Just another free Blogger theme

Sabtu, 09 Mei 2026

Acep. Itulah namanya. Nama lengkapnya, menurut panggilan keseharian, sebagaimana dituturkannya, yakni Haji Acep. Karena itu, kerap kali, dipanggil, "ji..", kependekkan dari panggilan Haji Acep.Usia, diduga masih disekitaran 50-an.


Kesehariannya, tidak tampak sebagai seseorang yang sudah bergelar haji. Aktivitas atau profesinya, yakni menjadi serviser (eh, maksudnya jasa perbaikan). Sebaimana yang diklaimnya sendiri, dia belajar secara autodidak, mengenai pompa air, kulkas, mesin cuci, atau kipas angin. 

Keunikannya, sebagaimana yang terjadi hari itu, proses layanan jasa, yang bisa dilakukan satu atau setengah jam, bisa selesai dalam waktu 2 jam. 

Aneh, ya ?

Sebagai seorang konsumen, atau pelanggan baru, ketika pertama kali transaksi, dan kemudian dia berusaha memeriksa pompa air di rumah yang mati-total, dibuatkan kaget karena perbuatannya. 

Seperti para penjual jasa lainnya, diapun demikian adanya, Haji Acep ini. Dia memeriksa kondisi pompa air. Dicek listriknya. Di cek kondisinya, termasuk sejumlah sambungan yang ada dalam pompa air itu. Kesimpulannya sama dengan apa yang terjadi sebelumnya, yang saya lakukan sendiri. Pompa air itu, mati total. Dengan memperhatikan kondisi itu, kemudian dia  menjelaskan bahwa dia sudah tahu penyakitnya, dan masalah serupa ini, tidak usah khawatir, mudah, gampang, bahkan bisa diselesaikan dalam waktu 15 - 30 menitan. 

"Insya Allah, Pak, tidak akan lebih dari 30 menit....." ungkapnya dengan penuh rasa percaya diri. "Kalau hanya pasang saja, jasanya serupiah, tapi kalau ada yang harus diganti dan dipasang lagi,  ditambah serupiah lagi...", sambil menyebutkan angka, yang biasa disampaikan kepada setiap pelanggan.

Sebagai pelanggan baru, dan sekaligus juga penasaran dengan kemampuan serta kesanggupannya itu, serta karena merasa ajuan biaya yang terjangkau, maka tidak  berlama-lama untuk memberikan jawaban persetujuan. 
Selepas deal serupa itu, kemudian dia menyingsingkan lengan baju, dan juga membuka sejumlah perangkat peralatan yang dia bawa sendiri.  

Hal yang unik dan membuat heran, adalah sembari mempersiapkan peralatan itu, mulutnya tidak pernah diam. Ngomong, nyerocos, atau lebih tepatnya mengisahkan posisi dirinya dan pengalaman spiritual dirinya.

Jelas sudah. Memasang atau melakukan satu trik mekanik mengenai pompa air, misalnya memutar baut, kemudian dia nyerocos lagi berkisah. Terus demikian adanya. Bahkan, kadang,  penuturan kisahnya, jauh lebih lama dibanding dengan pengerjaan mekanis pompa airnya itu sendiri.

Dalam satu penggalan kisahnya, disela-sela pengerjaan itu, saya pun jadi terpancing bertanya, dan ngajak ngobrol. "darimana pengetahuan atau keterampilan ini didapat, apakah dari sekolahan atau kuliah ?"

Mendengar pertanyaan itu, tampak dia sumringah. Kemudian, dia pun menghentikan pekerjaan itu sesaat, dan bercerita lagi. Kayaknya, kalau, saya diburu waktu, dan butuh segera menyelesaikan masalah itu, dia tidak akan bisa diandalkan. Ngobrolnya, jauh lebih lama dari mengerjakan satu item pekerjaan itu.

"autodidak..." jawabnya. 

"Saya belajar. Melihat orang lain mengerjakannya. Kemudian membaca juga, ada. Tetapi, yang terpenting belajar mempraktekkannya. Inilah, yang saya sebutnya, pengetahuan yang membawa manusia untuk bisa hidup.."

Mendengar kalimat terakhir itu, saya sedikit terperangah, kemudian bertanya lagi kepadanya. "apa maksudnya?"

Dia menjelaskan, bahwa dalam kehidupan ini, di tengah masyarakat, ada dua kelompok manusia. 

Pertama, ada pengetahuan yang membawa manusia untuk bisa hidup. Posisinya jelas, pengetahuanlah yang menjadi obor atau cahaya bagi kehidupan si manusia. Manusia itu, hidup diterangi pengetahuan, dan diantar oleh pengetahuan, menuju kehidupan yang lebih baik. Pengetahuan berposisi sebagai 'ruh' atau 'energi' atau 'mesin penggerak' bagi manusia. Manusia ini, ibarat robot, tinggal ikhlas menjalani hidup dan kehidupan, karena yang menerangi dan menggerakkannya adalah ilmu.

Kedua, ada manusia yang membawa pengetahuan. Orang seperti ini, hidupnya berat. Selain harus belajar, membaca, menghapal, atau  berlatih, tetapi juga, dia mengendalikan pengetahuan untuk kepentingan dirinya. Sialnya, manusia seperti ini, memanfaatkan pengetahuan untuk kepentingan hawa nafsunya.

Dalam 'ceramahnya' itu pun, dia menceritakan bahwa banyaknya anak muda sekarang yang korupsi, gelar agama nempel di papan nama tapi melakukan  kriminal, atau melakukan tindak kejahatan, padahal gelar akademiknya tinggi, adalah karena dia hidup bukan dengan prinsip ilmu yang membawa manusia, tetapi manusia membawa ilmu. 

Dengan sangat yakin dan berusaha menyakinkan orang yang ada dihadapannya, dengan memanfaatkan kosakata basa Sunda, dia mengatakan, "itulah, elmu nu mawa manusa, bedana jeung manusia nu mamawa elmu". Demikianlah, perbedaan dasar,  karakter kehidupan kita hari ini, antara manusia yang membawa ilmu, dengan ilmu yang membawa manusia.

Bagaimana menurut pembaca ?



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar