Just another free Blogger theme

Jumat, 08 Mei 2026

"kita harus tahu posisi...", ungkapnya. Seorang bawahan yang terlalu kritis, dan bahkan mengganggu kenyamanan pimpinan, tidak akan mendapatkan posisi yang terbaik dalam karirnya. 


Ungkapan itu, disampaikan seorang senior, yang merasa sudah mencapai posisi terbaik dalam perjalanan hidupnya. (terbayangkan, kan..? dia itu senior, penulis adalah junior, padahal usia penulis pun demikian adanya)...hihihi.

Sejumlah keberhasilan, sebagaimana diklaimnya, sudah dia dapatkan. Gelar akademik sudah sampai pada puncak. Status sosial, sudah ada pada sampai puncuk, sebagaimana yang diharapkan. Sejumlah usaha pendidikan, sudah dia miliki. Mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini, sampai perguruan tinggi. Bahkan, klaimnya, sudah pula memiliki sejumlah lembaga perguruan tinggi di beberapa daerah di Jawa Barat.

Dengan pengalaman segudang itu, yang kemudian dipersepsinya sebagai bagian dari keberhasilan hidupnya, dengan penuh percaya diri memberikan argumentasi dihadapan anak muda lainnya. Salah satu pernyataan  yang mengundang kepenasaran kita, adalah "kau harus tahu posisi", ungkapnya, "pimpinan kita, tidak akan merasa nyaman, bila ada yang berusaha untuk mengganggu eksistensinya...".

Pandangan itu, dia sampaikan, dengan penuh kehati-hatian, namun auranya sangat menegaskan posisi hidupnya. Bisa jadi maksudnya, memberikan nasihat, dengan penuh harapan, sejumlah orang yang ada dihadapannya, bisa menerima nasihat itu, dan mampu meraih posisi dan perjalanan karir yang baik, dan terbaiknya.

Setiap orang ingin dihargai, pun demikian adanya, dengan seorang pemimpin. Dia itu manusia, normal, seperti yang lainnya.  Dengan posisi yang dimilikinya, dia akan berusaha keras untuk mempertahankan status dan kewibawaan kepemimpinannya. Satu diantara tantangan itu, adalah mendapatkan simpati dan dukungan dari bawahannya.  Karena itu,  manakala ada bawahan yang kritis,  bahkan, seakan-akan mengkritisi pemikiran dan kebijakannya, maka, kenyamanannya sebagai pimpinan akan terganggu.

Untuk beberapa kasus, dia  mengatakan, "saya juga, sebagai pimpinan, akan merasakan sakit, kalau ada bawahan yang menentang, atau mengkritisi dengan seenak udelnya sendiri.."  tuturnya. Pengalaman itu, normalnya seorang pemimpin, akan dijadikannya sebagai bagian pertimbangan untuk menentukan tim, atau proses pangkaderannya.

Maka dari itu pula, dalam situasi seperti ini, seorang pemimpin akan berusaha untuk mencari cara, bagaimana dia bisa nyaman mengendalikan kekuasaannya, dan tidak mendapatkan gangguan dari kelompok kritis ini. Program kerja, yang merupakan penerjemahan dari visi dan misinya, akan disalurkan kepada kelompok pendukungnya, dan atau partisannya.  Hal itu, mereka lakukan, dengan maksud dan harapan, supaya program nyata dari kepemimpinannya dapat berjalan dengan lancar, tanpa ada hambatan sesuatu apapun.

Dampak nyata dari kebijakannya itu, maka jelas, bahwa kelompok orang yang tidak setuju, dan atau kritis,  atau menolak agenda penguasa itu, tidak akan mendapatkan kuota projek dimaksud. Kondisi ini, sangat jelas dan mudah dipahami. Penguasa tidak mungkin mau berjudi dengan menyerahkan projek yang dikritisi oposan itu, untuk dijalannya.  Seorang pemimpin akan mengeluarkan kunci-kepemimpinannya, yaitu memilih alternatif lain, yang dianggap bisa mengamankan program atau visi-misinya.

Alur berpikir seperti ini, menjadi mudah dipahami. Bila saja, di masyarakat, ada fenomena bahwa seluruh konstituen atau partisan, atau pendukung penguasa mendapat projek basah, sedangkan kelompok di luar itu, entah karena mengkritisinya, atau tidak diketahui keberpihakannya, tidak akan mendapatkan satu rupiahpun dari projek sang penguasa tersebut.

Tentu saja. Sangat rugi. Bila kita tidak melakukan kritik yang terbuka, tetapi kemudian, dianggap memiliki keberpihakan kepada oposan. Maka, mau tidak mau, peluang untuk maju, akan tersendat, karena ada persepsi satu golongan dengan oposan atau kelompok kritis tersebut. Pada ujungnya, yak itu, tadi, tidak mendapatkan projek dari penguasa.

Logika serupa itulah, yang kemudian menyeret sang senior itu, memberikan pandangan bahwa menjadi bawahan yang melek program itu, perlu, tetapi frontal atau terlalu frontal terhadap pimpinan, akan menjadi masalah besar, bagi karir di strukturalnya, di masa depan.

Tentu saja, kesimpulan itu, penuh dengan catatan. Misalnya, ditambahi dengan catatan, "sepanjang penguasa itu, masih duduk di posisi sekarang ini..". Artinya, bila besok lusa terjadi rotasi jabatan, maka kisahnya akan lain lagi. Hanya, saja, apakah hukumnya akan berlaku demikian terus ?

"Hukumnya mungkin akan berlaku", ungkapnya, "saya yakin, hal itu akan terjadi, karena dimana pun, seorang pemimpin akan memiliki kebutuhan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan posisinya...".  Simpul kata, kita sebagai bawahan, harus tahu posisi. Kesadaran itu sendiri, yakni sadar posisi ini, bukan  untuk kepentingan orang lain, melainkan untuk kepentingan diri kita sendiri.

Sampai pada level pemikiran ini, apakah ide dasar ini, adalah bagian penting dari proses kooptasi lawan politik, atau oposisi oleh sang penguasa ? atau, logika serupa ini, adalah juga bagian penting dari proses lobi politik dan juga kualitas dari politik transaksional ?

O, iya dalam bahasa Sunda itu, ada beberapa peribahasa yang perlu dijadikan bahan renungan. Pertama, ada peribahan "Kudu ngukur ka kujur, nimbang ka awak". Artinya: Harus bisa mengukur dan menimbang segala sesuatu sesuai dengan keadaan dan kemampuan diri sendiri. Atau, "Nalipak manéh". Artinya: Secara harfiah berarti menendang diri sendiri, namun maknanya adalah introspeksi atau sadar akan kekurangan dan batas kemampuan diri agar tidak melampaui batas.

Rasa-rasanya, peribahasa itu, memiliki pesan moral yang tidak seratus persen mendukung pada argumentasi di atas.  Peribahasa itu, bukan untuk kepentingan strategi kooptasi atau oprtunis, melainkan untuk membangun kehati-hatian dalam mengambil keputusan. Karena itu, kendati seakan-akan mengarah ke logika itu, namun pesan moralnya adalah pentingnay kehati-hatian (kritis) dalam mengambil keputusan, dan hendaknya disesuaikan dengan kondisi atau sadar kondisi, bukan sekedar sadar posisi !.  

Bagaimana menurut pembaca ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar