Ada beberapa hal penting, yang dijadikan dasar pemikiran, pentingnya penguatan Madrasah Nusantara. Argumentasi ini, diharapkan menjadi pembanding pemikiran, dengan agenda pengembangan sekolah-sekolah berspesies khusus di Indonesia.
Pertama, kita semua sudah paham, alat ukur kompetensi global itu, dan biasa digunakan oleh Pemerintah, atau akademisi pendidikan, yaitu PISA. Dalam pragram ini, hal penting dan dijadikan tolak ukurnya adalah numerasi dan literasi. Istilah klasik di negeri kita, calistung (membaca, menulis dan berhitung).
Orientasi pengembangan sains, teknologi dan seni budaya, bukan menjadi strategi, melainkan sekedar konten, dan atau produk. Karena itu, kalangan praktisi pendidikan mengenali konsep literasi seni, literasi sains, literasi digital dan lain sebagainya.
Kedua, kelanjutan dan selaras dengan pemikiran itu, maka hal penting yang perlu diperhatikan itu adalah pendekatan pembelajarannya, bukan pada produk atau kontennya. Produk dan konten bisa berubah di setiap saat, pun demikian adanya, dengan masalah konten. Hal yang menjadi dasar dan filosofi keunggulan layanan pendidikan itu, pada visi, misi atau pendekatan pembelajaran.
Harapan untuk membangun generasi yang melek sains, teknologi, dan seni atau yang lainnya, akan sulit diwujudkan, bila kemudian tidak dirumuskan model-model pembelajaran, dan atau pendekatan, serta filosofi pendidikannya.
Ketiga, sembari merumuskan kesadaran ini, kita pun, dapat menengok, sejumlah negara yang kerap dijadikan acuan dalam pemikiran mengenai praktek baik pendidikan di Dunia. Misalnya, Finlandia, China dan Singapura. Dalam paparan para ahli --seperti disampaikan di media, dan atau melihat ranking PISA, mereka adalah pengusung pembelajaran yang humanis, namun strategis.
Di Finlandia, seorang anak bisa belajar full day, dari pagi sampai sore. Uniknya, di setiap pergantian pembelajaran ada jeda relaksasi, dan jam belajar yang pendek. Berbeda dengan negara kita. Anak-anak belajar dari pagi sampai sore, dan setiap pergantian pelajaran, tidak ada agenda relaksasi.
Berbeda dengan China. Untuk memulihkan kebugaran, siswa diberi jadwal istirahat siang, dan tidur siang, sekitar 10-60 menit. Sementara di kita, jadwal padat, dan anak tidur siang, dianggap sebagai 'kenakalan'.
Ketiga, konsep Madrasah Nusantara yang diusulkan ini, dimaksudkan untuk mengapresiasi keragaman potensi, dan kemampuan anak, dan juga satuan pendidikan, serta potensi daerah masing-masing. Kita semua paham, secara filosofis, setiap anak memiliki potensi dan orientasi hidup yang berbeda. Secara kelembagaan, setiap sekolah memiliki sumberdaya sekolah yang berbeda. Bahkan, secara geografi, setiap daerah di Indonesia, memiliki tantangan lingkungan yang berbeda.
Keragaman faktual itu, dalah fakta ekosistem yang unik dan khas, dan perlu diapresiasi oleh dunia pendidikan. Akan terjadi sebuah 'kekerasan struktural' bila dilakukan penyeragaman. Bisa jadi, pembaca akan memrotes gagasan serupa ini, dengan mengatakan bahwa program sekolah unggulan yang digagas dan digambarkan Pemerintah pun, bersifat terpilih dan selektif,dan tidak bersifat penyeragaman.
Kita paham dengan hal itu. Namun, hal yang menjadi pikiran kita lanjutannya adalah bila program sekolah unggulan itu selektif, diiringi dengan perhatian khusus kepada sekolah-sekolah projek itu, lantas bagaimana kita mengapresiasi dan perhatian kepada sekolah lainnya, di luar sekolah unggulan?
Keempat, melalui Madrasah atau Sekolah Nusantara, akan menjadi pembanding gagasan, bahwa yang menjadi perhatian itu adalah kreasi dan inovasi setiap penyelenggara layanan pendidikan. Setiap Madrasah/Sekolah memiliki peluang yang sama untuk mengembangkan keunggulannya, dan memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan insentif yang sama.
Dengan gagasan seperti ini, maka kompetisi penguatan layanan pendidikan akan terjadi secara massif pada setiap layanan pendidikan, baik dengan menerapkan model kooperatif maupun kompetitif. Artinya, setiap sekolah bisa menggunakan model kerjasama antar satuan pendidikan, atau melejitkan kualiats satuan pendidikannya sendiri.
Terakhir, dengan filosofi seperti ini, maka dalam satu waktu diharapkan akan lahir, fenomena beragam layanan pendidikan, dengan tetap mengusung satu keunggulan. Bhineka Tunggal Ika dalam layanan pendidikan di negara Nusantara ini.
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar