Ayat سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ merupakan salah satu ayat Al-Qur’an yang membuka Surah Al-Hasyr dengan gambaran universal tentang ketundukan seluruh makhluk kepada Allah Swt. Secara sederhana, ayat ini berarti: “Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.” Di balik susunan kalimat yang ringkas tersebut terdapat struktur nahwu yang kuat sekaligus keindahan balaghah yang mendalam.
1. Analisis Nahwu
Ayat ini diawali dengan kata سَبَّحَ (sabbaha), yaitu fi‘il māḍī atau kata kerja bentuk lampau. Kata ini berasal dari akar kata س ب ح, yang secara umum mengandung makna menyucikan dan menjauhkan Allah dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya. Bentuk سَبَّحَ merupakan fi‘il mazīd dengan pola فَعَّلَ, yang memberikan nuansa taktsīr atau penguatan makna. Dengan demikian, tasbih yang dinisbahkan kepada seluruh makhluk bukan sekadar ucapan verbal, melainkan menunjukkan ketundukan dan penyucian yang berlangsung secara menyeluruh.
Kata لِلّٰهِ terdiri atas huruf jar لِـ dan lafẓ al-jalālah اللّٰهِ. Huruf لِـ dalam konteks ini menunjukkan makna ta‘līl atau pengkhususan arah perbuatan, yakni tasbih itu ditujukan kepada Allah. Lafẓ اللّٰهِ berstatus majrūr karena didahului huruf jar لِـ, dengan tanda jar berupa kasrah.
Kemudian terdapat rangkaian:
مَا فِي السَّمَاوَاتِ
Kata مَا di sini dapat dipahami sebagai ism mauṣūl, yaitu kata penghubung yang bermakna “apa saja yang” atau “segala sesuatu yang”. Karena menjadi pelaku dari سَبَّحَ, maka مَا berkedudukan sebagai fā‘il dan secara nahwu berstatus marfū‘. Meskipun bentuknya tetap, kedudukannya secara sintaksis adalah sebagai subjek dari fi‘il سَبَّحَ.
Frasa فِي السَّمَاوَاتِ merupakan jar wa majrūr. Huruf فِي adalah huruf jar, sedangkan السَّمَاوَاتِ merupakan isim majrūr. Frasa ini berkaitan dengan maḥżūf atau unsur yang diperkirakan keberadaannya, sekaligus berfungsi menjelaskan ruang atau tempat yang berkaitan dengan مَا. Maknanya adalah “yang berada di langit-langit”.
Selanjutnya, struktur yang sama diulang:
وَمَا فِي الْأَرْضِ
Huruf وَ berfungsi sebagai ‘athaf, yaitu menghubungkan bagian kedua dengan bagian pertama. مَا kembali berfungsi sebagai isim mauṣūl dan menjadi bagian yang dihubungkan dengan مَا فِي السَّمَاوَاتِ. Sementara فِي الْأَرْضِ merupakan jar wa majrūr.
Dengan demikian, struktur subjek pada ayat ini dapat dipahami:
مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
Artinya, “segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi”. Kedua kelompok tersebut menjadi fā‘il bagi kata سَبَّحَ.
Yang menarik secara nahwu adalah penggunaan مَا untuk mencakup segala sesuatu yang berada di langit dan bumi. Penggunaan bentuk ini menghasilkan cakupan makna yang sangat luas. Tidak disebutkan satu per satu jenis makhluk, tetapi semuanya dirangkum melalui ungkapan مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ.
Setelah itu ayat beralih kepada jumlah ismiyyah:
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Huruf وَ kembali berfungsi sebagai penghubung. هُوَ adalah ḍamīr munfaṣil yang berkedudukan sebagai mubtada’. Adapun الْعَزِيزُ merupakan khabar pertama dan الْحَكِيمُ merupakan khabar kedua. Keduanya berstatus marfū‘.
الْعَزِيزُ berasal dari akar kata ع ز ز, yang mengandung makna kuat, perkasa, tidak terkalahkan, dan memiliki kekuasaan. Sedangkan الْحَكِيمُ berasal dari akar ح ك م, yang berkaitan dengan hikmah, kebijaksanaan, dan ketepatan dalam menetapkan sesuatu.
Struktur هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ dengan mubtada’ berupa ḍamīr dan dua khabar memberikan penegasan tentang dua sifat Allah yang sangat relevan dengan kandungan ayat: al-‘Azīz dan al-Ḥakīm.
2. Analisis Balaghah
Dari perspektif balaghah, ayat ini memiliki sejumlah keindahan yang sangat kuat.
Pertama adalah ijaz, yaitu penyampaian makna yang luas dengan lafaz yang ringkas. Hanya dengan ungkapan:
مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
Al-Qur’an mampu mencakup seluruh makhluk yang berada di alam semesta. Tidak diperlukan penyebutan malaikat, manusia, jin, hewan, tumbuhan, benda-benda langit, maupun unsur alam satu per satu. Semua dirangkum dalam dua wilayah besar: langit dan bumi.
Kedua adalah ṭibāq atau muqābalah maknawi antara السَّمَاوَاتِ dan الْأَرْضِ. Langit dan bumi merupakan dua arah atau wilayah yang secara makna berhadapan. Penyebutan keduanya memberikan kesan keluasan dan kesempurnaan cakupan. Tasbih Allah tidak hanya terjadi pada sebagian alam, tetapi meliputi seluruh penjuru ciptaan.
Ketiga adalah pengulangan struktur:
مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
Pengulangan kata مَا memiliki fungsi balaghah, bukan sekadar pengulangan tanpa tujuan. Jika hanya dikatakan مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, cakupan makna tetap dapat dipahami. Namun, pengulangan مَا memberikan penekanan bahwa masing-masing wilayah—langit dan bumi—secara tersendiri mencakup makhluk yang semuanya bertasbih kepada Allah. Struktur tersebut juga menghasilkan irama yang kuat dan seimbang.
Keempat, terdapat taqdīm dan ta’khīr yang menarik pada frasa لِلّٰهِ. Secara konstruksi, ungkapan tersebut ditempatkan sebelum penyebutan fā‘il:
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ
Didahulukannya لِلّٰهِ memberikan perhatian khusus kepada pihak yang menjadi tujuan tasbih. Dengan demikian, fokus makna diarahkan kepada Allah sebagai satu-satunya Zat yang disucikan dan diagungkan.
Kelima adalah penggunaan fi‘il māḍī pada kata سَبَّحَ. Pemilihan fi‘il māḍī dapat memberikan kesan bahwa tasbih tersebut telah terjadi dan merupakan ketetapan yang pasti. Dalam konteks pemberitaan Al-Qur’an, penggunaan bentuk lampau juga menghadirkan nuansa kepastian terhadap realitas tasbih seluruh makhluk.
Keenam, terdapat isti‘ārah atau perluasan makna tasbih jika kata tasbih dipahami secara luas. Tasbih tidak harus dibatasi pada ucapan manusia dengan lisan. Dalam perspektif Al-Qur’an, seluruh ciptaan memiliki bentuk ketundukan dan pengakuan terhadap kebesaran Allah. Dengan demikian, keberadaan dan keteraturan alam menjadi bagian dari tanda-tanda yang menunjukkan kesucian dan kebesaran-Nya.
Ketujuh adalah perpindahan gaya bahasa dari jumlah fi‘liyyah menuju jumlah ismiyyah:
سَبَّحَ ... وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Bagian pertama menggunakan fi‘il سَبَّحَ, sedangkan bagian kedua menggunakan jumlah ismiyyah هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. Perubahan ini memiliki nilai balaghah. Fi‘il memberikan kesan terjadinya suatu perbuatan, sedangkan jumlah ismiyyah memberikan kesan ketetapan dan kestabilan. Tasbih seluruh makhluk adalah aktivitas yang berlangsung dalam ciptaan, sedangkan sifat Allah sebagai al-‘Azīz dan al-Ḥakīm merupakan sifat yang tetap dan sempurna.
3. Hubungan antara Nahwu dan Makna
Keindahan ayat ini semakin terlihat apabila struktur nahwu dan balaghah dibaca secara bersamaan. مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ditempatkan sebagai pelaku dari سَبَّحَ. Artinya, Al-Qur’an tidak membatasi tasbih hanya pada kelompok makhluk tertentu. Struktur gramatikalnya justru membuka cakupan yang sangat luas: seluruh yang ada di langit dan bumi berada dalam hubungan ketundukan kepada Allah.
Kemudian ayat ditutup dengan:
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Penutup ini bukan sekadar penyebutan dua nama Allah. Secara semantik, kedua sifat tersebut sangat sesuai dengan konteks sebelumnya. Seluruh alam bertasbih kepada Allah karena Dia adalah al-‘Azīz, Zat Yang Mahaperkasa dan memiliki kekuasaan mutlak, sekaligus al-Ḥakīm, Zat Yang Mahabijaksana dalam menciptakan, mengatur, dan menetapkan segala sesuatu.
Dengan demikian, ayat ini membangun hubungan yang indah antara kosmos, ketundukan, kekuasaan, dan hikmah. Alam semesta bukanlah realitas yang berjalan tanpa arah. Seluruhnya berada dalam tatanan yang menunjukkan kekuasaan dan kebijaksanaan Allah.
4. Pesan Retoris Ayat
Dari sisi retoris, pembukaan Surah Al-Hasyr ini mengajak manusia memperluas cara pandangnya. Manusia sering memahami tasbih sebagai aktivitas verbal yang dilakukan dengan lisan. Akan tetapi, ayat ini menghadirkan gambaran yang jauh lebih luas: seluruh alam berada dalam lingkup tasbih kepada Allah.
Ungkapan مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ seolah-olah menghadirkan seluruh alam di hadapan pembaca. Langit dengan segala isinya, bumi dengan seluruh penghuninya, semuanya berada dalam satu kesatuan pengabdian kepada Allah. Di tengah keluasan tersebut, manusia diingatkan bahwa dirinya bukan pusat alam semesta, melainkan bagian dari ciptaan yang tunduk kepada Sang Pencipta.
Penutup الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ kemudian mengarahkan perhatian kembali kepada Allah. Kekuasaan-Nya (al-‘Azīz) tidak berdiri tanpa hikmah, dan hikmah-Nya (al-Ḥakīm) tidak terlepas dari kekuasaan. Dua sifat tersebut membentuk kesempurnaan dalam pengaturan seluruh alam.
Kesimpulan
Secara nahwu, ayat ini dibangun dengan struktur yang sangat ringkas namun kokoh: سَبَّحَ sebagai fi‘il, مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ sebagai unsur pelaku yang mencakup seluruh makhluk, kemudian وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ sebagai jumlah ismiyyah yang menetapkan dua sifat Allah.
Secara balaghah, ayat ini memperlihatkan ijaz, pengulangan untuk penegasan, keseimbangan struktur, taqdīm, keluasan cakupan makna, serta perpindahan dari jumlah fi‘liyyah menuju jumlah ismiyyah. Semua unsur tersebut berpadu menghasilkan pesan bahwa seluruh alam berada dalam ketundukan kepada Allah, sementara Allah sendiri adalah Zat Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Dengan susunan yang hanya beberapa kata, ayat ini mampu menghadirkan gambaran kosmik yang sangat luas: alam semesta bertasbih, manusia diajak menyadari posisinya sebagai makhluk, dan Allah ditegaskan sebagai penguasa yang memiliki kekuasaan sekaligus hikmah sempurna.
-o0o-
Disusun AI

0 comments:
Posting Komentar