Kadang dibuatkan pusing, dan harus menebak-nebak, bila sang penguasa bertutur. Mungkin, mereka menganggap, bahwa orang lain, atau bawahan, akan menerima dan mengerti, terhadap penyataan sikapnya tersebut. Asumsi dan anggapan serupa itu, sesungguhnya, sangatlah tidak tepat. Sangat keliru.
Mengapa demikian ?
Jelas sudah. Seribu kepala yang ada dihadapan kita, akan memiliki kualitas pemikiran yang berbeda. Pikirana itu, akan sesuai dengan isi otak, atau asupan otak yang dilakukannya selama ini. Karena itu, adalah keliru dan tidak tepat, bila dihadapan seribu orang dengan seribu kepala itu, akan melahirkan satu pandangan yang sama, sebagaimana yang diinginkan oleh si penutur atau penguasa tersebut.
Sekedar contoh. Tempo hari, pimpinan meminta untuk diadakan program pengecatan. Pengecapatan ruang security, dan juga jalanan yang ada di sekitar kampus. Luas dan lebarnya, tidak seberapa besar, dan juga, biaya pun tidak seberapa tinggi. Masih murah, dan terjangkau. Begitulah, kira-kira jawaban dari sang pendampingnya.
Namun, seperti yang disampaikan sebelumnya. Tidak semua ide, gagasan, atau harapan pimpinan itu, tertafsirkan sama oleh orang lain, bawahan, terlebih lagi oleh lawan politiknya. Seribu kepala, malah akan melahirkan 1001 tafsir terhadap perilaku politik pimpinannya. demikian pula, yang terjadi dengan kejadian ini.
Satu diantara sekian orang yang ada di sekitar kita ini, boleh dan bisa jadi mengajukan pertanyaan polos, "mengapa diganti?" atau, dalam rumusan pertanyaan yang lebih detil, "mengapa warna yang ada harus diganti dengan warna baru, sehingga mencanangkan program pengecatan?"
Seperti di sebuah negara imajinatif. Pertanyaan sederhana itu, kemudian memantik buzzer dan netizen bermunculan, berseliweran, atau lebih tepatnya bersahut-sahutan. Satu pihak memberikan jawaban, klarifikasi, dan juga ada kelompok lain yang memberikan tanggapan miring terhadap hasrat atau kebijakan pimpinan tersebut.
Seperti biasa. Kita yang mengajukan pertanyaan, bisa jadi, lebih merupakan sebuah pertanyaan normal, netral dan tanpa ada kepentingan apapun. Namun, hasrat netral itu malah ditafsirkan sebagai pertanyaan tendensius dan menyudutkan. Terlebih lagi, saat pimpinan itu, memberikan klarifikasi bahwa "ini adalah prerogatif pimpinan. tidak ada masalah dengan warna sebelumnya, hanya, ingin suasana baru, jadi harus diganti dengan warna baru...".
Lah, akankan jawaban serupa itu, mudah dipahami oleh publik ?
Sekali lagi, bagi kelompok yang sudah tersabotasi-otaknya oleh kekuasaan, akan memberikan pembelaan total. All out, memberikan pembelaan, dan memberikan jawaban-tambahan, terkait objektivitas dan netralitas pimpinan, dalam mengeluarkan kebijakannya.
Hanya saja, sebagai catatan kecil kita hari ini, (1) kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah dukungan, karena suara kebenaran itu, tidak ada kaitannya dengan dukungan orang, melainkan kelurusan penalaran, (2) andaipun, benar, tidak ada masalah dengan warna sebelumnya, lantas mengapa harus diganti, atau dengan kata lain, bila tidak ada masalah, kenapa harus diganti?
Sungguhnya sangat janggal. Bila kita memiliki barang masih bagus, dan tidak ada masalah, lantas kemudian, kita malah dengan semena-mena ingin mengganti dengan yang baru. Sikap serupa itu, kalau bukan karena ada kepentingan yang disembunyikan, maka termasuk sikap boros dan tanpa pertimbangan yang sehat, dalam melakukannya !

0 comments:
Posting Komentar