Saat memahami peristiwa perang Iran dan AS-Israel, ada yang menarik, dalam lisan dan keyakinan bangsa kita ini. Saya ingin menyebutkan, kekeliruan. Atau lebih tepatnya, kekeliruan penalaran, yang kemudian berujung pada kekeliruan Sikap, Tindakan dan Pilihan Keberpihakan.
Lha, mengapa bisa dinyatakan demikian ?
Pertama, kita, atau lebih tepatnya, saya, merasa ada kesalahan menafsirkan terhadap tindakan Amerika Serikat. Di bawah kepemimpinan Donald Trump hari ini, AS menunjukkan sikap sebagai penguasa dunia, dan pengatur dunia. Presiden Venezuela di culik, dan rezimnya di ganti sesuai dengan kepentingannya. Hari ini, pun demikian, dengan obsesi AS terhadap Pemerintahan Iran.
Fenomena ini, menyentuh nalar publik, bukan hanya untuk bangsa Indonesia, tetapi untuk seluruh manusia di planet bumi. Adakah yang disebut kedaulatan bangsa, negara atau budaya di dunia ini ? atukah, semuanya akan dikendalikan di atur oleh AS, sebagai negara besar dan kuasa itu ? Tepatlah, bila kemudian beredar, apakah AS adalah admin dalam kehidupan global ini, sehingga memiliki kewenangan untuk menerima dan mengusir seseorang dari grup-planet bumi ini ?
Kedua, kekeliruan atau kegagalan dalam memahami motivasi. Bukan hal yang pertama, Amerika Serikat menggunakan dalil-global dan universal, untuk melakukan tindakan dan aksi militer. Penculikan Nicholas Maduro, menggunakan dalil perdagangan narkoba. Panghancuran Irak di bawah kepemimpinan Saddam HUssein dengan dalil kepemilikan senjata biologis. Dan serangkan ke Iran, hari ini, dengan tuduhan kepemilikan terhadap senjata nuklir.
Dalil yang digunakan AS, seakan rasional, global dan menyentuh keamanan dan stabilitas nasional. Kita semua terhipnotis, walaupun pada ujungnya, orang meragukan, benarkah Venezuela menjadi negara perantara penjualan narkoba dan Irak memiliki senjata biologis? Hal yang menguat, baik terkait Venezuela dan Irak, adalah ambisi AS untuk menguasai sumberdaya minyak yang ada di kawasan tersebut.
Ketiga, kekeliruan dan kegagalan kita, dalam memahami Iran. Ada sebagian yang menunjukkan sikap kurang simpati dan tidak peduli dengan yang di derita Iran, karena Iran adalah negara Syiah. Pertanyaan pokoknya, apakah penderitaan sebuah bangsa, boleh dibiarkan karena ada perbedaan keyakinan dengan kita ? apakah karena alasan itulah, sehingga masyarakat dunia membiarkan Iran di serang AS, karena dia Syi'ah, membiarkan orang Uighur di musnahkan karena dia Islam (mungkin Sunni), kita membiarkan Palestina berjuang sendiri, karena dia muslim ?
Bila demikian adanya, dimanakah letak perlindungan hak asasi manusia itu, yang konon disebut universal dan mendasar bagi manusia ? dimanakah letak kesadaran kita, terkait dengan hak asasi dasar manusia, hak kedaulatan manusia dan negara, bila kemudian, hal itu dikaitkan dengan masalah keyakinan-keyakinan diri kita, dengan orang yang sedang menjadi korban ?
Keempat, ada kalimat yang sarkas di media sosial. Jika saja, kita tidak peka dan tidak peduli, terhadap derita dan penderitaan Iran karena Syi'ah, apakah AS-Israela adalah Sunni, sehingga kita tidak memprotes dan malah membiarkan seakan mendudukungnya ?
Aspek keempat ini, merupakan bentuk kekeliruan nyata. Serupa dengan argumentasi sebelumnya. Kalau saja, pembelaan kita, lebih disandarkan pada kesemaan atau perbedaan narasi-keyakinan dan budaya, maka apakah pembiaran dan keberpihakan pada pelaku kekerasan itu pun, menunjukkan bahwa keyakinan dan budayanya sama dengan diri kita ?
Entahlah, kadang manusia di dunia ini, lebih percaya pada narasi politik, dibandingkan dengan narasi-asasi yang terjadi. Perang adalah perang, perebutan kekuasaan adalah perebutan kekuasaan. Kedaulatan manusia, hak asasi manusia, hendaknya tetap dijadikan patokan dalam memahami peristiwa itu. Hal itupun, andai kita, mengakui bahwa standar kehidupan global itu, adalah perlindungan terhadap HAM, bukan yang lain.
Tetapi, sekali lagi, bila kita lebih percaya pada narasi politik penguasa, dan bukan pada esensi peristiwa, maka hal itu, menunjukkan ada sesuatu yang keliru dalam diri kita.
Terakhir, kekeliruan kasuistik. Peristiwa ini, dianggap lebih disebabkan karena kasus AS-Israel dengan Iran. Ada yang merasakan bahwa kejadian itu, tidak akan terjadi pada negara kita, seakan-akan demikian. Padahal, yang namanya politik, hasrat ekonomi, atau ambisi kekuasaan, tidak mengenal geografik dan waktu.
Di media sosial kita sudah mendapatkan informasi. Setelah Venezuela, kemudian Iran, dan setelah Iran, AS memalingkan wajah ke Greenland yang dikuasai Denmark, dan kemudian setelah itu, adalah Kuba.
Renungkan bersama. Bila ambisi itu, tidak ada yang mengoreksi, dan membiarkan AS-Israel itu mengejar ambisi kekuasaannya, apakah ada garansi, bahwa negara kita tidak akan menjadi bidikan mereka ?
Tentu, jawabannya, percaya. kita tidak akan menjadi sasaran AS-Israel. Alasannya, karena secara ekonomi, transaksi ekonomi global Indonesia - AS, sudah menguntungkan mereka. Pajak masuk, dari kita ke mereka 19%, sedangkan dari AS ke Indonesia, diposisikan 0%. Artinya, kita yakin tidak akan diserang oleh AS-Israel, karena ekonominya sudah menguasai negara kita.
Begitulah, pendapat sebagian orang, di tengah masyarakat kita.
Kembali lagi, pada soalan kita hari ini, adalah keliru, bila memiliki keyakinan bahwa AS-Israel, tidak akan menyerang Indonesia. Coba dipikirkan, bagaimana jadinya, bila AS-Israel dengan membuat dalil yang mereka kreasi sendiri ? sementara mereka, kerap kali, bandel dengan persepsinya sendiri, dan tidak mau mendengar konfirmasi atau verfikasi faktual dari internal negara yang dituduhnya ?
Apakah, karena kekeliruan pemahaman kita, dalam memahami peristiwa perang Iran-AS Israel itulah, maka kemudian, minimnya simpati kita terhadap penderitaan dari orang-orang, atau bangsa-bangsa di Dunia, yang mengalami penderitaan akibat penjarahan hak asasi kemanusiannya ?
bagaimana menurut pembaca?
0 comments:
Posting Komentar