Di tengah masyarakat, sudah beredar dan ramai dibicarakan mengenai nama-nama baru kategori sekolah. Seiring dengan imajinasi penguasa, atau visi dan misi pemerintah terkait dengan upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, atau kualitas generasi bangsa. Nama-nama itu, ada yang disebut Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan di Jawa Barat, ada sekolah Maung. Kehadiran spesies baru nama sekolah di Negara Kita ini, dapat dikategorikan sebagai inovasi pemerintah yang berkuasa hari ini.
Supaya tidak terlalu kabur mengenai makna pokok dari konsep-konsep itu, dapat kiranya menelaah konsep dasar, sebagaimana yang dapat ditemukan di dunia maya.
Sekolah Rakyat adalah inisiatif pendidikan unggulan Pemerintah Indonesia (di bawah Kemensos) yang menyediakan sekolah berasrama gratis dari jenjang SD hingga SMA bagi anak-anak keluarga miskin ekstrem (desil 1 & 2). Tujuannya memutus rantai kemiskinan dengan menanggung seluruh biaya (pendidikan, tempat tinggal, makan, kesehatan).
Sekolah Garuda adalah program strategis nasional pemerintah Indonesia untuk mendirikan dan memperkuat SMA/MA unggulan berbasis sains, teknologi, dan kepemimpinan. Program ini bertujuan mencetak generasi berdaya saing global untuk Indonesia Emas 2045 melalui dua skema—Garuda Baru (3T) dan Garuda Transformasi (penguatan sekolah ada)—dengan akses gratis bagi siswa berprestasi.
Sekolah Maung (Manusia Unggul) adalah program pendidikan unggulan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang akan mulai dioperasikan pada tahun ajaran 2026/2027. Sekolah ini bertujuan mencetak generasi muda yang kompetitif dan siap kerja dengan memfasilitasi siswa berprestasi, baik akademik maupun non-akademik (seni, olahraga, industri kreatif).
Kemudian, dilingkungan Kementerian Agama pun, selain sudah hadir lebih awal Madrasah Insan Cendikia, sebagai model madrasah unggul, ramai pula dibicarakan mengenai kemungkinan adanya Madrasah Unggul. Untuk namanya, belum ramai dibicarakan, apakah akan menjadi Madrasah Garuda seperti halnya Kemendikdasmen, atau Madrasah Maung seperti Pemerintah Propinsi Jawa Barat.
Bagaimana tanggapan publik terhadap program Pemerintah ini ? Tanggapannya, tentu beragam. Pro kontra adalah hal biasa, dan biasa mewarnai atmosfer demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Memberikan tanggapan, bukan berarti melakukan penolakan, tetapi, menjadi koridor perhatian untuk diwaspadai, sehingga agenda pemerintah dapat berjalan dengan baik, sesuai visi dan misinya.
Perhatian pertama, misalnya terhadap misi pelahiran program dimaksud. Sesuai dengan latar belakang peluncuran program itu, sejatinya bila dicermati secara seksama, kebutuhan penguatan generasi muda itu, tidak sekedar berkaitan dengan kompetensi berbasis sains, teknologi, dan kepemimpinan (inti Sekolah Garuda), atau masalah akses (ketidakberdayaan ekonomi). Kebutuhan penguatan kualtas generasi muda itu, bersifat kompleks dan unik. Bahkan, bila kita terbuka, dan objektif, di tengah masyarakat kita ini, sudah banyak sekolah unggul dan istimewa, dengan karakter dan keunggulan masing-masing. termasuk dalam hal keunggulan karakter kepribadian, keterampilan praktis, bahkan seni dan budaya.
Memanfaatkan gagasan dari sekolah MAUNG, keunggulan madrasah atau sekolah itu, bisa akademik, bisa nonakademik. Keunggulan sekolah atau madrasah itu, bisa terkait dengan berbasis sains, teknologi, dan kepemimpinan, dan bisa pula terkait dengan seni, olahraga, industri kreatif.
Bila demikian adanya, maka sejatinya, setiap sekolah pun, memiliki hak untuk mewujudkan keunggulannya sesuai dengan potensi, dan kemampuan serta tantangan lokal, dan kebutuhan zaman, serta inspirasi globalnya. Sehubungan hal itu, maka fokus perhatian pemerintah itu, sejatinya perlu diarahkan untuk memperhatikan pentingnya penguatan potensi sekolah/madrasah masing-masing.
Dengan perhatian seperti ini, maka program yang mengakomodir semua kepentingan itu, adalah menerapkan prinsip "Penguatan Sekolah/Madrasah Nusantara". Maksudnya, Pemerintah perlu menunjukkan sikap kepedulian yang setara kepada seluruh sekolah/madrasah untuk mengembangkan keunggulan, sesuai dengan potensi dan kemampuan, serta sesuai dengan tantangan global dan kebutuhan lokalnya. Dengan konsep sekolah Nusantara itu, akan lahir, berbeda-beda sekolah, namun tetap memiiki satu keunggulan.
Hal lainnya, yang juga menjadi perhatian bersama, yaitu soal nama. Bagi sebagian kelompok, program serupa ini, kerap mengingatkannya kepada program Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) atau Madrasah Bertaraf Internasional, yang pernah ada, dan kemudian dibubarkan, dengan alasan adanya indikasi elitis, dan disparitas layanan pendidikan. Karena ada kritikan masif serupa itu, maka kemudian, konsep model madrasah, madrasah model, model RSBI, sekolah unggul, dan atau nama sejenisnya, yang bisa memantik dan memancing kecemburuan dan friksi sosial di kalangan orangtua siswa, ditinggalkan.
Sehubungan hal ini, maka kehadiran konsep baru ini, satu sisi yang menyasar kelompok kurang mampu (Sekolah Rakyat), dan kelompok berbakat istimewa dan cerdas istimewa (CIBI) melalui Sekolah Garuda, diharapkan tidak mengulang lagi narasi yang serupa di masa lalu.
Terakhir sebagai penutup, kiranya, sebagaimana yang disampaikan sebelumnya, kebutuhan kita hari ini, adalah menemukan formula, supaya setiap sekolah mampu menunjukkan keunggulannya, baik hanya dalam bidang sains, teknologi, seni, budaya, atau kepribadian, atau secara keseluruhan. Sehingga kemudian lahir, sekolah nusantara yang berbhinneka tunggal ika. Berbeda-beda sekolah dengan layanan yang beda, namun memiliki satu keunggulan utamanya.

0 comments:
Posting Komentar