Just another free Blogger theme

Jumat, 13 Maret 2026

Saat membincangkan Negara Republik Islam Iran, seketika itu, banyak yang mengernyitkan dahi, dan memalingkan pikiran. Hal itu, dilakukan, bukan karena mereka sudah bosen, dan paham banget, mengenai Iran, melainkan karena ada endapan informasi yang sudah lama hadir dalam benak, pikiran, dan hatinya. Dengan adanya endapan informasi itulah, maka reaksi sebagian diantara kita, terkait pembicaraan negara Republik Islam Iran ini, sekedar menggunakan bola sebelah mata saja.



Untuk dua bulan terakhir, khususnya mulai dari pertentangan narasi yang sangat keras dan tajam antara Iran dan Israel-AS, orang mulai membuka perhatian agak luas. Terlebih lagi, selepas ada pertempuran antara kedua blok peperangan itu. Memperhatikan apa yang terjadi hari ini, nampaknya, banyak orang atau setidaknya, cukup ada penambahan kesimpatian orang terhadap eksistensi Iran, sebagai salah satu negara kuat di kawasan Timur Tengah.

Kendati demikian, di tengah-tengah kita, masih saja, ada kekhawatiran, terkait dengan bincangan hal serupa itu. Khususnya, saat, mereka atau obrolan itu, menyerempet karakter Islam Irannya itu sendiri.

Syiah !

Itulah, kata yang menggelegar, dan bisa menciutkan orang, untuk melanjutkan perbincangan mengenai negara yang satu ini. Kata itu, menjadi 'kata magis' yang bisa menghipnotis orang, dan kemudian membalikkan pikiran, yang cukup signifikans. Dari simpati bisa jadi antipati, dari kagum bisa menjadi muak. Semua itu, hanya karena mendengar kata tersebut !

Di tulisan ini, tidak akan mengulas sisi keagamaan (teologi). Wacana ini, lebih dimaksudkan untuk menguraikan masalah sosial kemasyarakatannya, atau dengan kata lain, akan menggunakan perspektif sosial dalam memahami gejala kesalahpahamana kita dalam memahami perilaku kita, saat dihadapkan dengan fakta ke-Iranan.

Pertama, sejatinya, sudah menjadi fakta politik, bahwa Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Iran. Iran membuka kedutaannya di Indonesia, pun demikian dengan  negara kita. Kita memiliki kantor kedutaan di Negara Republik Islam Iran. Karena itu, tentunya, tidak perlu menjadi alergi saat membincangkan negara yang satu ini. Kedua negara ini, sudah melakukan kemitraan dalam banyak hal, bahkan sudah banyak pula, mahasiswa Indonesia yang belajar di negara Iran.

Kedua, bila alasannya adalah perbedaan teologi, maka adalah aneh, bila kita membicarakan  Iran, ingat teologinya, tapi saat membincangkan China, India, Belanda, atau Amerika Serikat serta Rusia, tidak pernah membincangkan masalah teologinya. Padahal, bila dikaji secara detil, antar negara itu,  keekstriman perbedaan teologinya, bisa setara dengan Islam Indonesia dengan Islam Iran. Bukankah negara yang disebutkan tadi, teologi yang tumbuhkembang di masyarakatnya, berbeda dengan warga negara Indonesia pada umumnya ? lantas, mengapa kita merasa biasa membincangkan negara tersebut, dan berbeda sikap saat membincangkan Iran ?

Ketiga, bila bicara Iran, kerap mengedepankan perbedaan teologi, tetapi kalau dengan yang lain, membicangkan aspek pragmatis. Sebut saja, kalau kita membicangkan kerjasama dengan China, kita tidak banyak yang membicangkan teologinya, tetapi lebih banyak ke sisi pragmatisnya, atau sektor ekonomi. Lantas, mengapa kalau bicara tentang Iran, kerap mengerucut terkait teologi ?

Unik juga memang. Saat kita berbicara mengenai Arab Saudi, pun, kebanyakan untuk kepentingan definisi agama secara umum, padahal, Arab Saudi dengan Indonesia memiliki teologi yang berbeda. Secara umum, Indonesia adalah Sunni (moderat), sedangkan Arab Saudi bermazhab Sunni-Wahabi. Kedua kelompok ini pun, kerap kali, menunjukkan perbedaan sikap dalam praktek keberagamannya. Namun uniknya, sekali lagi, ini unik sekali, kolaborasi dan kemitraan dengan Arab Saudi, terus berjalannya, dengan tetap "menutup jarak' perbedaan teologi seperti itu.

Pertanyaan publik, tentuk sama, "mengapa kita tidak bisa melakukan hal itu dengan Iran ?"

Keempat, tentu saja, ada sebagian diantara kita protes, bahwa kita tidak alergi dengan Iran. Buktinya, kita sudah melakukan hubungan diplomatik dengan negara Iran. Hal ini, diharapkan bisa meningkatkan kedewasaan dan kematangan kita dalam bersikap. Artinya, walau cukup perlu kerja keras secara emosional dan intelektual, namun kita perlu bisa membedakan antara hubungan diplomatik dengan  hubungan teologis. Bahkan, kita perlu juga bisa membedakan antara teologi yang diyakini warga negaranya, dengan negaranya itu sendiri. Sama serupa saat kita, melakukan kerjasama dengan China, India, Rusia, Belanda atau negara lainnya di dunia. Saat melakukan kerjasama itu, kita hampir tidak-mengaitkan kemitraan politik itu, dengan teologi yang dianutnya.

lha, lantas, bagaimana dengan Israel ? Untuk negara ini, tampaknya, bukan masalah agamanya. Tetapi sikap politiknya, yang kerap kali melakukan argresi ke negara lain. SIkap ini, tidak jauh beda, dengan sikap Negara Spanyol baru-baru ini, yang menarik kantor diplomatiknya, dari Israel, karena alasan ketidaksetujuannya dengan kebiasaan Israel mengagresi negara berdaulat lainnya. 

Terakhir, mungkin kita pun perlu transparan dan terbuka, bahwa karakter dan mazhab pemikiran Syiah pun beragam. Kita tidak melakukan generalisasi atau overgeneralisasi yang tidak perlu. Bila menyimak kajian ke-Syiahan, sebagaimana yang juga pernah dilakukan Quraish Shihab,  atau Abu Bakar Atjeh, tidak bersifat homogen. Ada banyak varian terkait aliran keagamaan Syiah. Tidak jauh berbeda dengan kelompok pemikiran atau mazhab Sunni. Di syiah ada yang ekstrim, di Sunni pun demikian adanya.

Kita tidak akan mengulas sejarah dan keragamannya. Wacana ini, diluar kemampuan penulis hari ini. Penekanan wacana ini, sekedar pada titik soal, bahwa generalisasi kelompok keagamaan, dengan tidak menghargai keunggulan pada kelompok tertentunya, bisa menjadi bentuk kesalahan berpikir. Kalau Sunni itu, sekedar dilihat dari Wahabi saja, bisa jadi, akan keliru. Kalau Islam India-Pakistan, dilihat dari Ahmadiyah saja, bisa jadi keliru. Begitulah pula, dengan menyebut negara lain, atau kelompok agama lainnya di dunia.

Dengan fenomena peperangan yang ada hari ini, dan kemudian menunjukkan ketangguhan Iran dalam berperang sampai hari ini, apakah kemudian, banyak menarik orang untuk mempelajari akar-teologi yang bisa membangun ketangguhan mental dalam berperang, serta akar teologi yang mendorong pembangunan teknologi dan industri militer di negara ini ?

Andai pun, hendak mempelajari Iran dan akar teologinya, maka itu adalah bagian dari ruang intelektual kita, tanpa harus disudutkan sebagai bentuk keberpihakan pada teologi yang dianut oleh masyarakat yang dipelajari. 

Mempelajari India, bukan berarti harus jadi orang Hindu. Mempelajari China, tidak berarti harus jadi Kong Hu Chu, pun demikian yang lainnya. Atau, hemat kata, khususnya bagi saya sebagai orang yang belajar Sosiologi dan Antropologi, tidak perlu diartikan negatif saat kita hendak mempelajari, budaya masyarakat yang berbeda dengan kita !

Eh.. bagaimana menurut pembaca ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar