Just another free Blogger theme

Selasa, 03 Maret 2026

 Ada yang bertanya, ”bagaimana, kamu bisa senyaman itu, menghadapi situasi ini ? bukankah kau, baru saja mendapat berita, yang tidak mengenakkan ?



”wah, hebat, bisa tegar..” adalah penggalan apresiasi rekanan yang lain, melihat keadaan diri, dalam menghadapi kenyataan hidup hari ini, atau dalam beberapa hari terakhir ini.

”tidak begitu juga..” ucapku pendek. Saya masih normal. Normal dalam pengertian, saya pun merasa sedih, dan menyesal, mengapa tidak melakukan ikhtiar yang maksimal, sehingga keputusan akhir ini, harus kembali tidak sesuai dengan harapan.

Jawaban serupa itu, masih saja, tetap tidak memberikan kepuasan terhadap rasa heran rekan-rekan lain, dalam mengatasi realitas ini.  Sebagian ada yang menunjukkan kebanggaannya, atas kemampuan diri dalam mengatasi situasi ini, tetapi ada pula sebagian yang menunjukka keheranannya, terhadap respon diri yang tidak menunjukkan kesedihan yang maksimal, terhadap kenyataan ini.

”kayaknya, kemarin tidak serius, ya..” candanya, dengan maksud memancing dialog, guna menemukan alasan, atas kemampuan diri, dalam menghadirkan suasana tetap tenang, dan tangguh dalam menghadapi kenyataan.

Adalah aneh juga. Ternyata orang-orang di sekitaran itu, ada juga yang berharap saya bisa menunjukkan sikap sedih, dan murung, berhadapan dengan keputusan yang baru saja dialaminya hari ini. Ada yang berharap, saya bsia menunjukkan kesedihan dan kepedihan itu. Mereka menilainya, hal itu sebagai reaksi emosional yang wajar, dan normal. Bukan seperti yang ada sekarang ini.

Ada pengalaman unik, khususnya saat melakukan pendalaman kasus di lingkungan kerja. Seperti biasa, saat berkunjung ke ruang Bimbingan/Konseling, selalu saja ada hal baru. Lebih tepatnya, ada salah masalah baru, yang harus diselesaikan oleh orang-orang BK. Seperti hari itu.

Ada seorang anak, perempuan. Posisi masih di kelas X-D. Kasus yang mencuat dari wali kelas dan guru-guru, juga teman-temannya, adalah angka kehadiran di kelas, yang sangat minim. Selain itu, bila kedapatan masuk kelas pun, di jam-jam tertentu, seringkali minta izin ke luar, dengan alasan ke WC, yang pad kenyataannya malah tiduran di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Temuan demi temuan, serta laporan demi laporan itulah, yang kemudian memaksa tim BK harus memanggilnya, dan mengonfirmasinya, terkait ragam soal yang diajukan tadi.

Luar biasanya, saat sang Siswa itu hadir di ruang BK, dan bahkan, hadir pula pejabat kesiswaan, dia menunjukkan sikap tegas, tanpa ada kekhawatiran atau merasa bersalah sedikitpun. Disaat, guru BK menanyakan, atau tepatnya mengonfirmasi ragam masalah yang dikeluhka sejumlah pihak, dengan tegas, dia menjawab, ”iya, bu, betul..”, dengan mimik wajah yang tidak berubah, masih bisa senyum dan ketawa kecil.

”kamu tahu, bahwa kelakuan kamu itu, bisa menyebabkan nilai di sejumlah mata pelajaran, jadi rendah..?”, ditanya demikian, jawabannya, cukup dengan anggukan, dan tanpa merubah wajah, menjadi sebuah kekhawatiran.

”tahu gak, bahwa sikap kamu selama ini, bisa menyebabkan kamu pun, tidak akan bisa naik jenjang, secara mudah..”. pertanyaan serupa ini, sekali lagi, cukup di jawab dengan anggukan. Wajahnya tak berubah.

Guru yang hadir, terheran-heran. ”kamu tuh, cantik, tapi, mengapa kamu bersikap seperti ini ? gimana, kalau gak naik kelas?”,  ungkap yang lainnya, menimpali  masalah, yang terjadi saat itu.

Saya, termasuk yang hadir saat itu, sangat heran, dan dibuatnya bingung. Anak yang dihadapan kami ini, sungguh luar biasa. Pemanggilan oleh BK, dengan ragam masalah yang diajukan itu, serta ancaman masa depan, yang sudah disampaikan itu, umumnya menyebabkan beberapa anak berbalik sikap, dan kondisi batin. Ada yang merasa kaget, dan bahkan, sedih dibuatnya. Namun, untuk kali  ini, keadaan yang akan dibayangkan, sebagai kondisi normal itu, hampir tidak tampak. Wajahnya, yang  masih lugu, lucu, dan memang tampak menarik itu, seakan tidak terganggu dengan sejumlah ucapan dan ancaman yang disampaikan guru BK.

Mohon maaf, kita tidak akan mengulas tuntas masalah ini, dan mengisahkan seutuhnya. Namun, ada soalan yang menarik untuk disampaikan di sini, yakni mengapa hal itu terjadi ?

Selidik punya selidik, dan pengumpulan data serta informasi, bahwa siswa tersebut, adalah siswa yang berasal dari sekolah swasta di sekitaran tempat kerja, dan langganan BK. Selama di sekolahnya dulu itu, dia sering dipanggil, namun ancaman demi ancaman, tidak ada yang terbukti, dan bahkan dia bisa lulus, tanpa kurang apapun.  Karena pengalaman hidup serupa itu, maka sebagian pihak memandang, melahirkan pribdi dia yang cuek, tenang, dan tidak merasa khawatir dengan sejumlah persoalan yang dihadapinya. Dia sudah biasa  berhadapan dengan petugas BK, dan hasil akhirnya sudah dia bayangkan sendiri. ”akan, aman, biasa sajalah..” pikirnya, mungkin demikian.

Betul. Ada dua keadaan yang menyebabkan seseorang, bisa menunjukkan sikap tenang, dan nyaman dalam menghadapi sebuah situasi, yang dipandang orang perlu dikhawatirkan. Dua keadaan tersebut, yaitu (1) adanya pengalaman, yang melahirkan kualitas kematangan sikap dan hidup, serta (2) konsekuensi akhir, yang tidak selamanya, seperti yang dibayangkan, atau yang diucapkan.

Bisa jadi, kita akan diingatkan oleh teori psikologi. Pengalaman, baik itu pengalaman baik atau buruk, bila sudah dirasa nyaman dan menyenangkan, maka akan melahirkan kematangan sikap untuk mengulanginya. Jika pernah punya pengalaman, lolos dari jeratan razia polisi, disaat tidak menggunakan helm, maka seorang pemotor akan berani untuk mengulanginya. Jika pernah punya pengalaman sukses, dengan menjual barang melalui online, maka akan ketagihan untuk mengulanginya. Pengalaman sukses, baik dalam melakukan kebaikan akan keburukan, sejatinya akan menjadi bagian dari pembelajaran hidup bagi si pelakunya. Kiranya, hipotesis itulah, yang bisa menjelaskan sikap dan perilaku siswi yang dihadapi saat itu.

Tidak kalah pentingnya lagi, yakni pengalaman kuat, mengenai akhir dari sebuah kisah itu,  tidak selamanya terjadi sebagaimana yang diucapkan atau dipikirkan. Saat menghadapi tantangan, kemudian terbayang dampak buruk yang mengerikan, maka sejatinya,akhir kisah itu, tidak selamanya, sesuai dengan yang dibayangkan.

Suatu hari, saya sempat membayangkan bahwa kalau naik roll coster itu, bila lagi tidak mujur, seseorang bisa terpelanting keluar jalur, dan mengakibatkan sesuatu yang tidak diinginkan. Jatuh dari ketinggian. Itulah yang dibayangkan dan terbayangkan. Tetapi, setelah mencoba, dan begitu pula melihat pengalaman orang lain, ternyata, permainan itu, sangat seru dan mengasyikkan. Kekhawatiran yang dibayangkan, ternyata tidak selamanya terjadi sesuai dengan yang dibayangkan atau dikisahkan orang lain.

Karena dua hal itulah, ragam kejadian dalam kehidupan ini, bisa memberikan efek kematangan terhadap para pelakunya. Dan, demikian pula, yang terjadi pada diri saya waktu itu.

”oh, memang, kejadian ini pernah terjadi sebelumnya?”, tanya seseorang, yang ternyata, sedari tadi masih serius menyimak kisah, yang sedang dituturkan ini.

”bukan saja pernah, tetapi, peristiwa serupa ini, sering terjadi di negeri kita. Masih ingat, kasus Mahfud MD, saat ditawari untuk menjadi wakil presidennya Jokowi, pada periode kedua ? bukankah, beliau sudah berangkat dari rumah, dan mendekati kawasan Istana, dengan membawa peralatan seragam pelantikan, capres-cawapres tahun 2019 ?”. Tampaknya, kita tidak akan melupakan kisah itu. Hanya dalam hitungan beberapa jam, keputusan calon Presiden, dan partai, mengubah rencana itu, dan membatalkan orang yang sudah ditelepon sebelumnya.

Kejadian itu, bukan hanya kisah orang lain. Walaupun, dramanya tidak seekstrim itu, namun pengalaman gagal dan batal dengan keputusan serupa itu, pernah terjadi juga. Dan itu, bukan hanya sekali ini saja, dan pernah terjadi, beberapa kali sebelumnya. Oleh karena itu, mungkin, karena pengalaman-pengalaman itulah, yang membuat, sikap dan reaksi saya hari ini, adalah seperti ini adanya.

Mendengar tuturan dan pernyataan waktu itu, yang tiada lain, adalah sebuah pengakuan terhadap kisah sebelum kejadian ini, memberikan informasi yang menyakinkan, bagi mereka yang hadir hari itu, untuk mengatakan, ”oh, pantesan, responnya, bisa sekedar serupa itu saja...”


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar