Just another free Blogger theme

Selasa, 08 November 2022


oh…..mentari,

kau terlalu cepat pergi,

hingga ku tak tahu kapan malammu

kapan jua pagimu

 

mentari, kau terlalu cepat pergi

hingga ku tak tahu musim semimu

kapan jua bebungamu

yang kusadari hari ini,

hanyalah kemarau yang pernah

kurasakan di masa lalu

 

mentari, terlalu cepat kau pergi

hingga ku tak tahu sejukmu

kutak tahu jua segarmu

yang kusadari kini,

hanyalah kehausan di sepanjang jaman

 

kemarin, pasir putih  menguning

bebatuan pun melumar,

menjemput mentari pagi yang menyingsing di ufuk timur

hari ini, jangankan mencumbu dan merayu,

tembok pun membisu seribu kata

 

kemarin, ombak lautan melambai

pepasiran pun mengerlip

kini, laut itu membeku,

ditelan kemalangan panjang  nan merontang

 

bintang itu, berkedap dan berkedip,

bak mencibir diri yang hina

purnama pun sembunyi,

seolah malu tuk menatap  jiwa yang malang

angin malam pun berhenti,

enggan mengelusku

aku tersudut dikegelapan

 


 Bagian dari pengamatan, dan refleksi terhadap proses pembelajaran selama pandemi, lahir buku Merdek belajar, manusia manusia autentik. Buku ini, sejatinya, merupakan respon dari gagasan Pemerintah, khususnya dari Mas Nadiem Makarim, yang menggagas Merdeka Belajar, dan Kampus Merdeka . Gagasan ini, rasanya perlu direspon dengan proporsional, dan juga kritis, sehinga menjadikan sesuatu yang bisa diterapkan oleh setiap insan pendidikan.



Pengalaman sebagai tenaga pendidik, dan menyelami perkembangan pendidikan di masa pandemi, dengan hadirnya peran teknologi informasi dan komunikasi, serta hadirnya peserta didik generasi milenaial, dengan karakternya tersendiri, dibutuhkan ada metode dan pendekatan pendidikan yang mampu mengakomidasi dan juga mengawal peningkatan kualitas generasi bangsa Indonesia.

Alangkah indahnya pula, bila pembaca mampu menyerap gagasan merdeka belajar ini, sekaitan dengan Kelas Berkarakter, dan juga Daring Duraring, yang  sudah diterbitkannya sebeleumnya. Ketiga buku itu, merupakan karya tulis tentang pendidikan, dengan satu nafas yang sama, yakni bermaksud untuk melakukan reformsi budaya pendidikan dan orientasi pendidikan di masa sekarang dan masa depan.

Lebih lanjutnya lagi, Merdeka Belajar ini sejatinya perlu dibaca oleh tenaga pendidik, pengambil kebijakan, pemerintah, dan juga orangtua siswa. Hal ini, dimaksudkan supaya, kita tidak gagal paham dengan karakter zaman, serta orientasi kebutuhan anak-anak di era generasi milenail.  dengan memahami zaman, dan membaca Merdeka Belajar ini, diharapkan kita semua dapat merespon zaman secara lebih efektif dan produktif.


Momon Sudarma, 23 November 1971, adalah alumni dari Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia. Kemudian melanjutkan pendidikan ke Program Sosiologi Antropologi Universitas Padjadjaran. Minatnya dalam kajian ilmu sosial pada umumnya, tidak menyurutkan untuk tetap berkiprah sebagai tenaga pendidik.

Karir pekerjaan yang kini ditekuni, yaitu sebagai tenaga pengajar Geografi di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Bandung. Di luar itu, masih aktif sebagai pengajar Sosiologi Kesehatan, di STIKES ‘Aisyiyah Bandung, dan Sosiologi Komunikasi di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Bandung. Putra asli dari Kabupaten Majalengka ini, kini bermukim di Bandung, dengan istri tercinta, Winda, dan dua orang putranya, yakni Iqbal Fadhil Tresnadarma, dan Muhammad Aidhil Fathir Sudarma.

Kegiatan sosial dan profesi yang dijalaninya saat ini, yaitu sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Pendidikan Geografi UPI (2014-), dan anggota MGMP Geografi Kota Bandung. Karya tulisnya bisa ditemukan di blog pribadinya, yaitu (a) https://dede.wordpress.com, http://momonsudarma.blogdetik.com, dan (b) http://momonsudarma.blogspot.com. Tulisan dan artikel pada media massa dan jurnal pernah muncul, khususnya jurnal kampus. Selain itu, sejumlah buku sudah dipublikasikan dari hasil mengisi waktu, disela-sela melaksanakan tugasnya sebagai seorang tenaga pendidik, yaitu :

Dalam Bentuk Buku :

  1. Menjadi Speechwriter Profesional (Nuansa, 2006),
  2. Sosiologi untuk Kesehatan (Medika Salemba, 2008),
  3. Kemahirwacanaan (bersama M. Rakhmat, Pustaka Latifah, 2009),
  4. Sekolah Kita pun Berhak Maju (bersama Jajang W. Mahri, Bandung : Rizqi, 2011),
  5. Profesi Guru (Rajagrafindo Press, 2013),
  6. Mengembangkan Keterampilan Berfikir Kreatif (Rajagrafindo Press, 2013),
  7. Sosiologi Komunikasi (Mitra Wacana Media, 2014),
  8. Antropologi Untuk Komunikasi (Mitra Wacana Media, 2014),
  9. Metodologi Penelitian Geografi, Ragam Perspektif dan Prosedurnya (Jogjakarta, Graha Ilmu, 2014),
  10. Model Pembelajaran Geografi  (Jogjakarta, Ombak, 2015, dalam proses).
  11. Sport Marketing (bersama Ujang Sudrajat, Memet Muhammad, Jogjakarta, Graha Ilmu, 2016).
Untuk Nomor Open Researcher and Contributor ID (ORCID), yaitu https://orcid.org/0000-0002-3526-6015

Kamis, 03 November 2022

Cemburu dan kecemburuan, adalah situasi yang kerap kali mampir dalam diri seseorang. Hampir, bisa disebutkan, setiap orang, dapat merasakan kondisi ini. Perbedaan yang mungkin muncul, masalah frekuensi atau kualitas kecemburuan yang hadir dalam dirinya.

Bagi mereka yang kerap merasakan kecemburuan yang luar biasa, mungkin akan muncul pertanyaan, 'bagaimana cara mengatasi kecemburuan dalam hidup dan kehidupan ?", atau "adakah nilai positif dari sebuah kecemburuan, sehingga kecemburuan itu, adalah hal yang alamiah, dan tidak perlu untuk dihindari ?"


Apakah kita perlu cemburu, dan atau tidak oleh cemburu ? jika, kecemburuan adalah sesuatu yang positif, maka bagaimana cara mengembangkannya ? atau, apabila kecemburuan itu, adalah sikap mental atau amalan hati yang buruk atau negatif,  maka, bagaimana cara mengatasinya ? oleh  karena itu, karena, ada dua wajah makna dari kecemburuan, maka tulisan kita kali ini, lebih menekankan pada upaya menghadapi rasa cemburu dalam diri kita.

Rasa-rasanya kita sering mendengar kata cemburu. Atau mungkin, kita pun, pernah cemburu atau dicemburui teman, sahabat atau pasangan hidup kita. Cukup seringnya mendengar kata cemburu, menyebabkan kita abai atau hilap untuk menelaah atau mengkaji makna dibalik kata cemburu. Sebut saja, sederhana, kalau ada yang bertanya, apa arti cemburu, dan mengapa seseorang bisa terjebak cemburu atau dicemburui orang ? 


Pertanyaan sederhana itu, tidak dapat dengan mudah dijawab. Atau, andaipun kita bisa memberikan jawaban terhadapnya, tidak cukup mudah meyakinkan orang yang bertanyanya. Mengapa demikian ? salah satu jawabannya, karena cemburu atau kecemburuan, terkait dengan kondisi emosi yang berhubungan dengan pikiran, rasa cemburu, terkait dengan kebutuhan yang terkoneksi dengan rasa kehilangan, atau terkait dengan aspek perhatian dan pengabaian. Kompleksitas itulah, yang kemudian menyebabkan masalah ini, menjadi sangat kompleks.

Kendati demikian, dengan penuh kesadaran kita pun, merasakan bahwa, kebutuhan untuk memahami makna atau gejala cemburu ini, terus hinggap dalam pikiran ini. Setidaknya, penulis pun, saat ini merasakan ada gerak hati, yang seakan mengarah pada rasa cemburu atau suasana lain.  Karena ada dalam kondisi serupa itulah, kemudian muncul pertanyaan, apa sih yang dimaksud cemburu atau iri dengki itu ?

 Menggelikan tapi juga mengherankan. Sebuah negara yang menyebut diri sebagai salah satu negara modern di wilayah Asia Tenggara, aparatur kerajaan menunjukkan sikap-sikap yang kurang profesional dalam menangani warga negara asing. Penyanderaan selama 2 jam, terhadap seorang istri KBRI di Malaysia kali ini kian menggenapkan citra Malaysia sebagai sebuah negara yang kurang profesional dalam penertiban warga negara asing di negaranya.


Kejadian yang belum kering dari ingatan yakni pemukulan terhadap Wasit Karate yaitu Donald Pieter Luther oleh empat polisi Malaysia. Efek dari masalah ini pun masih menyimpan luka yang dalam bagi jiwa (sebagian) masyarakat Indonesia. Dan kali ini, penyanderaan istri KBRI di Malaysia ini dilakukan oleh Pasukan Rela (seperti Ratih – rakyat terlatih di Indonesia).

Sesungguhnya apa yang sedang terjadi pada perilaku aparatur keamanaan di negara Malaysia ini ?  atau lebih jauh lagi, ada apa dengan Malaysia ?

Kamis, 01 September 2022

 


Masih tetap menjadi rahasia ilmu. Kitab Suci al_Qur'an menggunakan kata tujuh lapis langit (sab'a samawat). Pertanyaan, apa makna 7 lapis langit, dan realitas yang manakah yang dimaksudkan ? 

pada kolom ini, tidak bermaksud untuk menjawab pertanyaan itu, namun sekedar menunjukkan ada 7 ayat yang menunjukkan 7 ayat tersebut tadi.