Judul ini, sesungguhnya, hanya pelebaran makna saja. Atau mungkin, malah dapat ditafsirkan sebagai penegasan. Maksudnya, menegaskan, mengenai kegamangan kita, khususnya penulis, dalam mensikapi realitas beragama, dan realitas politik hari ini, di dunia ini.
Setidaknya, dalam dua pekan ini, kita melihat, bagaimana kemampuan Iran, Negara Republik Islam Iran, mampu mengimbangi -- kalau terlalu dini, untuk menyebutkan memenangkan, peperangan dengan Israel yang didukung penuh Amerika Serikat, dan mungkin didanai pula oleh Board of Peace, pimpinan Donald Trump. Sehingga, pengamat internasional, Connie Rahakundini Bakrie, menyebutnya ada transformasi kelembagaan dari Board of Peace menjadi Board of War.
Wacana ini, tidak bermaksud untuk mengular perangnya. Namun ingin mengulas, bagaimana reaksi umat Islam, khususnya di sekitar kita, terhadap kenampakkan peperangan kali ini. Namun, selama melihat reaksi, baik di dunia maya, maupun di beberapa obrolan tidak resmi di masyarakat, masih ada yang menunjukkan sikap serupa tadi. Syiahnya dibenci, Irannya di puji.
Tanpa bermaksud untuk mengulang perdebatan klasik mengenai Sunni dan Syiah, saya teringat pada salah satu karya O. Hasem, yang tersebar di media online, berjudul "Syiah ditolak, Syiah dicari.." Buku ini, menurut penulisnya, bisa sangat bermanfaat, khususnya bagi peminat kajian mengenai perbandingan mazhab. Kajian-kajian yang disampaikan, penting untuk memahami posisi mazhab atau pemikiran keagamaan madzhab Syi'ah disamping madzhab Sunni.
Ah, saya, tidak kompeten dalam kedalaman wacana dan narasi serupa ini. Saya lebih berkenan dan memiliki waktu untuk mengomentari mengenai respon sosial budaya kita, terhadap fenomena yang terjadi hari ini, di dunia ini, khususnya saat menyaksikan peperangan antara Iran yang dikeroyok Israel dan Amerika Serikat.
Tanpa bermaksud untuk mendahului kajian para ahli dibidangnya, ada beberapa hal yang bisa disampaikan untuk di kaji. Pertama, nyata dan jelas, bahwa sikap politik Elit politik di negeri Iran ini, sangat solid. Setidaknya, disaat dalam situasi perang, dan pimpinan tertingginya dinyatakan tewas, mereka malah menunjukkan keberanian dan ketegasan sikap untuk memilih pemimpin baru, dan melanjutkan misi perjuangannya menyelamatkan negara.
Sungguh sangat tidak terbayangkan, bila afiliasi dan ideologi politik elit partai yang pragmatis. Melihat situasi sedang tertekan oleh musuh, dan kemudian pimpinan tertinggi tewas, potensial untuk menyerahnya sangat tinggi. Mirip di atas papan catur. Sebanyak apapun pasukan dan pendukungnya, bila raja sudah mati, mereka semua menyerah total. Di negara pragmatis, dan elit politik oprtunik, peluang kejadian serupa itu, bakalan mudah terjadi.
Gejala itu, tidak terjadi. Tidak terjadi di Negeri Iran. Ini adalah hal yang luar biasa, yang menunjukka ada ideologi kebangsaan yang sangat kuat, dalam menjaga kedaulatan bansga dan negara.
Perlukah kita belajar mengenai hal ini ?
Kedua, kendati negara ini, menjadi salah satu negara yang diemargo banyak aspek oleh Amerika Serikat, dan tekanan politik dunia, sangat kuat dan beruntun, namun ternyata, sampai hari ini, mampu menunjukkan kemandirian dan kedaulatan bangsa yang kokoh.
Sekali lagi, andai saja, negara itu dihuni oleh pemimpin yang plin-plan, oprtunik, dan lembek, sangat sulit untuk bertahan dari tekanan politik atau gertakan politik dunia, terlebih lagi, oleh negara yang disebutnya negara adikuasa. Iran, sebagai negara merdeka, dan berdaulat, mampu berdiri tegak dengan ekonomi mandirinya, dan tidak menyerah pada tekanan politik negara asing.
Ketiga, fenomena yang luar biasanya, adalah pertempuran yang terbuka, dan seimbang, atau malah kalau boleh disebut, mampu menunjukkan keunggulan teknologi militernya, merupakan satu daya tarik mata-dunia untuk terus melakukan pengamatan terhadap kualitas dan kemajuan negara ini.
Berdasarkan analisis sederhana ini, muncul pertanyaan genit dari beberapa rekanan yang ngobrol di warung kopi. Cukup banyak orang yang memuji kehebatan dan ketangguhan Iran, dalam peperangan ini. Kendati dalam ujungnya, misalnya, harus kalah, perjuangan dan perlawanannya sudah memberikan rasa-kebanggaan terhadap perjuangan Iran. Bahkan, negara seperti Rusia, Korea Utara dan China pun, dalam batasan tertentu, masih memberi dukungan moral terhadap Iran.
Apakah situasi ini, akan ada gelombang baru, kesimpatian dunia, atau minimalnya, kegairahan dunia, untuk mempelajari Iran, sebagai negara modern ?
Mungkin jadi demikian.
Lantas, apakah semua ini, pun, akan berlanjut pula, untuk mempelajari, mengenai latar nilai, budaya, atau norma yang dapat membangun ketangguhan Iran, sebagai neagra modern ?
Mungkin jadi demikian.
Lantas, bila hal ini berlanjut, apakah ucapan O. Hasem menjadi sesuatu yang benar, yakni Syiah ditolak, Syiah dicari, dengan alasan untuk mendalami pertumbuhan dan perkembangan Iran sebagai sebuah negara modern ?
mungkin jadi demikian......

0 comments:
Posting Komentar