Just another free Blogger theme

Jumat, 16 Juni 2023

Dalam kehidupan kita, tidak selamanya kita ingat sesuatu  hal. Tidak selamanya pula, kita memahami sesuau hal. Mungkin jadi, kita pernah belajar atau mempelajari sesuatu, tetapi dalam satu waktu kita kerap dihinggapi khilap, dan tidak mengingatnya lagi. Atau juga, mungkin jadi kita sudah pernah mendengar sesuatu hal, melihat sebuah kejadian, tetapi kemudian kita lupa terhadap ragam kejadian tersebut. Dalam situasi serupa ini, kehadiran seorang teman, menjadi sangat penting dalam mengingatkannya Kembali.


Pada satu kasus, kita memiliki pengetahuan, pemahaman atau kesadaran tertentu. Tetapi, karena kita hilap dengan  prinsip hidup, kadang kita melanggar perjanjian, melanggar aturan, norma atau etika dalam hidup dan kehidupan ini. Maka tidak mengherankan bila kemudian ada teman, sahabat atau saudara kita  yang mengingatkan kita, atau menasehati diri kita.

Kamis, 15 Juni 2023

 Awal Juni, sebuah berita yang tidak diharapkan sebelumnya. Sahabat di tempat kerja, diberitakan Kembali ke haribaan Ilahi, menghadap Allah Swt. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Mungkin bagi sebagian orang, menganggap berita itu sebagai berita biasa. Tersebab, kematian adalah hal biasa, dan sering terjadi dalam kehidupan hari ini. Tetapi, bagi anggota keluarga, atau karib kerabatnya, peristiwa itu, mendatangkan duka yang tiada tara, dan kepedihan yang mendalam.


Bagi umat Islam, peristiwa kematian seseorang, masuk dalam kategori musibah. Makna pokok dari kata ‘mushibab’, yaitu sesuatu yang menimpa kepada seseorang. Ragam hal yang bisa menimpa seseorang.  Ada yang melahirkan derita, dan ada yang melahirkan suka. Sudah tentu, derita dan suka, bergantung pada respon orang terhadap peristiwa tersebut.

Allah Swt berfirman :

﴿ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَاِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَ ۗ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ فَمَالِ هٰٓؤُلَاۤءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا ٧٨ مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا ٧٩ ﴾ ( النساۤء/4: 78-79)

Di mana pun kamu berada, kematian akan mendatangimu, meskipun kamu berada dalam benteng yang kukuh. Jika mereka (orang-orang munafik) memperoleh suatu kebaikan, mereka berkata, “Ini dari sisi Allah” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka berkata, “Ini dari engkau (Nabi Muhammad).” Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Mengapa orang-orang itu hampir tidak memahami pembicaraan?

Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Cukuplah Allah sebagai saksi.  (An-Nisa'/4:78-79)

Merujuk pada ayat tersebut, kita menemukan beberapa inspirasi atau kesan yang sangat kaya.  Inspirasi dan  kesan ini, memiliki nilai praktis dan etis dalam kehidupan sehari-hari ini.

Minggu, 04 Juni 2023

Memasarkan guru (teacher marketing) atau mungkin lebih santun menggunakan istilah mempromosikan guru. Entahlah. Pilihan kata, bergantung pada selera pembaca.  Bahkan, andai ada yang bermaksud menggunakan istilah  menjual guru pun, tidak masalah. Bisa jadi, seperti yang terkait dengan istilah marketplace guru, ada yang kurang setuju dengan istilah ini. Istilah ini seakan memosisikan guru sebagai 'profesi' yang tidak terhormat. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk hal itu. Karena pokok soalnya itu, bukan di sana. Pokok soal  yang hendak disampaikan itu adalah dalam posisi sebagai lembaga penyelenggara pendidikan,  "bagaimana para lulusannya itu bisa dikenal masyarakat atau pengguna atau user, dan mereka mau menggunakannya". Inilah persoalan pokok yang hendak dibicarakan.

sumber : kompas.com

Kita semua paham, dan sudah paham sejak dulu. Guru adalah produk lulusan dari sebuah lembaga dengan kekhususna program pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Lulusannya, dari tahun ke tahun terus bertambah. Bahkan, selepas adanya kebijakan mengenai sertifikasi profesi-terbuka, yakni lulusan apapun bisa mengikuti seleksi sertifikasi guru (dan dosen), maka kandidat untuk menjadi tenaga pendidik dan kependidikan ini, sangat-sangatlah terbuka.

Surah Yaasin, mungkin tidak asing bagi sebagian umat Islam. Ayat-ayat dalam surat ini, termasuk juga surah Yaasin secara keseluruhan, umumnya sangat familiar di telinga Umat Islam, selain ayat kursi, atau surah Yusuf dan Surah Maryam.  Cukup  Panjang, alasan mengapa ayat-aat ini atau surah-surah ini familiar di tengah Masyarakat Muslim.  Kita tidak mungkin menjelaskan hal-hal tersebut di sini, di ruang tulis yang singkat ini. Namun hal yang pasti, biasanya, ini sekedar kebiasaannya,  di malam-malam istimewa atau malam Jum’at misalnya, umat Islam kadang membaca surah Kahfi, atau Surah Mulk atau Surah Yaasin, atau dua diantara surah-surah yang sudah disebutkan tadi. Hal ini dilakukan, dengan keyakinan untuk mendapatkan berkah bagi pembacanya.


Termasuk pengalaman diri dan pribadi ini. Pada malam itu, membaca surah Yaasin, dan kemudian di tengah pembacaan, saya terhenti saat membaca ayat ini.

Jumat, 26 Mei 2023


Ar-Raghib al-Asfahani (Al-Ashfahani, 2017) memberikan pengertian umum bahwa sara’a mengandung makna cepat. Kata ini merupakan kebalikan dari al-buth-u (lambat). Istilah cepat bisa digunakan dalam konteks positif  maupun negative. Kedua konteks ini, hadir dan ditampilkan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Pertama, konsep sari’u digunakan dalam konteks negative atau buruk.  Orang-orang kafir, menunjukkan sikap yang semangat atau melakukan tindak kekufuran dengan cepat. Cepatnya mereka melakukan kekufuran, pada dasarnya tidak merugikan Allah Swt, justru mereka sendirilah yang rugi.

﴿ وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْكُفْرِۚ اِنَّهُمْ لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔا ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ اَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِى الْاٰخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۚ ١٧٦ ﴾ ( اٰل عمران/3: 176)

Janganlah engkau (Nabi Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang dengan cepat melakukan kekufuran. Sesungguhnya sedikit pun mereka tidak merugikan Allah. Allah tidak akan memberi bagian (pahala) kepada mereka di akhirat dan mereka akan mendapat azab yang sangat besar.  (Ali 'Imran/3:176)

Kamis, 25 Mei 2023


Pertanyaan ini, lebih bersifat dugaan. Atau lebih tepatnya, menemukan inspirasi dari sebuah pesan dari firman Allah Swt. Meminjam istilah Quraish Shihab,  yakni menemukan kesan dari pesan Ilahi,  sebagaimana yang dituangkan dalam al-Qur'an. Sudah tentu, karena sifatnya kesan, maka cenderung dipengaruhi oleh perspektif atau kualitas penalaran yang digunakan oleh setiap pembacanya, dalam hal ini penulis sendiri.

Terkait tema ini, kita akan menyandarkan penalaran pada dua ayat, pertama, ayat 133 surat Ali Imran, yang berbunyi :

﴿ ۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣ ﴾

 ( اٰل عمران/3: 133)

Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (Ali 'Imran/3:133)

Senin, 01 Mei 2023

Hari pendidikan nasional, memperingati apa semua ini ? memperingati tokoh, memperingai proses atau memperingati hasil ? Guru dituntut menjadi orangtua di sekolah, dan orangtua dituntut menjadi guru di rumahnya.  


Hari Pendidikan Nasional, memperingati apa ? memperingati tokoh ? rasanya, tanpa diperingati pun, tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, Moh. Syafei, Rohana Kudus, atau Dewi Sartika adalah sudah sangat terhormat. 

Hardiknas memperingati proses ? Proses adalah proses. Sebagai proses belum ada ujung, yang ada adalah rangkaian perjalanan. Mungkin tampak kelelahan atau semangat, lantas apa yang perlu diperingatintya ? kita memperingati konsistensi tenaga pendidik dalam menjalankan tugas mendidiknya.