Just another free Blogger theme

Rabu, 11 Maret 2026

Tidak mudah untuk menceritakan tema ini. Bahkan, pada saat tulisan ini, hendak dituangkan pun, ada perasaan ragu, apakah, kemampuan diri kita, untuk mengulas masalah keangkuhan spiritual dan /atau kebekuan spiritual ini, sudah cukup mumpuni, atau sekedar basa-basi belaka. Hasrat untuk menarasikan tema keangkuhan atau kebekuan spiritual, dengan keraguan atau kewas-wasan dalam menuturkannya, bercampur tak terkendalikan.



Mengapa bisa begitu ya ?

Salah satu jawabannya, khususnya yang penulis rasakan saat ini, khawatir, saat menarasikan hal ini pun, secara tidak sadar, penulis pun sedang diselimuti oleh keangkuhan spiritual itu sendiri, dan saat sadar serupa itu, tapi kemudian, masih juga keukeuh menarasikannya, maka jangan-jangan, penulis pun, sedang mengidap penyakit kebekuan spiritual.

Subhanallah. Buah simalakama....

Saat ada dihadapan monitor ini, kemudian, penulis teringat, yang dikisahkan para cerdik cendikia dari masa lalu, bahwa syaitan akan menggoda manusia pada levelnya masing-masing. TIdak mungkin, syaitan menggona muslim petani, dengan masalah trading (perdagangan), atau muslim wiraswasta dengan masalah kekuasaan. Masalah-masalah yang disebut tadi, berada di luar jangkauan dan profesi si  muslim itu sendiri. Karena itu, masalah atau tantangan  yang akan dihadapi seorang muslim pun, tidak akan jauh dari kesibukan hariannya sendiri.

Karena alasan itulah, maka syaitan akan datang dan menghampiri si muslim penulis, dengan menghembuskan isu-isu terkait dengan kepenulisannya. Syaitan akan menggoa muslim pembaca, dengan bacaan-bacaannya. Syaitan akan menggoa muslim orator, dengan masalah retorikanya. Begitulah yang lainnya juga. Dan luar biasanya lagi, syaian akan melakukannnya dengan ragam acara atau penjenjangan tertentu, yang bisa jadi, bisa menjebak seseorang, secara tidak sadar. Misalnya, dalam kaitannya dengan profesi kepenulisan, seperti yang penulis lakukan hari ini.

Pada level pertama, syaitan sekedar menghembuskan isu, "sudah, jangan tuliskan masalah keangkuhan atau kebekuan spiritual. Karena masalah itu, adalah masalah mereka, yang penting, kamu tidak melakukannya.". Godaan ini, dihempuskan dengan maksud dan harapan, supaya kita tidak menuangkan tulisan bertemakan.

Saat berhadapan dengan lontaran isu itu, saya merasa  bahwa ada kepentingan pribadi untuk menuliskannya. Bukan saja, karena saya petlu mengingatkan diri sendiri, tetapi untuk kepentingan isi blog yang ada saat ini. Tidak ada tema yang bisa dituliskan, kalau tidak mengulas masalah ini, hari ini. Dengan sikap itu, penulis merasa beruntung, dan berhasil menghadapi rayuan atau godaan syaitan. Level satu, lulus. kira-kira demikianlah, kisahnya.

Pada level kedua, syaitan, bisa jadi, berubah haluan dengan mendukung kita untuk menuliskannya. "Oke, kalau begitu, boleh dituliskan, tetapi yang secukupnya saja, sambil mengingat orang lain. Itu lebih baik. Biar, orang  lain, memberikan jempolan, bahwa kamu rajin, mengisi blog tiap hari..".

Sampai pada titik ini, penulis merasa semangat, karena ada waktu, dan ada tema yang bisa dituliskan. Tema ada, dan menarik, artinya tidak ada alasan lain, untuk tidak menuliskannya. Tetapi, saat kepenulisan itu tengah berlangsung, teringat pesan-pesan syetan itu, dan malah kemudian memunculkan kekhawatiran baru. "wah, kalau, saya menulis, dengan maksud, supaya orang lain, melihat bahwa saya produktif, maka saya akan terjebak pada keangakuhan spiritual tersebut..,, atau istilah lainnya keangkuhan intelektual....."

Penulis berontak lagi. Tidak. Tidak mau terjebak oleh rayuan Syaitan untuk level ini. Kemudian, saya bertekad, untuk menghapus sikap riya dalam diri, dan mengubah orientasi bukan untuk kepentingan pribadi,  namun untuk kepentingan orang lain. Tidak. Saya tidak mau, disebut sebagai orang produktif oleh orang lain, dan kemudian mendapat pujian dari orang lain. Menuliskan tema ini, sejatinya adalah untuk meningatkan saudara-saudara yang lain, supaya tidak terjerembab terlalu jauh, di lautan kehilapan yang berbahaya.

Di level selanjutnya, dukungan syaitan meningkat lagi, "setuju. tulisan itu, bukan untuk riya, tapi untuk dakwah. tunjukkan itu, bahwa kamu adalah orang yang memiliki kemampuan dalam berdakwah..".

Pada mulanya, saya bangga dan semangat dengan hal itu. Maka kemudian, tulisan ini pun dilanjutkan. Tetapi, saat tulisan ini, hendak diselesaikan, muncul pertanyaan lain, bagaimana jika si subjek yang sedang saya kisahkan itu, tidak ngeuh dengan masalah yang saya koreksi ?

Selalu saja ada. Seorang khatib kultum, yang tidak tahu diri. "pengetahuan tak seberapa, kultum meni lama banget..." pikirku, "informasi dan datanya, tak lengkap lagi..". Atau, dikesempatan lain, "orang kok pede ya, pengetahuan belum cukup, perilaku harian tak seberapa bagus, tapi ceramah yang ideal, seakan dirinya sudah menjadi suci.."

Kilatan itu, muncul disaat menyimak orang lain dalam kultum. Tampaknya, saya harus mengemuka, baik menjadi khatibnya, pembicaranya, narasumbernya atau istilah lainnya lagi, saya harus tampil, dan mengingatkan  hal itu, supaya mereka sadar dan paham, mengenai ancaman keangkuhan spiritual tersebut.

Kemudian, secara tidak sadar, pikiran dan hati ini bergerak. "Saya tahu dan paham. gejala ini adalah  bentuk dari keangkuhan spiritual. Baru bisa satu ayat saja, sudah memberikan tafsiran, membid'ahkan sesuatu, dan menuduh orang lain, sebagai pelaku bid'ah. Menceritakan aib orang lain, seakan aib itu tidak ada pada dirinya. Itu adalah keangkuhan spiritual, yang didukung oleh kebekuan intelektual. Baru tahu sedikit, sudah menjadi polisi kesalehan pada orang lain.."

Syaitan pun, datang menghampiri dengan hembusan isu, "betul, mestinya kamu, yang dipodium itu, bukan dia..".

Terdengar ucapannya itu, saya tersentak. Mengapa harus ada serupa itu. "Ya, Allah ampuni saya".

"luar biasa, baru saja, digoda segitu, kamu sudah ingat, Tuhan, kamu memang luar biasa sholeh.." Syaitan pun, membisikkannya lagi.

Sampai di titik ini, saya tidak bisa bicara apa-apa. Hanya waktu yang memisahkan, karena sudah keburu siang....


Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar