Haji Acep, masih saja bertutur. Tentang pengalaman hidupnya, dan juga kadang, interaksi dirinya dengan keluarganya. Mereka ada di kawasan Bandung Timur. Lokasinya, tidak jauh dari gunung Manglayang, bahkan di sejumlah kampung di sekitaran rumahnya, banyak yang bermata pencaharian dengan menjual jasa penjualan air dari Gunung Manglayang.
Bermula dari pertanyaan, rekanan kerja, yang ada di siang itu. "Pak, pompa air yang bekasnya, boleh diminta..?" Pertanyaan, yang sejatinya, lebih menjadi sebuah etika. Karena dia pun, sedari awal membantu proses perbaikan pompa air itu. Tentu, dia paham, bahwa pompa air itu, sudah mati total, jadi sudah tidak mungkin bisa digunakan lagi. Terlebih lagi, saya pun bukan seorang bengkel, dan tidak berusaha di bidang rongsokan. jadi, sangat tidak mungkin, bisa memanfaatkan lagi, mesin pompa air tersebut.
Tanpa banyak kata, tanpa banyak cakap, saya membolehkannya. Kebiasaan haji Acep ngomong itu, kemudian ikutan nimbrung lagi. Padahal, beberapa detik sebelumnya, dia sedang memasang salah satu item dari kerusakan mesin pompa air tersebut.
"setuju, Pak. Hari ini, kita ini, banyak kehilangan adab. " ungkapnya.
"Adab apa?" tanyaku, sambil tetap memperhatikan dia melakukan pekerjaannya, memperbaiki mesin pompa air ini. Sekilasan, saya kadang merasa seperti sedang mempertontonkan penggalan kisah Mahabarata, pada episode Bhawagad Ghita, ketika Krisna menceramahi Arjuna. Kendati suasana sedang peperangan, ruang-waktu berhenti, dan beralih pada dialog Krisna-Arjuna. (hihi... ngayal....).
Tidak lama dari situ, Haji Acep pun, bertutur....
Ibunya. Tidak menyebutkan usia. Untuk sekedar membayangkan, kalau Haji Acep anak kedua, atau ketiga berusia 50 tahunan, dan usia pernikahan orang kampung itu, usia 17-20 tahunan, maka sang Ibu itu berusia dengan tidak lebih dari 70 tahunan.
Beliau sudah sepuh, paparnya. Tetapi, hal yang membuat dia merasa kagum kepadanya, setidap barang yang hendak dibuang, atau dijual, kerap kali, diajak bicara. Kemudian, dia menuturkan salah satu kisahnya, saat mengeluarkan kursi sofa milik ibunya, dan hendak diganti dengan yang baru.
"wahai sang kursi, kau sudah bertahun-tahun dengan keluarga kami, dan kau sudah memberikan kenyamanan, ketenangan, serta kebahagiaan bagi keluarga kami. Tapi, mohon maaf, hari ini, kami berkeinginan untuk memiliki perangkat tempat duduk yang cocok untuk keluarga kami hari ini...".
Begitulah obrolannya, tutur Haji Acep. Mendengar hal itu, saya sempat bertanya, 'mengapa harus diperlakukan begitu...?'
Iya, itulah adab karuhun, tuturnya. Kita ini, kadang, kufur nikmat kepada Allah, dengan melupakan jasa atau manfaat dari berbagai hal yang pernah kita rasakan. Nikmat itu, bukan hanya yang diberikan manusia kepada manusia. NIkmat itu, diberikan pula oleh alam, lingkungan, termasuk oleh kursi atau barang-barang yang ada di sekitar kita.
Masalahnya ? retorisnya. Selama ini, manusia banyak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada alam dan sekitarnya, ya, termasuk pada kursi sofa itu. Bahkan, dia pun, sebelum melepas kursi sofa itu, ibu, kerap kali, memberi pesan lagi ke kursinya.
Sambil mengelus-elus kursi, dia bertutur "kamu sudah memberikan kebahagiaan kepada keluarga kami, nanti di tempat baru, semoga kami mendapatkan majikan yang lebih baik, dan kamu pun, bisa bermanfaat kepadanya. Kita, sama-sama makhluk Tuhan, jadikan dirimu sebagai lahan ibadah bagi majikan kamu di tempat baru.."
"Iya, kan?" Haji Acep berkisah lagi. "coba, tidak jarang, kursi yang dijadikan maksiat. Untuk ngobrolan kejahatan, dan atau dijadikan tempat kejahatan. Itu artinya, kursi itu, bukan sebagai media ibadah, dan malah menjadi media kejahatan dan kemaksiatan..."
Di sinilah kita menemukan pelajaran penting. Selama ini, sering kali kita hilap untuk menunjukkan adab kita kepada sesama makhluk Allah Swt. Kita pun, lebih banyak hilapnya lagi, dalam memanfaatkan fasilitas hidup, termasuk perangkat hidup dan kehidupan ini, untuk kepentingan ibadah kepada Allah Swt.
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar