Tadi malam, sebagian diantara kita, ada yang menyaksikan pertandingan sepakbola Tim Nasional Indonesia lawan Thailand. Pertandingan final di ajang FIFA ASEAN 2026. Indonesia sebagai tuan rumah, dan juga, dipersepsikan memiliki skuad yang istimewa, tentu saja, diharapkan oleh rakyat Indonesia menjadi kampiun di ajang regional kali ini.
Begitulah harapannya !
Tapi, apakah harapan itu terwujud ? di sinilah ceritanya, bisa dimulai.
Pertandingan yang cukup menegangkan. Memakan waktu normal 2x 45 menit, ditambah babak tambahan. Habis sudah, di lumat, waktu yang disediakan untuk pertandingan di babak final tersebut. Sayangnya, pertandingan itu, belum juga mampu menunjukkan tim mana yang berhak untuk mengangkat tropi, dan ditetapkan sebagai juara pada ajang kali ini.
Proses pertandingannya, tentu semua sudah tahu. Babak pertama, berjalan kurang menarik. Serangan dan serangan balik tidak begitu subur. Walau ada beberapa peluang ditampilkan kedua belah pihak, namun belum mampu menorehkan catatan di papan skor. Kondisi ini, berlanjut sampai peluit babak pertama berbunyi.
Pada babak kedua, lebih menarik dibanding sebelumnya. Setidaknya, drama adu serangan dan adu taktik tampak mengemuka. Hingga akhirnya, karena ada kesalahan yang dilakukan Thailand. Saat Romeny membawa bola, ditarik Nicolas Mickleson hingga terjatuh di depan kotak penalti. Kartu kuning kedua alias kartu merah untuk Mickelson. Dean James mengambil tendangan bebas. Sepakannya menembus pagar betis dan membentur kaki Iklas Sanron yang baru baru. Kiper Thailand salah langkah. Gol untuk Indonesia.
Sayangnya, situasi itu, tidak bertahan lama. Beberapa menit kemudian, Thailand menyamakan skor. Pertandingan tampak lebih hidup lagi, dan gairah untuk menyegerakan pertandingan melalui gol, terus digelorakan para pemain. Sampai pada babak ekstra, posisi skor masih tetap 2-2, dan kemudian berlanjutka ke adu finalti, dengan posisi 4-2.
Hal yang hendak disampaikan di sini, kita melihat bahwa kualtas individu itu penting. Tetapi, kekompakan tim adalah poin utama dalam pertandingan kolektif seperti ini. Kadang, keunggulan individual, menjadi sulit berkembang bila kemudian, tidak diwarnai kekompakkan, dan saling menunjukkan kerjasama yang kuat.
Kerjasama kolektif yang unggul, bisa dilihat Timnas Thailand. Hal ini bukan berarti, timnas kita tidak kompak, tetapi soliditas pemain, kendati hanya berjumlah 10 orang, namun mampu menunjukkan kualitas permainan yang masih bisa diandalkan. Itulah pengalaman tadi malam. Ya, itulah persepsi subjektif, sebagai penikmat pasif permainan sepakbola. Bisa jadi, kesimpulan lain, akan berkembang dari penikmat bola lainnya.
Terkait hal ini, kadang kita langsung diingatkan pada PSG tempo tahun. Saat klub sepakbola Prancis ini dihuni Neymar, Mesi dan Mbappe, banyak pihak menganggapnya sangat menyeramkan. Namun klub ini, saat itu, tidak mampu menunjukkan kualitasnya di pentas Piala Champions. Padahal secara materi pemain, sangat mumpuni.
Pun demikian, dengan Real Madrid dalam beberapa tahun terakhir. Kualitas individunya, tidak diragukan lagi. Tetapi, keandalan kolektivitas, tampaknya masih jauh dibawah standar klub lainnya, di Eropa saat ini. Pada ujungnya, Real Madrid masih mengalami kesulitan untuk mengangkat tropy.
Belajar dari pengalaman ini, dan setelah Indonesia dinyatakan juara FIFA ASEAN 2026 melalui adu finalti ini, maka tetap, kita memiliki pelajaran penting bahwa kualitas individu itu penting, tetapi kualitas kerjasama adalah modal yanh lebih utama.

0 comments:
Posting Komentar