Just another free Blogger theme

Rabu, 24 Januari 2024

Pernah melakukan kegiatan hiking ?

Iya, betul, kegiatan mendaki gunung. Aktivitas ini, biasa dilakukan banyak orang, anak muda, atau atau kalangan tua. Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan petualangan, dan hiking, kegiatan ini akan menjadi kegiatan rutin dalam hidupnya. Kegiatan hiking, adalah kegiatan yang indah, menyenangkan, dan menggairahkan. Pastinya, kita, semangat untuk menjalani kegiatan seperti ini.



Untuk bisa menempuh perjalanan pendakian, seorang pejalan, akan menentukan lokasi perencanaan dan titik keberangkatan. Di sinilah, seni dan ilmu perjalanannya.

Apa makna pengalaman ini, dengan praktek diri sebagai seorang therapis, atau seorang pendidik, atau seorang komunikator sosial di tengah masyarakat ? adakah pengalaman seperti ini memberikan inspirasi positif bagi kita ?

-0o0-

Satu hari saya berbincang-bincang kecil dengan mahasiswa calon psikolog atau therapis. Kemudian, dia mengajukan pertanyaan, "pendekatan apa yang bisa dilakukan, saat seorang therapis berhadapan dengan orang yang lebih tinggi usia atau kehormatannya ?"

Lucu memang. Pada dasarnya, seorang therapis akan berhadapan dengan orang baru, yang belum tentu kita tahu, status sosial, status ekonomi, umur atau jabatannya. Kita tidak akan tahu mengenai hal itu. Data-data itu, akan diketahuinya, manakala kita sudah melakukan interview atau anamnesis dengan mereka. Sedangkan, bila tidak lakukan wawancara atau pengenalan identitas, maka seorang therapis tidak akan pernah tahu mengenai identitas calon klien tersebut. 

Bagaimana menghadapi hal serupa itu ?

Di sinilah, perbincangan kita ini, sampai pada satu titik-simpul yang menarik, dengan mengembangkan pola penalaran dan pendekatan hiking. Bagaimana praktek ini dilakukan ?

Pertama, kita menerapkan asumsi dan keyakinan, bahwa setiap orang akan butuh pengakuan, penghormatan dan pengagungan. Oleh karena itu, anggaplah seseoang seperti gunung, disaat kita belum melakukan perjalanan. Anggaplah posisi kita masih dibawah kaki gunung, dan menatap keanggunan, keagungan dan kebesaran gunung. "gunung itu, masih tampak menjulang tinggi..!"

Kedua, lakukan perjalanan secara perlahana. Maksudnya, lakukan diskusi atau dialog secara perlahanan. Perjalanan dialog ini, dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk mengetahui dan mengenali identitas, karakter dan masalahnya. Perjalanan inilah, yang menaikkan posisi kita, dari seseorang yang dibawah kaki gunung, kemudian merangkak ke badan-gunung untuk naik dan naik terus.

Tidak mesti diungkapkan posisi kita di mana. Tetapi, biarkan terus mengalir, bahwa posisi dan perjalanan seorang therapis, dari menggali dari bawah merangkak naik statusnya menjadi 'mitra'. Di sinilah, kesetaraan status-ego mulai dihadirkan.

Ketiga, seorang klien mengeluhkan kasus, masalah atau problema hidupnya.  Moment ini menjadi moment evolusi, bahkan revolusi identitas seornag therapis. Semula dia ada berada di bawah kaki gunung, maka saat keluhan klien itu muncul dan berkembang, status therapis sudah berada mendekati puncak.

Seorang therapi harus tetap menjaga kehormatan klien, dengan maksud supaya mereka masih bisa tetap mencurahkan masalahnya secara terbuka dan jujur. Dalam situasi itu, Therapis akan mendapatkan kesempatan memetakan masalah-masalah yang dihadapi kliennya.

Terakhir, bila curahan sudah lengkap, dan menemukan titik problema yang jelas dan tegas, maka therapis dapat langsung memosisikan diri sebagai seorang therapis yang kreatif dan solutif serta bisa memecahkan masalah kliennya.

Bila sudah sampai di sini, maka posisi therapis pada dasarnya sudah ada dipuncak gunung, dan sudah menaklukkan ego klien. Klien mendapatkan makna dari curahan jujurnya, dan therapi mendapatkan makna penemuan perjalanan ego menuju pola komunikasi yang tepat dengan kliennya.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar