Just another free Blogger theme

Sabtu, 12 September 2026

Masih membicarakan Hasna. Seorang mahasiswa, dengan 2 orang rekanannya, yang melakukan wawancara di pagi ini. Sesungguhnya, momen kejadian itu, tidaklah istimewa. Pertemuannya biasa saja, sama serupa dengan yang lainnya, yang melakukan hal serupa, seperti hari ini. Perbedaannya itu, sekedar, saat ini, ada waktu untuk menuangkannya dalam curhatan ini.


Itu saja.

Karena, gemes, dan juga kesal dibuatnya, pertanyaan serupa disampaikan terus, dan ditanyakan secara berulang, seakan menjadi format baku dalam melakukan wawancara. Beberapa kali, sebelum hari ini, masih dianggap biasa. Tetapi untuk kali ini, rasanya, harus saya tuangkan segera di sini, sebagai bagian dari ekspresi dan ekspose kegelisahan intelektual orangtua dengan kondisi anak muda saat ini.

Pertanyaan serupa, dengan yang lainnya. Di akhir perbincangan itu, dia mengajukan pertanyaan, "apa kendala yang berarti, dalam pengembangan sistem manajemen informasi pendidikan di tempat ini?"

Seakan menjadi sebuah pertanyaan kritis. Setidaknya, mungkin demikianlah, versi sang penanya. Tetapi, sebagai objek pembicaraan saat itu, terasa kaku dan baku, dan bahkan berulang. Hingga terbersit dalam pikiran ini, "apakah struktur berpikir, sang pembimbingnya itulah, yang membekas dalam kekakuan dan kebakuan struktur pertanyaan ini ?"

Pertanyaan itu, kerap kali hadir, disesi terakhir obrolan. Setidaknya, demikianlah yang saya rasakan selama ini. Mungkin yang lain, tidak sampai di situ, dan lagi pula, semoga saja, yang lain tidak demikian. Hanya kebetulan, nasib sayalah yang mengalami serupa itu, sehingga dihadapkan pada pertanyaan serupa dan baku tersebut.

Dihadapkan pada pertanyaan itu, tentu saja, tidak mengalami kesulitan. Satu sisi, sudah biasa bertemu dengan pertanyaan serupa itu, dan pada sisi lain, substansinya tidak terlalu berat untuk dicarikan jawabannya. Sehingga, dengan rileks, mental dan pikiran ini, sudah siap dengan serangkaian kalimat yang diharapkan, dapat dijadikan sebagai jawaban terhadap pertanyaan dimaksud.

Namun entah mengapa, pikiran nakal ini, malah muncul dibenak. Dihadapkan pada pertanyaan itu, kemudian langsung memberikan komentar, "sesungguhnya, kendala yang paling besar, dan tidak terselesaikan dari dulu itu, adalah setiap diwawancara, mahasiswa hanya bisa bertanya, dan sekedar bertanya, tidak pernah memberikan solusi, setelah melakukan observasi.."

Mendengar komentar itu, kelompok mahasiswa itu, terperangah dan sedikit terkejut. Kemudian, mereka mengajukan permohonan maaf. 

"iya, kan ? kalian itu, hanya bisa bertanya, dan tidak pernah memberikan solusi ? padahal kalian, membawa bendera kelompok akademik dan intelektual, dan melakukan observasi, atasnama tugas akademik, tetapi setelah melakukan tugas akademik itu, kalian tidak memberikan rekomendasi atau solusi apapun, terhadap lembaga atau masyarakat yang diobservasi itu?"

Di komentari begitu, kelompok mahasiswa itu, masih juga, ketawa-ketiwi kecil, sebagai bentuk pengakuan.

"kalian senang mendapatkan nilai A, dari laporan tugas observasi ini. Kalian senang mendapatkan sejumlah informasi yang kami sampaikan dalam interview ini. Tetapi, kalian hanya sekedar itu, dan kami tetap begini adanya !!!!. tidak ada perubahan, setelah kalian observasi dan amati " 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar