Just another free Blogger theme

Kamis, 29 Oktober 2026

Di balik ruang-ruang diskusi yang riuh, media sosial yang riuh, hingga panggung debat politik yang dramatis, kita kerap menyaksikan sebuah fenomena kebahasaan yang ajaib sekaligus menggelisahkan. Sebuah fenomena di mana kebenaran tidak lagi ditopang oleh objek-objek keras yang bisa disentuh, diverifikasi, atau diuji secara empiris, melainkan oleh kelihaian merangkai frasa, menata diksi, dan membolak-balik definisi. Dalam lanskap seperti ini, kata-kata tak lagi berfungsi sebagai cermin yang memantulkan kenyataan material, melainkan bertindak sebagai pencipta kenyataan itu sendiri.



Inilah arena di mana kebenaran nominalis berkuasa—sebuah kebenaran yang berpijak pada anggapan bahwa realitas sejatinya hanyalah nama (nomen), label, atau konstruksi kebahasaan yang kita lekatkan pada sesuatu. Dalam konteks permainan kata yang abai terhadap bukti material, kebenaran tak lagi dicari melalui kerja-kerja ilmiah atau verifikasi faktual, melainkan diciptakan lewat retorika yang berputar-putar dalam lingkaran tautologis.

Rabu, 28 Oktober 2026

Di hadapan sebuah layar gawai yang memancarkan cahaya biru terang, seorang pemuda duduk bersila di atas kasur kamarnya yang sempit. Jarinya bergerak sangat lincah, scrolling tanpa henti menelusuri lini masa media sosial. Di layar itu, silih berganti muncul potongan video kampanye para pejabat tinggi negara, cuplikan rapat paripurna yang diwarnai perdebatan sengit, hingga meme sarkastik yang menertawakan kebijakan publik terbaru. Tanpa aba-aba, jemarinya mengetik sebuah komentar pedas, penuh dengan singkatan tajam, makian kasual, dan emoji api yang menyala-nyala. Bagi pemuda ini, di situlah panggung politiknya berada: bukan di ruang-ruang sidang formal, bukan pula di mimbar partai yang kaku, melainkan di dalam ruang siber yang bising, cair, dan tanpa batas.



Kita sedang hidup di era di mana lanskap politik anak muda telah bergeser secara radikal. Jika dahulu partisipasi politik diidentifikasikan dengan barisan demonstran di jalan raya, kaderisasi partai yang melelahkan, atau perdebatan intelektual di ruang-ruang diskusi kampus, hari ini wajah politik generasi milenial dan Gen Z tampak jauh berbeda. Ia hadir dalam bentuk yang oleh sebagian kaum tua dipandang sebagai bentuk "serapah"—sebuah luapan kejengkelan, sinisme, dan ketidakpercayaan yang dibungkus dalam estetika digital yang serba cepat.

Selasa, 27 Oktober 2026

Di sudut sebuah kafe kekinian yang dipenuhi aroma biji kopi panggang dan deru bising mesin espresso, sekelompok remaja duduk melingkar di atas kursi tinggi. Tawa renyah berderai, disusul oleh rentetan kalimat yang meluncur begitu cepat dengan ritme yang memukau.


Jika seorang guru bahasa Indonesia atau sastrawan senior kebetulan lewat dan mendengarkan percakapan mereka, dahi mereka hampir dipastikan akan berkerut dalam-dalam. Di telinga generasi terdahulu, apa yang diucapkan oleh anak-anak muda ini terdengar seperti sebuah kekacauan linguistik yang merusak tatanan. Kalimat-kalimat mereka dipenuhi singkatan asing, pelintiran makna kata baku, frasa pinjaman dari bahasa Inggris yang dicampur aduk secara sewenang-wenang, hingga umpatan-umpatan kasual yang diucapkan bukan lagi sebagai kemarahan, melainkan sebagai tanda keakraban.

Senin, 26 Oktober 2026


Tidak berlebihan, bila kita menyebutkan bahwa gaya knalpot sepeda motor adalah gaya hidup si pemiliknya. Mungkin terlalu dini  menyebutkan gaya knalpot, adalah karakter atau kepribadian dari si pemiliknya. Tetapi, bisa jadi, melalui karakter knalpot kendaraan itu, kita bisa mengukur kewibawaaan, kesantunan, dan kepekaan pemiliknya pada orang lain.

Minggu, 25 Oktober 2026

Di ruang-ruang kelas sekolah di seluruh penjuru negeri, sebuah ritual tahunan yang sarat ketegangan kembali berulang. Lembaran kertas berisi deretan angka dan predikat dibagikan kepada para siswa. Ada isak tangis kekecewaan karena angka-angka di kertas itu tidak mampu menembus standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), namun ada pula pekik kegembiraan tatkala seorang siswa berhasil merangsek ke peringkat tiga besar di kelasnya. Di saat yang sama, para orang tua menunggu di rumah dengan debar jantung yang sama, berharap anak-anak mereka pulang membawa selembar rapot dengan deretan nilai yang memuaskan.



Sejak berabad-abad lalu, sistem pendidikan formal modern kita telah lama mengidentifikasi keberhasilan belajar melalui instrumen yang terukur secara kuantitatif: nilai ujian, indeks prestasi kumulatif (IPK), medali olimpiade sains, serta gengsi institusi tempat seseorang menimba ilmu. Angka 90 atau 100 dianggap sebagai mahkota tertinggi yang membuktikan bahwa seorang anak telah "berhasil" dididik.

"Karir mamah di sekolah ini, sudah mentok. Jadi wali kelas..." itulah curhatan seorang rekanan, yang dia ucapkan kepada anaknya, saat berdiskusi di rumah.



Menurut pengakuannya, pandangan itu disampaikan kepada anaknya, dengan maksud dan harapan, sang Anak mampu mencerna mengenai kegelisahan pribadinya sebagai seorang wanita karir, dan juga mampu menarik satu keputusan-strategis untuk masa depannya.

Dihadapan anak yang tengah bingung dengan masa depannya, padahal ijazah sarjana keperawatan sudah ada di tangannya, termangu sesaat. Entahlah, apakah dia sedang mendalami makna dibalik ucapannya itu, atau karena dia tidak mengerti dengan maksud dan tujuan orangtuanya mengatakan hal itu kepadanya.

Sabtu, 24 Oktober 2026

Pendidikan Khusus untuk anak berkebutuhan khusus (special teaching for special children), sudah ada di tengah-tengah Masyarakat (Lewis and Norwich 2005).  Kategorinya sudah cukup beragan, layanan pendidikan khusus itu, dimaksudkan untuk bisa melayani kebutuhan khusus peserta didiknya.