Tidak berlebihan, bila kita menyebutkan bahwa gaya knalpot sepeda motor adalah gaya hidup si pemiliknya. Mungkin terlalu dini menyebutkan gaya knalpot, adalah karakter atau kepribadian dari si pemiliknya. Tetapi, bisa jadi, melalui karakter knalpot kendaraan itu, kita bisa mengukur kewibawaaan, kesantunan, dan kepekaan pemiliknya pada orang lain.
Mari renungkan bersama. Apa yang kau rasakan, bila naik sepeda motor dan kemudian berada di posisi
di belakang sepeda motor orang lain ? Kesal ? senang ? aman ? menyebalkan ? atau bahagia ? Entahlah !
Resiko yang pasti, pada saat kita berada di belakang sepeda motor orang lain, yaitu memosisikan kita berada langsung di moncong knalpot motor tersebut. Itu kenyataannya, itu nasibnya, dan disitulah pengalaman hidup, langsung bersentuhan antara nurani kita, dengan nalar kita mengenai sang pengendara di depan diri kita.
Ada yang aneh dengan hal itu ?
Mungkin “ya”, mungkin juga “tidak”. Di sebut tidak aneh, hal yang wajar, dalam sebuah parade antrian kendaraan di jalan raya, ada kemungkinan orang lain di belakang kendaraan kita, dan atau kita ada di belakang kendaraan orang lain. Karena itu, tidak perlu aneh, tidak perlu risih, tidak perlu resah, tidak perlu marah-marah. Itu adalah hukum alam dalam hidup. Jika tidak mau didepan, maka kita akan berada pada posisi di belakangnya !
Istilah di tengah, hanyalah jarak relatif saja. Karena pada dasarnya, orang
yang ada di tengah-tengah itu, tidak pernah di depan. Walaupun tidak pernah di
belakang, tetapi tetap tidak pernah perada pada posisi paling depan !
Tetapi, akan berbeda ceritanya, bila kita berada di belakang orang lain, dan kemudian tepat di depan kita ada sepeda motor. Perhatikan, rasakan, nikmati, dan renungkan, apa yang terjadi, bila ada sepeda motor yang ada di depan kita ?
Entah mengapa ? apakah hal itu adalah wajar, atau akal-akal si mekanik yang
memodifikasi kendaraan tersebut. Ada sebagian diantara kita, yang memodifikasi
knalpotnya, sehingga memliki karakter tertentu. Suara agak berdentum, dan
hembusan asap knalpotnya pun cukup keras. Hal yang bisa menyebalkan, arah dan
posisi hembusan asap knalpotnya itulah......”nyembur pas ke bagian muka kita ?!
“gila...semburan knalpot, pas kena muka !”
Sering merasakan seperti ini ! sesering itu pula saya bergumam, “apa yang
kepikiran oleh si penumpang tersebut ? apa yang diinginkan oleh si mekanik
tersebut ?” di dalam perjalanan ini, dengan tidak sadar, mereka sudah melukai
orang lain. Setidaknya, akulah yang kerap merasakan itu.
“tetapi, apakah hal itu terjadi di sengaja? Ataukah, karena aku orang yang berukuran seperti ini, sehingga wajah ini berada tepat pada posisi knal pot tersebut ?”
Sekai lagi, saya termasuk orang yang tidak paham. Apakah hal itu adalah sebuah
kebetulan ? jika memang kebetulan, mengapa posisi knalpot motor yang lain,
khususnya yang memiliki posisi standar atau original, tidaklah menyebabkan hal
seperti itu ? knalpot dengan posisi standar, biasa saja, dan tidak membuat
orang yang berkendaraan dibelakang, terganggu dibuatnya. Bahkan, knalpot yang standar, jauh lebih santun dan berwibawa. merunduk dan tidak perlu membual (menyemburkan kotoran dihadapan muka orang lain ?)....
Tetapi, bila itu disengaja, sekali lagi, pikiran ini berujar, “apa yang kepikiran oleh si penumpang tersebut ? apa yang diinginkan oleh si mekanik tersebut ? mengapa masih ada, orang yang secara sadar untuk sekedar sebuah perjalanan saja, sudah melukai orang lain ?”
Pengalaman seperti inilah (9 Juli 2013), yang mengantarkan kita pada sebuah pertanyaan,
adakah hal ini menggambarkan bahwa mentalitas dan karakter budaya kita ini,
sudah tidak sesantun imajinasi kita lagi ? akankah hal ini menggambarkan bahwa
indikasi nakal pada perbuatan kita, sudah terasa sebagai sebuah kebaikan ?

0 comments:
Posting Komentar