Pertanyaan ini, muncul, di sore itu. Jelang buka puasa bersama, dengan anak-anak. Di satu tempat. luar dan terbuka. Ruang publik. Tetapi, rekanan yang sudah kenal lama, datang menghampiri, kemudian saling tukar cerita, dan pengalaman hidup, serta pengalaman kerjanya selama ini.
Di sela obrolan itu, entah dari mana masuknya, kemudian, malah membicarakan mengenai, peluang dirinya untuk bisa kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam pengakuannya, dan memang itulah, yang tertuang dalam administrasi kepegawaian, bahwa dirinya, masih berstatus sebagai pegawai dengan jenjang pendidikan sarjana. Karena itu, wajar dan mudah dipahami, bila disore itu, ujug-ujung mengungkap minatnya, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"jika harus memilih, mending yang linear atau tidak, ya ?", dia mengajukan pertanyaan, dengan penuh harap, mendapat respon yang sepadan dengan tingkat kepenasarannya. Latar belakangnya, pendidikan matematika, dan kini menjadi seorang ASN di sebuah lembaga pendidikan, jenjang SMA.
"pertanyaannya, salah alamat..."
"maksudnya.." dengan penuh keheranan, dia ajukan pertanyaan itu.
"saya aliran non-linear. jadi pertanyaan itu, salah alamat. Harusnya disampaikan kepada pemikir yang netral, atau konsultan profesional. Kalau saya yang berkomentar, maka akan bias, karena akan disesuaikan dengan pikiran atau pandangan subjektif saya hari ini, dan selama ini..". Mendengar komentar itu, dia malaha, tambah penasaran.
"selama ini, saya kepikiran untuk mengambil jurusan yang praktis. Matematika, selama ini, saya anggap sebagai konsep keilmuan murni, dan teoritik. Karena itu, ingin belajar lanjut, untuk aspek yang lebih praktis..." katanya, sambil menyebutkan salah satu bidang yang didambakannya, yakni statistik.
Tentu, itu pilihan menarik, dan sangat tepat. Dengan pengetahuan keilmuan Matematika yang selama ini dimiliki, maka belajar dan mempelajari statistik secara lebih mendalam adalah pilihan tepat untuk memperkuat keilmuan kematematikaan, dalam kompetensi profesionalnya.
"saya setuju dengan itu. Hal itu, menunjukkan bahwa antum, adalah peminat bidang keilmuan itu, dan bermaksud untuk memperdalam bidang keilmuan itu. Pilihan itu, rasanya, tepat untuk dipilih..."
"lha, katanya, sampeyan, aliran non-linear, mengapa setuju dengan pilihanku tadi?" dia balik bertanya, dengan aroma kepenasaran yang sangat akut.
"ha..ha..ha.." saya geli mendengar komentar itu, "ya, setidaknya, saya menghargai pendapat antum. Saya kan, tidak diminta untuk memberikan solusi untuk masa depannya. Saya hanya dimintai komentar terhadap pilihan antum itu.." jawabnya. Saya berharap dengan jawaban itu, kepenasaranna dia berakhir.
Ternyata tidak demikian. "lantas, mengapa non-linear dianut..?"
"begini. Antum mungkin tahu, sejumlah pemikir, atau filosof, yang terkenal. Misalnya, Rene Descartes, dia adalah filosof, tetapi latar belakangnya adalah Matematika. Pemikir lainnya, yang berasal dari Matemati, yakni ada Leibniz, dan Bertrand Russel. Mereka terkenal sebagai filosof, padahal disiplin ilmu yang digeluti sebelumnya adalah Matematika. Kemudian, ada John Locke, menjadi filosof dari latar keilmuan dokter, sedangkan Immanuel Kant, latar keilmuannya Astronomi dan Fisika, dikenal sebagai filosof dan juga geografi."
"Kemudian, perhatikan pejabat negara kita hari ini. Banyak pejabat negara, yang memiliki latar belakang teknik, tetapi kemudian menjadi ekonomi...., coba renungkan, mengapa hal itu bisa terjadi ?"
Contoh dan pertanyaan ini, setidaknya memberikan waktu untuk penulis, beristirahat. Tidak ngomong melulu. Walaupun, saya sendiri, tidak yakin apakah dengan sejumlah contoh itu, kemudian memberikan pemahaman yang tepat kepadanya.
"setidaknya beginilah,..." saya mencoba untuk memulai lagi, "di era sekarang ini, konon masuk pada fase karakter keilmuan yang multidisiplin, atau interdisipliner. Fase seperti ini, bisa diartikan, bahwa perlu ada komunitas keilmuan dengan karagaman ilmu, untuk membincangkan penemuan solusi dalam memecahkan masalah, dan ada pula pemahaman, bahwa setiap orang perlu untuk menggenapkan pengetahuannya, dengan kekayaan perspektif lainnya..." paparku.
"kendati kita seorang geograf, maka untuk memahami karakter masyarakat satu daerah, kita perlu belajar sosiologi, ekonomi, budaya, bahasa, dan perspektif lainnya, sehngga kita bisa memahami kondisi faktual kemasyarakat yang bersifat kompleks.."
Dengan pandangan seperti ini, jelas dan tegas, bahwa karakter keilmuan yang lintas disiplin, menjadi sangat penting, dalam memahami realitas kehidupan kita, terlebih lagi, yang ada kaitannya dengan masalah sosial kemasyarakatan.
bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar