Just another free Blogger theme

Senin, 09 Maret 2026

 Berkesempatan membaca, atau istilah lainnya menelaah terjemaahan dari karya Ibnu Rusyd, saya tertarik untuk merumuskan ulang relasi filsafat dan Syari’ah. Tetapi, saat menelaah relasi antara filsafat dan Syari’ah ini, saya pun malah teringat pada Yahya Muhammad, yang menulis karya dengan tema Metodologi Sains dan Pemahaman Keagamaan. Kedua buku ini, memuat hal yang serupa. Perbedannya, Ibnu Rusyd menelaah relasi antara Syari’ah dan Filsafat, sedangkan Yahya Muhammad menelaah relasi sains dan Agama (Muhammad 2026; Rusyd 2024).

Nalar kita, bisa saja, iseng dengan mengajukan pertanyaan trilogi relasi itu sendiri, yakni bagaimana relasi antara Sains, Filsafat dan Agama. Kajian serupa ini, menarik dan bisa mendinamiskan kompetenasi narasi dan nalar kita hari ini, dan kedepan.

 


Seperti yang disampaikan Aksin Wijaya, Ibn Rusyd, kerap menggunakan kata ’dien’ (agama), selain konsep syari’ah. Bahkan menurutnya, di Kitab Tahafut Tahafut, kedua kata itu digunakan secara besamaan. Oleh karena itu, saya menganggapnya dan memosisikan syari’ah dalam pemikiran Ibnu Rusyd, semakna dengan agama dalam narasi yang disampaikan Yahya Muhammad, walaupun bisa jadi, ada pemikiran lain, untuk bisa membedakan ruang lingkup dan cakupannya.

Kita tidak mudah untuk menemukan duduk persoalan dan atau pola relasi antar ketiga komponen itu. Untuk sekedar dua komponen saja, sebagaimana yang disampaikan Ibn Rusyd maupun Yahya Muhammad, memiliki kompleksitas tersendiri. Dengan demikian, kompleksitas persoalan itu, akan semakin tinggi, bila menggunakan tiga komponen  tadi.

Namun demikian, karena pertanyaan ini, sudah mengemuka, maka mau tidak mau, siapapun kita, dituntut untuk mengeksplorasi persoalan ini, sehingga bisa memberikan jawaban yang memuaskan bagi pembaca, dan atau umat, khususnya umat Islam.

Apakah dengan demikian, ruang-karya tulis yang kecil ini, mampu memberikan jawaban yang memuaskan ? mungkin ya, mungkin tidak. Bergantung sudut pandang, atau pemaknaan yang kita miliki itu sendiri. Artinya, bila saja, kita sekedar megetahui pandangan umumnya saja, maka akan lebih sederhana, dibanding dengan analisis kritis secara terperinci terhadap tema tersebut.

Ada konsep dan sistematika berpikir yang bisa digunakan di sini, dalam memahami hubungan ketiga komponen itu. Sistematika pemikirannya itu, dirujukkan pada Nidhal Guesom (Rusyd 2024; Zulfis 2019).

Pertama, konflik. Dalam konteks tertentu, teori evolusi dan fislafat  materialisme, memiliki pandangan yang kontras dan bahkan kadang bertolak belakang dengan Syair’ah atau Agama. Kajian ini, sudah diperdalam oleh Yahya Muhammad dan Sayyid Muir Al-Khabbaz.  Kedua pemikir terakhir itu, memandang bahwa ada tema-tema tertentu, atau kecenderungan pola pikir naturalisme, atau filsafat materialisme, mengarah pada ateisme (Khabbaz 2025; Muhammad 2025, 2026).  Pandangan ini, tentunya berbeda secara diametral dengan pandangan keagamaan atau Syariah.

Karya yang fenomenal, tentunya bisa menyebutkan satu diantara sekian karya ilmiah itu, adalah Tahafut al-Falasifah (kerancuan filsafat) karya Imam Ghazali.  Dalam karyanya ini, Imam Ghazali yang dikenali sebagai hujjatul Islam atau Pembela Islam,  mengkritik pola pikir filosof dan karya-karya pemikirannya (Ghazali 2003).

Kedua, independensi. Seperti yang diakui Aksin Wijaya, Ibnu Rusyd pun memberikan pandangan adanya independensi. Filsafat memilliki metode dan objek tersendiri, demikian pula sains, dan juga syariah atau agama. Ketiga bidang keilmuan ini, memiliki wilayah-keilmuan yang khas, dan ’mungkin jadi’  dalam batasan tertentu, satu diantara yang lainnya tidak bisa memasukinya. Ibnu Rusyd, menyebut filsafat dan Syariah itu, ”
dua saudara perempuan sepersusuan.” (Rusyd 2025). Dalam konteks kita, agama, filsafat dan sains, adalah tiga saudara sepersusuan. Menurut al-Jabiri, sebagaimana disampaikan Udin Juhrodin, Ibn Rusyd tidak bermaksud untuk rekonsiliasi (muwaffiq), melainkan memisahkan dengan tegas (fashl), dan menjelaskan otonominya masing-masing (Rusyd 2025).

Ketiga, dialog. Meminjam penjelasan dari Aksin Wiijaya, dalam kategori ini, Filsafat dan Syariah, secara bersama-sama mengaji sesuatu hal yang sama, dan memiliki akhir kebenaran yang sama. Menurut Ibnu Rusyd, sebagaimana disampaikan Aksin Wijaya, hal itu tidak jadi masalah (Rusyd 2024). Yahya Muhammad menyebutnya hubungan timbal balik (Muhammad 2026).

Keempat, integrasi. Hipotesis terakhir ini, memandang dan berharap, ada upaya pemaduan pandangan dalam satu pendekatan. Pendekatan dimaksud adalah pendekatan terpadu atau terintegrasi. Dalam konteks ini, eksperimen pemikiran, terus dilanjutkan dan terus berkembang. Karena sains dan filsafat, sejatinya, dalam batasan tertentu, tumbuhkembang pula di dunia Islam, atau syari’ah.

Tidak bisa dipungkiri, peradaban Islam dihiasi oleh karya-karya filosofis dan sufistik, misalnya dalam Al Hikmatul Al-Muta’aliyah. Kemudian, di kalangan Muslim pula lahir sains-sains modern, seperti yang ditunjukkan Ibn Sina dan ar-Razi dalam kedokteran, Al-Khawarizmi dalam matematika dan astronomi, Ibn Bathuta dalam Geografi, dan masih banyak lagi. Hal itu menunjukkan bahwa kesadaran beragama (syari’ah), tidak menghalangi seseorang untuk mengembangkan nalar saintifiknya.

Bila kita mempelajari Ibn Rusyd sendiri, kita bisa melihat bahwa beliau bisa memadukan antara pemikiran filosofis, dengan fiqh, setidaknya itulah yang beliau tunjukkan dalam karyanya yang berjudul Bidayatul Mujtahid.  Sedangkan, Al-Ghazali dalam satu sisi memiliki wajah filosof, sufistik dan juga paham syari’ah Islam.  

Ada satu lagi, yang mungkin bisa terjadi itu, yaitu bersifat saling menjelaskan (interpretasi). Yakinkan, sains terus berkembang, dan pemikiran filosofipun demikian. Kesadaran akan dinamika dan progresifitas pemahaman kita, terhadap ketiga hal itu, menuntut da reinterprestasi, kajian berkelanjutan, dan pendalaman lebih lanjut, terhadap pemahaman-pemahaman yang sudah ada. Sehingga pada akhirnya, seperti yang disampaikan Yahya Muhammad, Sains bisa dijelaskan agama (syari’ah), atau syari’ah yang bisa dijelaskan oleh sains. Demikian pula dengan filsafat. Ibnu Rusyd, mengatakannya bahwa jika ada perbedaan maka perlu ada pendekatan takwil untuk menemukan keselarasan pandangan dalam hal yang berbeda tersebut.

Merujuk pada pemetaan itu, bagaimana masa depan hubungan antara ketiga modal peradaban modern itu ? semuanya, akan bergantung pada perspektif kita, dalam memahami tujuan hidup dan masa depan kehidupan ini !  Dalam khazanah Islam, kajian mengenai hal inilah, yang masuk dalam kategori pengajian mengenai maksud hakiki dari penciptaan manusia (maqashidul khalqi).


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar