Just another free Blogger theme

Selasa, 10 Maret 2026

Degradasi Standar Tugas Perkembangan. Itulah yang ingin disampaikan atau diwacanakan di sini. Mungkin jadi, istilah ini, tidak tepat, atau malah lebih jauhnya lagi, miskonsepsi. Saya rasakan, dan sadari itu. Tetapi, nalar ini keukeuh ingin, tetap menggunakan istilah ini, untuk menggambarkan realitas sosial yang tumbuhkembang di sekitar kita.

Satu waktu. Tepatnya, tidak lebih dari satu bulan terakhir ini, tetapi memang bukan di minggu ini. Kumpul dengan rekanan seprofesi, tenaga pendidik, walaupun sedikit lintas disiplin ilmu. Sebagai orang yang berlatar belakang geografi dan ilmu sosial, hari itu, berkumpul dengan sejumlah rekanan yang berasal dari latar belakang psikologi, atau bimbingan dan konseling.  Pertemuan dan obrolan itu, semula sekedar shilaturahmi biasa. Namun, lama kelamaan, pembicaraan memasuki ranah yang serius, dan membutuhkan penalaran yang tepat.



"sekarang sudah mulai ramai lagi..?" rekanan dari BK, memancing. Kemudian, ditimpali juga oleh guru BK yang lainnya. Mereka mengiyakan, adanya informasi kenakalan remaja di lingkungan lembaga pendidikan. Saya sendiri, belum konek dengan ajuan persoalan itu. Maklum, agak sedikit lelet, dan kurang fokus dengan pembicaraan tadi.

"kasus apa lagi?" tanyaku, pendek. Harapan untuk mendapat penjelasan sangat kentara, dan tegas. Karena, pertanyaan itu, seakan mengandung soalan yang luar biasa berat, dan butuh penanganan yang serius.

"itu, masalah anak-anak. Pacaran." jawab dia singkat. Jawabannya jelas, dan tegas, namun, malah memantik pertanyaan lanjutan. Karena untuk konteks tenaga pendidik atau petugas BK yang berada di level SMA/SMK/MA, rasa-rasanya, fenomena anak-anak pacaran adalah hal biasa.

"bukankah, hal itu, adalah bagian dari tugas perkembangannya..." respon yang lain. Di komentari demikian, sebagian yang lain, ada yang membantu menjelaskan, bahwa untuk anak usia di jenjang pendidikan menengah, salah satu bagian penting perkembangan psikologisnya adalah mengenali konsep diri, dan konsep orang  lain, serta belajar berusaha untuk diterima oleh orang lain. Oleh karena itu, pacaran adalah satu fenomena psiko-sosial yang wajar, dan tidak perlu dipahami sebagai sesuatu yang berbahaya. Begitulah pandangan sebagian lainnya.

"betul, tetapi masalah lebih dalam lagi. Bukan sekedar pacaran, tetapi sudah  menciptakan konsep-konsep pacaran yang ada di tingkatan yang lebih tinggi. Mereka sudah memanggil mama-papa, aa-dede, papa-mama, pipi-mimi, atau sebutan lainnya, seakan menggambarkan kedekatan psikologis yang lebih intim, sekedar interaksi dua remaja.."

Terbayang sudah. Dulu, zamannya anak-anak milenial pacaran, paling popular menggunakan variasi panggilan sayang atau si cinta. Tetapi, untuk hari ini, panggilan-panggilan pasangan-yang berumah tangga, sudah turun ke level pacaran. Kepada pacarnya, ada yang sudah menggunakan panggilan mpah untuk lakinya, dan mamah untuk perempuannya. Mereka, menurunkan simbol-simbol linguistik orang yang berkeluarga, menjadi simbol linguistik di level pacaran. 

Terungkap pula, bahwa kejadian itu, bukan sekedar terjadi di level sekolah menengah. Anak-anak SMP pun, tampak sudah terbiasa dengan simbol linguistik kekeluargaan itu, dihadirkan di fase pacarannya.

Sekali lagi, itulah fenomena yang disebut dengan penurunan persepsi tugas perkembangan !!!

Ah, kalau begitu, berarti, cuma ada peminjaman simbol linguistik dalam konteks interaksi sosial.. komentku kepada mereka.

"Di sinilah, persoalan yang lebih rumit lagi..." seorang tenaga BK, yang memiliki pengalaman membina anak-anak di sekolah SMP, dan SMA secara bersamaan. "mereka itu, sudah melakukan interaksi sosial, melebihi standar kekanak-kanakkan. Kalau pelukan dan ciuman, itu sudah biasa. Di sejumlah kasus, pergaulan bebas, yang tak terkendali, dan juga diimbuhi dengan minuman keras dan merokok, sangat mudah di temukan di anak-anak muda sekarang, termasuk pada anak di jenjang pendidikan SMP..." kisahnya, "saya dapat informasi itu, dari rekanan kita yang lainnya.." tambahnya lagi.

Sampai pada level inilah. Saya merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi di tengah masyarakat kita, khususnya di kalangan anak muda sekarang. Gejala yang saya rasakan itu, adalah penurunan standar tugas perkembangan. Tugas perkembangan orang dewasa, sudah dilakukan  anak remaja. Tugas perkembangan anak remaja, ada yang sudah dilakukan anak-anak, dan anak-anak sudah terbiasa dengan kelakuan yang tidak pantas dilakukannya, dan hanya pantas dilakukan orang dewasa, sudah menjadi kebiasaannya.

Kalangan sosiolog, atau ilmuwan sosial, tentunya, tidak akan melihat seperti ini. Fenomena itu, lebih dipandang sebagai bentuk lain, dari adanya perubahan sosial yang terjadi dimasyarakat. Perubahan sosial itu terjadi, tentunya akan sedikit menggoyang norma sosial yang dianut oleh masyarakat sekitarnya.

Sekali lagi, dalam konteks serupa itu, maka apa yang perlu dilakukan dan harus dilakukan kita semua, khususnya sebagai orangtua dan atau tenaga pendidik, dan atau tenaga BK ?

Bagaimana menurut pembaca ?



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar