Just another free Blogger theme

Jumat, 11 September 2026


Sebut saja, Hasna. Begitulah, sebutan nama yang diperkenalkannya, di siang itu. Sekumpulan  mahasiswa, yang bermaksud melakukan survey pembelajaran ke tempat kerjaku, saat itu. Mereka bertiga, dengan atasnama surat perintah (lebih tepatnya surat tugas) dari dosen pembimbingnya, untuk melakukan observasi mengenai manajemen pendidikan, khususnya dalam konteks pengembangan layanan kesiswaan.

Iya, betul. Jelang akhir semester atau dipertengahan semester. Sejumlah mahasiswa yang belajar di lembata perguruan tinggi kependidikan (LPTK), kerap kali menjalani tugas pembelajaran dari sang dosennya. Nama kegiatannya, banyak banget. Ada magang. Praktek Lapangan Pendidikan. Praktek Pengabdian Lapangan. Ada pula,  yang bernama observasi dan praktek lapangan. 

Entahlah.  Istilah mana yang paling tepat, untuk menyebutkan kegiatan mereka serupa ini. Kita, atau lebih tepatnya, saya di lapangan, kadang, sekedar terrepotkan oleh gerbong kelompok mahasiswa dari jurusan yang sama, dalam mata kuliah yang sama, untuk tema yang tdidak jauh berbeda. Hadir di tempat ini. 

Seperti hari itu. di sini !!!

Dihadapan mereka itu. Sebagai orangtua di lembaga pendidikan, kadang merasa kesal. Kesal dibuatnya.

Akibat terlalu dekat dunia medsos, atau platform digital, nalarnya bergerak secara mekanis, dan kehilangan daya kritis. Kondisi ini, sangat terasa, dan kerap kali dirasakan. Dengan penuh rasa percaya diri, mereka mengajukan perintah (prompt) ke aplikasi berkecerdasan buatan, untuk membuatkan sejumlah pertanyaan, yang hendak diajukan, sebagai bahan wawancara atau interview, atau observasi lapangan.

Di sinilah, problemanya muncul. 

Mereka tidak sadar, menggantungkan pertanyaan kepada aplikasi berkecerdasan buatan (Artificial Intelligence) tanpa penghadiran sikap kritis terhadapnya. Atau, mungkin jadi, karena baru berkenalan dengan AI, dan atau belum bisa berinteraksi dengan AI secara proaktif dan dinamis, sehingga 'ketergantungan penuh' terjadi terhadap produk informasi dari AI tersebut.

Tema diskusi, terkait dengan proses rekruitmen murid atau siswa baru. Tetapi, entah mengapa, dan entah bagaiman sang mahasiswa membuat prompt terhadap AI itu, sehingga muncul pertanyaan, "bagaimana sekolah ini, melakukan perencanaan rekruitmen siswa atau murid baru?"

Kita paham maksudnya. Tetapi, pilihan kata yang digunakan, dan penempatan kata yang digunakan, untuk konteks dunia pendidikan, rasanya, menjadi aneh, dan tidak tepat-rasa. Istilah rekrutmen itu, biasa digunakan dalam dunia kerja, dan mungkin itu, untuk konteks manajemen sumberedaya manusia organisasi atau perusahaan. Sedangkan untuk konteks pendidikan, terlebih lagi untuk konteks penerimaan siswa/murid baru, sangat jarang untuk digunakannya.

Alah, mungkin, karena saya, termasuk orang yang jadul atau tidak gaul, sehingga merasa kaget dengan kebebasan penggunana kata dalam konteks itu. 

Bisa jadi demikian.

Tetapi, soal yang hendak disampaikan itu, tidak berhenti di sini. Dalam pertemuan itu, saya coba ajukan pertanyaan balik. "apakah tepat gak, disebut rekrutmen? apakah penerimaan siswa baru, bisa menggunakan konsep yang serupa itu, yang biasa digunakan perusahaan?" ditanya balik itu, mereka kaget, dan terdiam seribu basa. Hasna dan teman-temannya, terdiam, dan sambil saling lirik, seakan meminta bantuan kepada rekan yang lainnya, untuk merespon pertanyaan tadi.

Inilah problemanya. Sejatinya, pertanyaan ini, sekedar jebakan, untuk menguji dan mengukur pemahaman mereka terhadap substansi pertanyaan yang diajukan. Di sinilah, saya menyampaikan bahwa "menggunakan aplikasi berkecerdasan buatan itu perlu. Tapi, cerdasnya kita yang dibuat-buat..".

Gunakan teknologi sebagai alat bantu, bukan sumber-ketergantungan dalam proses belajar kita !!

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar