Just another free Blogger theme

Jumat, 26 Januari 2024

Selain hiking, mungkin, jalan santai bersama, menjadi sebuah pilihan. Dalam jantai santai bersama ini, tidak ada aturan baris berbarisnya, atau tidak ada aturan kapan mulai, kapan berakhir, dan darimana titik mulai, atau di mana titik pemberhentian. Semua hal itu, hampir dipastikan tidak ada. Hal yang ada, adalah semangat-kolektif antar peserta untuk menjaga dan meraih kebugaran. Hanya itu. Tidak lebih, dan tidak kurang.


O iya, pernahkah kalian melakukan jalan santai seperti ini ?

Sudah tentu. Memang ada jalan santai yang dilombakan, sehingga, sejumlah peraturan yang tadi disebutkan itu, tampak formal dan berlaku. Sementara, sebagian besar jalan santai yang lainnya, sifatnya sukarela. Seperti yang dialami dan dirasakan oleh beberapa orang, anggota warga di kompleks perumahan, atau pedesaan.

Dulu waktu di kampung halaman, pernah dan terbiasa melakukan jalan santai atau olahraga pagi. Keliling desa, dan --biasanya berujung di pasar, sambil belanja, sehingga pulang jalan santai dapat oleh-oleh belanjaan untuk masak di hari itu. Itu pengalaman di masa lalu.

Kalau sekarang ? ya, mungkin tidak jauh dari itu..

lha, apa inspirasinya bagi praktek therapis ?


-o0o-

Ini bukan teori. Paparan ini sekedar eksplorasi inspirasi dari pengalaman diri melaksanakan jalan santai. Eh, maksudnya, uraian atau paparan ini lebih dari sekedar mencurahkan pengalaman, semoga dapat dijadikan cerminan dalam melakukan praktek therapi atau membimbing peserta didik dalam konteks pendidikan.

Pertama, dalam batasan tertentu, tidak banyak orang yang siap untuk disebut 'sakit jiwa' atau 'sakit mental', atau disebut sakit. Kendati jarang berolahraga, mereka tidak akan mau, jika disebut tubuhnya tidak bugar, atau pemilik sakit dan penyakit, atau potensi menderita sakit. Tidak semua orang siap dan tidak semua orang mau, disebut sebagai orang sakit.

Terkait hal ini, maka seorang guru, konselor atau therapis, kelihatannya, tetap harus memosisikan calon klien sebagai manusia normal, yang perlu diajak bicara. Mirip dengan jalan santai. Tidak dilombakan, dan tidak banyak aturan, yang penting, jalan bersama untuk menempuh beberapa jarak yang disepakati bersama.

Kedua, di tengah perjalanan, khususnya saat jalan santai, akan ada konteks ngobrol bebas dan  leluasa. Di perjalanan seperti inilah, akan muncul keluhan dan kelelahan. Ungkapan keluhan dan kelelahan inilah, yang perlu dicermati sebagai pintu masuk untuk mengukur tingkat kebugaran masing-masing.

Bagi mereka yang kebugarannya baik dan prima, akan mampu menempuh jarak jauh dengan sempurna. Sedangkan bagi mereka yang tingkat kebugarannya rendah, dalam jarak pendek pun, sudah banyak melahirkan keluhan dan kelelahan. Dalam situasi serupa inilah, sebagai guru, konselor atau therapis masuk pada wilayah diagnosis.

ketiga, kesetaraan adalah prinsip awal untuk memasuki-ruang masalah. Seorang klien akan mudah terbuka kepada therapisnya, bila posisi dirinya dihargai, atau istilah ekstrimnya, merasa tidak direndahkan. Dengan menganggap setara dalam perjalanan, atau bahkan teman bermain, klien tidak akan merasa sedang ditherapi, melainkan sedang diajak berliburan dan berhiburan. 

Dalam situasi serupa inilah, keterbukaan akibat keseteraan akan meningkatkan efektivitas proses layanan pembinaan, atau konseling yang dilakukan seorang guru atau therapis.

Nah, bagaimana menurut pembaca ? 

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar