Pendidikan
Khusus untuk anak berkebutuhan khusus (special teaching for special children),
sudah ada di tengah-tengah Masyarakat
SLB-A, untuk siswa gangguan penglihatan (tuna netra), SLB-B untuk siswa dengan ganggun pendengaran (tuna rungu), SLB C unuk siswa dengan gangguan kecerdasan dibawah rerata (tunagrahita), SLB D untuk siswa dengan gangguan fisik (tuna daksa), dan SLB-E untuk siswa dengan gangguan emosi, sosial dan perilaku (tuna laras), dan SLB-G untuk siswa yang mengalami dua atau lebih gangguan potensi belajarnya (tuna ganda). Jenis sekolah ini, berjenjang mulai dari SDLB, SMPLB dan SMALB.Untuk kategori ini, relatif tidak popular di Masyarakat, dibanding dengan sekolah untuk anak-anak yang memiliki kecerdasan istimewa atau bakat istimewa (CIBI).
Seiring dengan Hasrat Pemerintah untuk memperluas gagasan dan implementasi pendidikan inklusi, apakah kemudian akan berdampak pada keberadaan sekolah luar biasa ? penekanan pentingnya sekolah-sekolah umum, untuk membuka layanan anak berkebutuhan khusus, kemudian menyebabkan pranata pendidikan penyelenggara layanan sekolah luar biasa atau sekolah berkebutuhan khusus itu, menjadi terabaikan !
Tentu saja, jawabannya adalah bergantung pada perspektif yang kita miliki. Setidaknya ada beberapa pertimbangan penting, yang dapat dijadika acuan untuk mengukur ketangguhan eksistensi SLB atau sejenisnya untuk bisa eksis di masa depan.
Pertama, indikasi dan batasan keinklusian. Luas dan dalamnya pemahaman kita mengenai inklusivitas layanan pendidikan, akan mempengaruhi peran dan fungsi sekolah khusus yang ada. Semakin lebar maknanya, akan semakin besar gerusan kehadiran sekolah inklusi terhadap sekolah kekhususan.
Kedua, pemahaman kita terkait
derajat kekhususan. Bila saja, sekolah inklusi adalah mirip rumah sakit umum,
maka sekolah luar biasa adalah sekolah spesialis yang hanya memberikan layanan masalah
kekhususan yang tidak bisa ditangani secara optimal oleh sekolah inklusi
(sekolah umum). Pandangan ini, tentu saja, bergantung pada pemahaman kita mengenai
derajat kekhusuan kebutuhan peserta didik.

0 comments:
Posting Komentar