dalam pengertian positif maupun negatif. Dengan menyebutkan nama personal, menunjukkan kasus tertentu, memiliki ikatan yang dekat dengan orang yang disebutnya.

"banyak koruptor di negeri kita, misalnya, Edy Tansil dan Gayus Tambunan..". Penyebutan nama tersebut, memberikan kesan bahwa kedua tokoh itu, menjadi ikon korup yang melekat pada penulis, dan juga menjadi bahan pembicaraan di masyarakat. Tentu saja, orang akan memberikan catatan, mengenai kelebihan dari tindak kejahatan korupsi kedua orang itu, dibanding dengan koruptor lainnya, yang tidak tersebutkan. Hal minimalnya, memberikan gambaran bahwa kedua orang itu, kasus dan kejadiannya sangat melekat dalam ingatan masyarakat.

"Indonesia pernag memiliki pejabat hebat, seperti  Mari'e Muhammad dan BJ Habibie..." Adalah penyebutan nama personal yang memiliki kesan luar biasa dalam ingatan publik.  Penyebutan ini, memiliki makna kekhususan karakter orang, dalam ingatan penulisnya, dan juga masyarakat pada umumnya.

Berdasarkan pertimbangan itu, kita dapat memberikan catatan bahwa pengakuan merupakan gejala sosial dan kelembagaan yang sangat penting. Penting bukan saja untuk penguatan organisasi, tetapi juga untuk menjaga pola komunikasi antar anggota dalam organisasi.

Semoga demikian !  


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar