Just another free Blogger theme

Kamis, 18 Januari 2024

 Seorang muslim, di setiap harinya berharap mendapat petunjuk dari Allah Swt. Setidaknya, hal itu ditunjukkan dengan pelantunan ayat dalam surat al-Fatihah, ayat 6-7.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ ٧ ( الفاتحة/1: 6-7)

Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,  (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat. (Al-Fatihah/1:6-7)

Tetapi memang, masih banyak pula, umat Islam yang gamang, dan tidak mengetahui jalan petunjuk tersebut. Banyak yang masih belum paham, model hidayah yang Allah Swt sediakan, sehingga memudahkan manusia untuk mendapatkan, merasakan, dan menjalankannya.


Menggunakan penalaran terbalik atau kebalikannya, setidaknya kita mendapatkan inspirasi mengenai orang-orang yang tidak akan mendapatkan petunjuk (hidayah) dari Allah Swt. Pertama, yaitu membeli kesesatan dengan petunjuk (hidayah). Seperti yang terungkap dalam firman Allah Swt :

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الضَّلٰلَةَ بِالْهُدٰىۖ فَمَا رَبِحَتْ تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ ١٦ ( البقرة/2: 16)

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka, tidaklah beruntung perniagaannya dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.  (Al-Baqarah/2:16)

Kesan yang bisa ditangkap dari firman Allah Swt ini, bahwa ada indikasi adanya manusia yang lebih memilih kesesatan daripada petunjuk Allah Swt. Atau, ada pula indikasi bahwa mereka meninggalkan kebaikan, demi mendapatka sesuatu yang buruk. Misalnya, untuk mendapatkan kekayaan yang  melimpah, dia melupkan komitmen dan nilai integritas, untuk memilih sikap korup. Sikap yang terakhir itu, sama dengan membeli kesesatan dengan petunjuk.

Bila tradisi serupa ini, terbiasa dan dibiasakan, hukum-spiritualnya sangat tegas, yakni mereka bukanlah orang yang mendapatkan petunjuk, dan sikap mereka itu adalah bentuk perniagaan yang sangat buruk, dan tidak menguntungkan.

Kedua, perilaku yang  menyebabkan seseorang tidak mendapat petunjuk adalah melakukan tindak criminal kepada anak kandung sendiri. Dalam firman Allah Swt ada pesan :

قَدْ خَسِرَ الَّذِيْنَ قَتَلُوْٓا اَوْلَادَهُمْ سَفَهًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّحَرَّمُوْا مَا رَزَقَهُمُ اللّٰهُ افْتِرَاۤءً عَلَى اللّٰهِ ۗقَدْ ضَلُّوْا وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ ࣖ ١٤٠ ( الانعام/6: 140)

Sungguh rugi orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan tanpa pengetahuan dan mengharamkan rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka dengan (semata-mata) membuat-buat kebohongan terhadap Allah. Sungguh, mereka telah sesat dan tidak mendapat petunjuk.  (Al-An'am/6:140)

Tiga kesalahan manusia yang menyebabkan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah Swt, dan masuk ke jalan yang sesat, yaitu (1)  membunuh anak karena kebodohan, (2) mengharamkan rezeki kepada anak-anak, dan (3) melakukan kebohonan kepada  Allah Swt.

Ibnu Katsir memberikan keterangan untuk ayat ini, bahwa sesungguhnya telah merugilah orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, mereka merugi di dunia dan akhiratnya. Adapun di dunia, mereka akan merasa kehilang­an anak-anak mereka karena mereka sendiri telah membunuhnya, dan mereka mempersempit diri mereka sendiri dalam harta mereka karena mereka telah mengharamkan banyak hal yang mereka ada-adakan sendiri yang akibatnya mencekik leher mereka sendiri. Adapun di akhirat, mereka akan menghuni tempat yang paling buruk disebabkan kedustaan mereka terhadap Allah dan hal-hal yang mereka ada-adakan sendiri.

Terakhir, rujukan yang dapat kita diskusikan di sini, yaitu firman Allah Swt yang berbunyi :

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَاَنْ لَّمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُوْنَ بَيْنَهُمْۗ قَدْ خَسِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِلِقَاۤءِ اللّٰهِ وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ ٤٥ ( يونس/10: 45)

(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (seperti ketika) mereka (sejenak) saling mengenal di antara mereka (setelah dibangkitkan dari alam kubur). Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk.  (Yunus/10:45)

Firman Allah Swt ini, cenderung menusuk pada aspek Aqidah, yakni terkait keimanan kita terhadap momen pertemuan dengan Allah Swt. Menurut ayat ini, orang yang mendustakan petemuan dengan Allah Swt, maka mereka itu masuk kategori rugi, dan juga bukanlah orang yang mendapatkan petunjuk.

Kesimpulan umum dari kumpulan firman Allah Swt ini, memberi pesan kepada kita, bahwa untuk mendapatkan petunjuk dari Allah Swt (hidayah) maka perlu dibiasakan istiqamah pada kebaikan, tidak mengada-ngada dalam perilaku harian, dan mengimani akan masa pertemuan dengan Allah Swt.

Wallahu ‘alam bi showwab.

 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar