Kita sering kali dipusingkan oleh kegaduhan. Tepi, kegaduhan itu sendiri, kadang disebabkan karena kita diam. Karena kita diam, dan diam yang sangat lama, maka kegaduhan itu, pun, terjadi sangat lama. Oleh karena itu, sangat mudah menyusuan rumusah masalahnya, bahwa kegaduhan segaris lurus dengan kediamannya kita sendiri.
Di lingkungan keluarga. Istri cemberut, karena ada masalah sengkarut dengan suaminya. Kesalnya sudah memuncak, sang Suami malah diam seribu basa. Ujungnya, kekesalan sang Istri berlarut-larut, malah menjadi penyebab gaduhnya suasana dalam keluarga itu. Tambah runyam. Anak dibuat tidak mengerti. Mertua, hendak ikut campur takut, tambah berantakan. Tetangga, sekedar menjadi penonton setia, kendati ada yang sambil tersenyum, atau ada pula yang sangat menyayangkannya.
Bila saja, para guru, berdiam diri, untuk bersikap mengenai rangkaian kasus yang terjadi di kelas. Anak bolos dianggap biasa. Anak kesiangan, dianggap lumrah. Anak berdandan berlebihan, dianggap hak asasi. Andai ditegur khawatir melanggar HAM, dan pada ujungnya, guru pun, lebih banyak mengambil posisi berdiam. Diam. Namun, justru karena diamnya itulah, yang menyebabkan kegaduhan, baik di kalangan siswa, maupun di kalangan orangtua, dan para guru itu sendiri.
Rasanya
adalah sebuah paradoks. Kontradiktif. Dan diam adalah sikap kontrapduktif
dengan perjalanan sebuah keluarga, sekolah, atau bangsa dan negara. Makin lama,
seseorang diam, kegaduhan tidak akan
mereda.
Ada sikap politik, di masa lalu. ”biarkan, nanti kalau sudah bosan, akan kembali reda..”. pilihan ini, ada benarnya. Tetapi, redanya, bukan berarti sumberkegaduhan itu, yang reda, melainkan, mirip dengan rem-kegaduhan. Satu waktu, ada pemantik yang membukanya, maka potensial akan menjadi energi revolusioner yang menyebabkan gelombang gerakan sosial yang lebih besar.
”yakin,
bangsa kita ini, adalah bangsa pelupa. Kalau masalah ini, didiamkan, kegaduhan
itu, akan reda juga..” demikianlah, pandangan dari sebagian rekanan itu. Sikap
itu, ada benarnya. Tetapi, sadarkan kita, bahwa mendiamkan masalah, karena
sikap pelupanya masyarakat kita, sama dengan mendiamkan masyarakat kita, untuk
tetap menjadi orang yang pelupa terhadap masalah ? Kasus ini, masyarakat yang
pelu dengan masalah ? atau masyarakat yang sedan menimbun masalah ? mendiamkan
masalah, supaya mereka lupa dengan masalah itu, apakah kita sudah menemukan
masalah, atau justru sedang nabung masalah ?
Bila ada masalah kecil sekalipun, andai dibiarkan, hakikatnya akan menjadi besar dan membesar. Pada titik didihnya, masalah itu akan memantik tindakan sosial yang merugikan. Seorang gadis, yang kecewa pada calon pasangannya yang selingkuh. Dia diam saja. Saat ada kejadian lagi, si calon pasangannya itu, selingkuh lagi, luapan emosi dan kemarahannya, akan melahirkan tindakan sosial yang tidak diduga sebelumnya. Bisa putus. Bisa melakukan tindakan kekerasan. Kejadian itu, tidak jauh dari sebuah gerakan sosial dalam kemasyarakatan.
Masalah
kecil yang dibiarkan akan menjadi besar, dan membesar. Kegaduhannya akan
merusak kesehatan mental perorangan, dan kesehatan sosial kemasyarakatannya. Rasa
curiga, dendam, dan juga ketidakpercayaan akut muncul di tengah masyarakat
tersebut.
Saat menghadapi satu masalah, berdiam diri, potensial melahirkan kegaduhan yang berkepanjangan. Tetapi, kita pun, tidak membutuhkan suami yang reaktif, pejabat yang reaktif, atau pemimpin yang reaktif. Kebermanfaatanya sikap reaktif, sama minimnya dengan sikap diamnya. Sikap yang dibutuhkan kita, dan bangsa kita hari ini, adalah sikap responsif.
Lha apa
bedanya ? Sandaran reaktif adalah emosional dan kadang sesaat. Andai berhasil
meredakan kegaduhan, sifatnya tidak permaneh. Sikap yang dibutuhkan itu adalah
responsif. Pertama, sikap ini memberikan jiwa tanggungjawab dan peka terhadap
masalah. Pemimpin yang responsif, dia sadar dan peka terhadap masalah, yang
menjadi penyebab adanya kegaduhan. Kedua, sikap responsif adalah mereaksi
sumber masalahnya. Orang reaktif, beraksi karena ada gejala yang tampak. Sedangkan
orang responsif mengusulkan solusi terhadap akar masalah yang dihadapinya.
Sehubungan hal ini, kita semua berharap, bangsa kita menjadi bangsa yang responsif, dan tidak hobi membiarkan masalah. Sekecil apapun masalah itu. Masalah kecil yang berlarut, tidak akan hilang karena waktu, malah akan membekas menjadi karat-sosial di tengah masyarakat, yang pada ujungnya, akan merusak tatanan sosial itu sendiri.Masalah kecil yang dibiarkan berlarut, akan menyebabkan kegaduhan, yang memiliki biasa sosial jauh lebih besar dan merugikan lempangnya perjalanan masyarakat dan bansga kita.

0 comments:
Posting Komentar