Kita tidak banyak yang tahu, termasuk penulis, duluan mana antara gejala kelelahan massal dengan autisme sosial. Jangankan untuk menganalisis lebih jauh mengenai kedua gejala sosial itu, sekedar untuk memahami makna dasar atau makna pokoknya pun, kita akan mengalami kesulitan yang akut. Iya, ada semaca, kesulitan yang akut, antara kebutuhan untuk mendalami makna, dengan perangkat argumentasi yang dimiliki.
Seperti yang dialami. Kesempatan ini, kita berhadapan dengan dua istilah yang dicoba di keluarkan. Sekali lagi, tidak banyak yang tahu mengenai makna hakiki terkait konsep ini. Bahkan, ada pula yang mengatakan, sekedar permainan kata saja.
Saya, termasuk orang yang dikagetkan. Kaget dengan temuan kata ini. Kata-kata ini, tidak ujug-ujug datang. Sudah lama ada dalam benak. Dulu ragu untuk menggunakannya, namun, hari ini, memiliki rangkaian data, yang mungkin, bisa dijadikan pendukung untuk kita, kembali menggunakan konsep ini.
Autisme sosial, adalah istilah yang saya gunakan untuk menunjukkan adanya gejala-cuek secara massal, di tengah masyarakat. Seorang anak, autis, nyaman dengan dunia gadgetnya. Seorang ayah, asyik dengan pekerjaannya. Seorang ibu, pun, asyik dengan hobi barunya, jualan online. Seorang kakak, asyik dan sibuk dengan pekerjaan perkuliahannya. Seorang bibi, asyiknya pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga. Seorang pegawai dapur makanan berizi, asyik dengan tugas rutinnya.
itulah situasi, yang disebutnya sebagai autisme massal, autisme yang terjadi di tengah masyarakat, atau kehidupan sosial. maka karena itu, kadang saya ingin menyebutnya dengan istilah autisme sosial.
Apakah kejadian itu, terjadi hanya di tengah masyarakat saja ? tidak. Seorang pejabat, asyik dengan retorika politik dan pembangunannya. Tak peduli kritik, komentar atau kontra-pemikiran yang terjadi di masyarakat. Sekumpulan mahasiswa, asyik dengan perkuliahannya, andaipun harus turun ke lapangan untuk melaksanakan protes atau demo kepada Pemerintah, itu pun, sekedar dilakukan sekedarnya.
Aliran komunikasi mati. Katalis komunikasi putus. Yang tampak di tengah masyarakat, adalah aktivitas sosial yang tidak saling terkoneksi antara satu dengan yang lainnya. Kendati demontrasi berulang tiap hari, kritikan berulang di media sosial setidap detiknya, namun semua katalitasator dan energi komunikasi itu, tidak sampai kepada pihak yang dimaksudnya. Sehingga pada akhirnya, energi koreksi habis dilontarkan, namun tidak pernah mengenai sasaran. Contoh yang paling memprihatinkan hari ini, adalah kritikan dan koreksian terhadap Kepolisian, yang kerap kali dan tidak pernah berhenti kasusnya, terus saja terjadi, tetapi pihak kepolisian seakan diam membisu, dan tidak mau mendengarkan keluhan dan kritikan publik.
Andaipun ada respon, cukup dijawab dengan retorika tanpa makna. Janji tanpa bukti, harapan yang tidak pernah diikuti dengan tindakan. Kepolisian masih tetap asyik dengan pekerjaan dan kebiasaannya, dan masyarakat asyik dengan hariannya, walau kadang diwarnai dengan keluhan dan derita yang tak pernah berujung.
Situasi dan perjalanan ini, sejatinya, diharapkan untuk segera berakhir. Namun, tidak ada yang memiliki kemampuan memberikan garansi terhadap harapan dan cita. Sejumlah orang, dan sejumlah pihak, malah sudah menunjukkan sikap dan tindakan lelah dan kelelahan, karena merasa tidak ada hasilnya.
Lelah mengajukan kritik, koreksi, dan uji-kebenaran, namun semuanya berujung pada formalitas, dan keraguan. Di ulang berkali-kali, keraguan tetap terjadi. Satu pihak, asyik dengan ideologi perjuangannya, tetapi di sisi l ain, asyik dengan formalitasnya. Kontra-kondisi seperti ini, seakan menjadi kekuatan-karakte yang tidak pernah mauk kompromi, sehingga pada ujunganya, satu sisi merasa lelah dengan perjuangan, dan di sisi lain, ada yang autis dengan formalismenya. Orang autis itu, tidak peduli dengan kritis, dan uji kebenaran, yang dia lakukan, adalah kebenaran yang diyakininya sendiri.
Bagaimana menurut Pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar