Just another free Blogger theme

Jumat, 24 November 2023

Hari ini hari guru. Sebagai guru, saya beruntung. Setidaknya, ada sejumlah ucapan, kiriman salam dan doa, serta penggugahan kenangan akan masa-masa silam, saat ada interaksi antara kami bersama. Mungkin inilah, kebahagiaan tahunan, yang dapat kami rasakan, selama ini.

Tetapi, sekali lagi, dan ini kerap berulang-ulang. Disamping berseliweran ucapan selamat hari itu, bersamaan itu pula, berita-berita guru yang belum 'terselamatkan' hadir dan menyeruak ke permukaan media sosial. Entah mereka yang di kota, pedesaan atau dipinggiran gunung, atau juga di berbagai penjuru daerah yang tak dikenali rimbanya.  Mereka itu adalah pengajar-pengajar sejati, yang tidak kenal publikasi. Mereka adalah pengajar sejati, penuh dedikasi. Mereka pengajar sejati, tanpa harus mengemis kepada negeri.

Hari ini, hari guru. Sebagai guru, saya beruntung bisa mengenang ragam interaksi masa lalu, dalam rangka mencari sesuap nasi. Penyampaian dokumen silam yang membuat kami tersenyum, hadir dengan tak terduga. Anak-anak yang kini sudah dewasa, mengungkap kembali kenangan-kenangan yang tak tersadari dan bukan setingan, dihadirkan kembali saat ini, di media ini.

Tetapi, sekali lagi, dan ini kerap berulang-ulang. Disamping seliweran ucapan itu, hadir kembali sebuah bayangan kusam dalam kesan sejarah.  Kisah-kisah yang diungkapkan, tak selamanya adalah kisah bahagia, tetapi juga duka. Bukan hanya cerita guru, tetapi juga derita guru.  Bukan hanya narasi, tetapi juga koreksi.

Tak bermaksud untuk membela diri. Kadang diri ini, tersudut ke pojok ruangan, dan berguman. Guru juga manusia. Guru juga punya hati, dan emosi. Guru juga memiliki harkat dan kehormatan. Tapi, di luar semua hal itu, guru masih memiliki misi, dan keinginan, melihat sejarah masa depan bangsanya untuk bisa lebih baik.

Hari ini, hari guru. Sebagai guru saya beruntung. Sempat memiliki kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Namun, tidaklah semua hal itu, kemudian menjadi benih harapan bagi seseorang. Karena dibalik itu semua, kerap kali pula ada kesalahpahaman dari pihak lain.

Aku bilang A, mereka menganggapnya -A. "ah, masih mending kalau bilang A, kau bilang B, itu artinya ada penambahan dan pengembangan.." pikirku. Bila hal yang terakhir itu terjadi, maka hal itu adalah sebuah kebahagiaan, karena anak-anak atau siapapun mereka mampu menumbuhkembangkan pengetahuan dan pengalaman hidup ini. Namun, masalahnya adalah, aku bilang A, yang lain malah bilang -A. 

Niat baik mengingatkan anak muslim untuk solat, dengan cara pendisiplinan ala dunia sekolahan, namun malah diprotes dan ditarik ke meja hijau oleh sang orangtua. Karena mengoreksi kelakuan siswa, sang guru malah diketepel matanya hingga terluka. Aku bermaksud untuk menyampaikan nilai-nilai A, malah direspon dengan dengan cara negatif A.

Sekali lagi, mungkin jadi, ada manfaatnya untuk mengawal dan mengoreksi profesionalisme seorang tenaga pendidik. Tetapi, bila penilaian, koreksi atau kritikan itu, bernuansa provokasi dan penolakan, maka hal yang terjadi adalah sesuatu yang kurang bermanfaat bagi masa depan guru, profesi, dan juga anak bangsa.

Entah nyambung atau tidak, tetapi pesan Krisna kepada Arjuna, ada baiknya untuk direnungkan :

Engkau bersedih hati kepada mereka yang tak patut disedihkan, juga  engkau  berbicara  dengan  kata-kata  yang  penuh mengandung pengetahuan. Orang yang bijaksana tak bersedih pada mereka yang mati atau pada yang hidup. (Baghawad Gita, Percakapan 2 : 11)

Selamat Hari Guru, dan Selamatkan Guru

000

Sumber : https://www.kompasiana.com/momonsudarma/656126adc57afb162f623632/selamat-hari-guru-selamatkan-guru


Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar