Di balik ruang-ruang diskusi yang riuh, media sosial yang riuh, hingga panggung debat politik yang dramatis, kita kerap menyaksikan sebuah fenomena kebahasaan yang ajaib sekaligus menggelisahkan. Sebuah fenomena di mana kebenaran tidak lagi ditopang oleh objek-objek keras yang bisa disentuh, diverifikasi, atau diuji secara empiris, melainkan oleh kelihaian merangkai frasa, menata diksi, dan membolak-balik definisi. Dalam lanskap seperti ini, kata-kata tak lagi berfungsi sebagai cermin yang memantulkan kenyataan material, melainkan bertindak sebagai pencipta kenyataan itu sendiri.
Inilah arena di mana kebenaran nominalis berkuasa—sebuah kebenaran yang berpijak pada anggapan bahwa realitas sejatinya hanyalah nama (nomen), label, atau konstruksi kebahasaan yang kita lekatkan pada sesuatu. Dalam konteks permainan kata yang abai terhadap bukti material, kebenaran tak lagi dicari melalui kerja-kerja ilmiah atau verifikasi faktual, melainkan diciptakan lewat retorika yang berputar-putar dalam lingkaran tautologis.






