Just another free Blogger theme

Minggu, 25 Oktober 2026

"Karir mamah di sekolah ini, sudah mentok. Jadi wali kelas..." itulah curhatan seorang rekanan, yang dia ucapkan kepada anaknya, saat berdiskusi di rumah.



Menurut pengakuannya, pandangan itu disampaikan kepada anaknya, dengan maksud dan harapan, sang Anak mampu mencerna mengenai kegelisahan pribadinya sebagai seorang wanita karir, dan juga mampu menarik satu keputusan-strategis untuk masa depannya.

Dihadapan anak yang tengah bingung dengan masa depannya, padahal ijazah sarjana keperawatan sudah ada di tangannya, termangu sesaat. Entahlah, apakah dia sedang mendalami makna dibalik ucapannya itu, atau karena dia tidak mengerti dengan maksud dan tujuan orangtuanya mengatakan hal itu kepadanya.

Hal yang dirasakan oleh rekanan kita itu, dan sekaligus membanggakan dirinya adalah keluar ucapan tegas dari anaknya, "iya, Mah, saya mau ambil peluang lowongan kerja itu, walaupun  jauh dari Mamah.." tegasnya. 

Kendati sudah menunjukkan sikap tegas itu, sang Anak masih tetap mengajukan pertanyaan, "kenapa karir Mamah serupa itu ? apakah tidak ada jalan lain, atau peluang lain, yang bisa meningkatkan karir Mamah saat ini ?" Sebuah pertanyaan kritis, sekaligus rasional, dan malah perlu dijadikan bahan pemikiran kita semua.

Saya yang mendengar curhatan dari curhatan itu, cukup terperanjat juga. Terperanjat, bukan hanya karena kagum kepada pertanyaan Sang Anak, melainkan terperanjat, sedih dan tersentak oleh sikap sang rekan itu. Mendengar curhatan dari curhat di rumah itu, terhentak dengan atmosfer kerja di lembaga pendidikan sendiri. Sesuatu yang terjadi pada rekanan itu, sudah pernah dilontarkan sebelumnya. Bahkan dengan nada yang agak keras, disampaikan pada pimpinan, puluhan tahun yang silam, "masa sih, tidak ada rotasi jabatan, memangnya karir guru itu, mentok di wali kelas saja !". 

Sepakat, memang tidak semua orang bermimpi untuk menjadi pejabat birokratik, kendati sekecil di lingkungan sekolah. Tetapi, mereka yang memiliki kemampuan dan berminat pada jabatan birokratik itu, tentunya tidak boleh terhalang dan/atau dihalangi. Oleh karena itu, sejumlah rekanan kita, yang memiliki kemampuan istimewa atau bakat istimewa, hendaknya tetap memiliki ruang terbuka dan jalur yang terbuka untuk mengembangkan karirinya. Di sinilah, persoalan itu di mulai !

Sejatinya, pertanyaan atau persoalan itu, serta solusi untuk memecahkan kebutuhan itu, sudah ada ditengah atmosfer kerja kita, eh, maksudnya atmosfer dunia pendidikan. Sayangnya, mungkin, masih menyisakan masalah yang sulit untuk dipecahkan, sehingga aksesnya menjadi tidak merata.

Untuk membantu memecahkan kebuntuan ini, kita bisa menengok pembinaan karir di negara tetangga kita, Singapura. Eh, kita menengoknya dari jarak jauh saja, dari  jendela rumah kita, tanpa harus pergi ke negeri seberang tersebut.

Menurut informasi, hal ini sudah tentu, sangat mudah diakses dari media digital, bahwa seorang tenaga pendidik secara profesional dapat meningkatkan karirnya dalam tiga jalur karir kependidikan. Jenjang karir ini, akan memiliki keselarasan atau linearitas dengan hak finansial dan kepangkatannya.

Pertama, jalur Pakar Pengajaran (Teaching Track). Rasanya, istilah ini senafas dengan guru inti, atau guru teladan atau fasilitator. Di negeri kita, pernah mendengar kebijakan tersebut. Seorang guru yang memiliki kompetensi unggul dalam mengajar, kemudian ditetapkan oleh Pemerintah, sebagai guru inti, atau guru pamong yang memiliki kewajiban untuk menginkubasi semangat dan kemampuannya kepada rekan kerja yang lainnya, baik di dalam tempat kerja maupun ke luar tempat kerjanya.

Pada skala mikro, seorang manajer sekolah/madrasah, dapat mengeluarkan keputusan pengangkatan guru inti ini, di sekolahnya sendiri. Tujuan utamanya adalah memberikan penghargaan atas kreativitas dan inovasi serta spirit profesionalnya, dan juga diharapkan dapat menularkan budaya pengembangan dirinya, menjadi budaya mengajar di lembaga pendidikannya.

Kedua,   jalur Kepemimpinan Sekolah (Leadership Track). Bila ada diantara rekanan kita, yang memiliki kemampuan manajerial, maka pengembangan karirnya dapat berlanjut pada level manajerial lebih tinggi, yaitu menjadi pimpinan sekolah/madrasah. Pimpinan sekolah definitif, dapat memberikan rekomendasi kepada atasannya, untuk memberikan ruang terbuka kepada guru yang berkemampuan secara manajerial. 

Persoalan di lapangan, kadang sangat kompleks. Khusus untuk kategori kedua ini, kadang tidak disandarkan pada kategori profesional, namun lebih dikaitkan dengan kategori politik. Komunikasi politik birokratik antara guru-berkualitas-manajerial dengan atasan, kadang lebih kuat dibanding dengan kualitas kompetensi guru yang bersangkutan itu. Dampaknya sangat nyata, guru yang berkualitas akan kalah saing dengan kandidat lain, yang memilik komunikasi politik lebih kuat dengan atasan, dibanding dengan guru berkualitas tersebut.

Terakhir, di negara tetangga itu ada yang disebut jalur Pakar Riset Kurikulum (Senior Specialist Track).  Jalur karir ini, senada dengan jalur yang pertama, namun memiliki kekhususan yang berbeda. Formulasi atau prosedurnya bisa dilakukan dengan cara yang pertama, yakni membuat surat keputusan untuk memberikan amanah tambahan, di luar jam mengajarnya.

Dengan mengembangkan tiga model pengembangan karir ini, satu sisi memberikan apresiasi terhadap kontribusi guru dalam mendukung program madrasah, dan pada sisi lain,  memastikan guru terbaik tidak dipaksa keluar dari ruang kelas menjadi birokrat/kepala sekolah demi naik pangkat.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar