Ada sesuatu yang menarik dalam diri manusia: kita tidak selalu mengetahui dengan tepat seberapa mampu diri kita sendiri.
Ada orang yang sesungguhnya memiliki kemampuan besar, tetapi tidak pernah benar-benar percaya bahwa dirinya mampu. Ia berjalan dengan keraguan, berbicara dengan suara yang tertahan, mengambil keputusan dengan banyak pertimbangan, dan sering kali membandingkan dirinya dengan orang lain. Potensinya ada, tetapi belum menemukan keberanian untuk muncul ke permukaan.
Sebaliknya, ada pula orang yang tampak sangat percaya diri. Ia berani berbicara, berani tampil, berani mengambil keputusan, bahkan berani menyatakan bahwa dirinya mampu. Tetapi setelah diberi kesempatan, ternyata kemampuan aktualnya belum sekuat keyakinannya.Di antara kedua keadaan tersebut, terdapat satu persoalan penting: percaya diri dan kemampuan bukanlah hal yang sama. Keduanya berhubungan, tetapi tidak identik.
Bayangkan keduanya sebagai dua sumbu dalam sebuah bidang. Sumbu horizontal menunjukkan kemampuan, sedangkan sumbu vertikal menunjukkan percaya diri. Dari pertemuan dua sumbu tersebut, kita dapat melihat sedikitnya empat keadaan manusia.
Pertama, orang dengan kemampuan rendah dan percaya diri rendah. Kedua, orang dengan kemampuan tinggi tetapi percaya diri rendah. Ketiga, orang dengan kemampuan rendah tetapi percaya diri tinggi. Dan keempat, orang dengan kemampuan tinggi sekaligus percaya diri tinggi.
Keempatnya membutuhkan perlakuan yang berbeda.
Di sudut ketika kemampuan sebenarnya tinggi tetapi percaya diri rendah, kita menemukan apa yang dapat disebut sebagai permata tersembunyi. Mereka sebenarnya mampu.
Mereka mungkin memiliki kecerdasan, keterampilan, daya analisis, kreativitas, atau pengalaman yang cukup. Namun ada sesuatu yang menghalangi kemampuan tersebut untuk tampil. Bisa berupa pengalaman kegagalan, kebiasaan dibandingkan dengan orang lain, kritik yang terlalu sering diterima, lingkungan yang tidak memberikan ruang, atau pengalaman masa lalu yang membuat seseorang kehilangan keyakinan terhadap dirinya sendiri.
Di sekolah, misalnya, kita dapat menemukan murid yang jarang mengangkat tangan meskipun jawabannya sering benar. Ada murid yang sebenarnya memiliki gagasan bagus, tetapi takut mengemukakannya karena khawatir ditertawakan. Ada pula seseorang yang memiliki kemampuan menulis, tetapi tidak pernah mengirimkan tulisannya karena merasa tulisan orang lain jauh lebih baik.
Masalah mereka bukan selalu kekurangan kemampuan. Kadang-kadang, masalahnya adalah ketidakpercayaan terhadap kemampuan sendiri. Inilah yang membuat potensi manusia sering kali tidak terlihat. Dunia hanya dapat melihat apa yang ditampilkan. Kemampuan yang tidak pernah digunakan, tidak pernah diuji, dan tidak pernah diberi kesempatan, akhirnya tampak seperti ketidakmampuan.
Padahal belum tentu demikian. Permata tetaplah permata meskipun masih berada di dalam batu. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya bertugas mengukur kemampuan. Pendidikan juga perlu menciptakan ruang yang membuat seseorang berani menyadari bahwa dirinya mempunyai kemungkinan untuk berkembang.
Seseorang tidak harus langsung hebat. Ia hanya perlu memperoleh kesempatan pertama untuk mencoba.
RUANG TUMBUH. Pada keadaan ketika kemampuan dan percaya diri sama-sama rendah, kita menemukan wilayah yang dapat disebut ruang tumbuh.
Kalimat yang tepat untuk keadaan ini bukanlah, "Saya tidak bisa." Kalimat yang lebih sehat adalah, "Saya belum yakin bahwa saya bisa." Kata belum mempunyai kekuatan yang besar. "I can't" atau "saya tidak bisa" terdengar seperti keputusan akhir. Sementara "saya belum bisa" membuka pintu bagi proses. Di sinilah konsep pertumbuhan menjadi penting.
Kemampuan manusia bukan benda mati. Kemampuan dapat dibangun melalui latihan, pengalaman, umpan balik, pendampingan, kesalahan, pengulangan, dan keberanian menghadapi tantangan.
Seorang anak yang pertama kali memegang kamera tentu belum menjadi fotografer. Seseorang yang baru belajar berbicara di depan umum tentu belum menjadi pembicara yang baik. Murid yang baru mengenal matematika tingkat lanjut tentu belum mampu menyelesaikan seluruh persoalan.
Tetapi ketidakmampuan pada hari ini tidak otomatis menjadi ketidakmampuan selamanya. Ada proses di antara keduanya. Proses itulah yang sering dilupakan.
Kita terlalu mudah melihat hasil akhir orang lain, lalu membandingkannya dengan posisi awal diri sendiri. Kita melihat seseorang sudah pandai berbicara, lalu lupa bahwa ia pernah gugup. Kita melihat seseorang memenangkan kompetisi, lalu lupa bahwa mungkin ada puluhan kegagalan sebelum kemenangan itu terjadi.
Karena itu, ruang tumbuh harus dipelihara. Di ruang inilah seseorang boleh salah tanpa langsung dicap bodoh. Boleh mencoba tanpa harus selalu berhasil. Boleh bertanya tanpa dipermalukan. Boleh mengulang tanpa dianggap tidak mampu.
Ruang tumbuh bukan tempat untuk memanjakan kelemahan. Sebaliknya, ruang tumbuh adalah tempat untuk mengubah kelemahan menjadi kapasitas.
Ada keadaan lain yang sangat menarik: kemampuan seseorang mungkin belum tinggi, tetapi percaya dirinya sudah relatif tinggi. Ia berkata, "Saya berani mencoba. Tinggal memperkuat."
Keadaan ini dapat menjadi modal yang sangat baik apabila disertai kesediaan belajar. BERANI BERTUMBUH.
Seseorang yang berani mencoba mempunyai energi untuk bergerak. Ia tidak terlalu takut menghadapi kesalahan. Ia bersedia masuk ke dalam pengalaman baru. Ia memiliki keberanian untuk mengatakan, "Saya coba dulu."
Tetapi keberanian saja belum cukup. Percaya diri tanpa evaluasi dapat berubah menjadi ilusi kemampuan. Orang dapat merasa yakin bahwa dirinya hebat, padahal belum pernah menguji kemampuan secara serius. Ia dapat berbicara seolah-olah memahami sesuatu, tetapi ketika berhadapan dengan persoalan nyata, ternyata fondasinya belum cukup kuat.
Karena itu, percaya diri perlu bertemu dengan realitas. Berani mencoba harus diikuti dengan berani menerima umpan balik.
Berani tampil harus diikuti dengan berani mengevaluasi. Berani mengatakan "saya mampu" harus disertai pertanyaan, "apa buktinya, dalam hal apa saya mampu, dan bagian mana yang masih harus saya perbaiki?"
Pertanyaan seperti itu bukan untuk meruntuhkan percaya diri. Justru sebaliknya. Pertanyaan tersebut membantu mengubah percaya diri yang masih mentah menjadi percaya diri yang berbasis kompetensi.
Pada titik ketika kemampuan dan percaya diri sama-sama tinggi, kita menemukan kondisi mumpuni. Kalimatnya bukan sekadar, "Saya mampu." Lebih matang daripada itu: "Saya mampu dan tahu mengapa saya mampu." Ada perbedaan besar di antara keduanya.
"Saya mampu" adalah keyakinan. "Saya mampu dan tahu mengapa saya mampu" adalah keyakinan yang ditopang oleh pengalaman, pengetahuan, latihan, kompetensi, dan bukti.
Orang seperti ini biasanya tidak perlu terlalu banyak meyakinkan orang lain bahwa dirinya hebat. Kompetensinya berbicara melalui pekerjaan yang dilakukan.
Ia mengetahui kekuatannya, tetapi juga memahami batasnya. Ia percaya diri, tetapi tidak alergi terhadap kritik. Ia berani mengambil tanggung jawab, tetapi tidak menganggap dirinya selalu benar. Ia mampu mengatakan "saya bisa", tetapi juga tidak malu mengatakan "saya belum tahu." Justru kemampuan mengatakan "belum tahu" merupakan salah satu tanda penting kematangan seseorang. Sebab orang yang benar-benar mumpuni memahami bahwa kemampuan tidak berarti mengetahui segala sesuatu.
Kemampuan berarti mengetahui apa yang dikuasai, mengetahui apa yang belum dikuasai, dan mengetahui bagaimana cara memperoleh pengetahuan atau bantuan yang dibutuhkan.
Matriks percaya diri dan kemampuan ini juga mengajarkan sesuatu yang penting kepada kita ketika menilai orang lain. Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa orang yang pendiam berarti tidak mampu. Jangan pula menganggap orang yang banyak berbicara pasti memiliki kemampuan tinggi.
Penampilan percaya diri bukan ukuran tunggal kompetensi. Sebaliknya, keraguan seseorang juga bukan bukti bahwa ia tidak mempunyai potensi. Dalam dunia pendidikan, organisasi, maupun kehidupan sosial, kita sering melakukan kesalahan karena menilai manusia hanya berdasarkan apa yang terlihat pada permukaan.
Yang tampil percaya diri mendapat perhatian. Yang pendiam sering terlewatkan. Yang cepat berbicara dianggap pintar. Yang membutuhkan waktu untuk menjawab dianggap kurang mampu. Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada penampilan sesaat. Mungkin seseorang sedang berada di titik "permata tersembunyi". Mungkin ia hanya membutuhkan lingkungan yang tepat agar kemampuannya muncul.
Mungkin pula seseorang berada di "ruang tumbuh", sehingga yang dibutuhkan bukan penghakiman, melainkan kesempatan. Dan mungkin seseorang yang sangat percaya diri sedang membutuhkan sesuatu yang berbeda: bukan tambahan pujian, tetapi pengalaman yang menguji sekaligus memperkuat kompetensinya.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan dan pengembangan diri bukan sekadar membuat seseorang menjadi percaya diri. Percaya diri tanpa kemampuan dapat menyesatkan. Kemampuan tanpa percaya diri dapat tersembunyi. Kemampuan yang rendah tetapi disertai kemauan belajar masih dapat berkembang. Sedangkan kemampuan yang tinggi dan percaya diri yang sehat memungkinkan seseorang memberikan kontribusi lebih besar.
Karena itu, yang perlu dibangun adalah hubungan dinamis antara percaya diri, kemampuan, pengalaman, dan keberanian bertumbuh . Kita tidak perlu memaksa semua orang berada di titik yang sama pada waktu yang sama. Setiap orang mempunyai titik berangkat yang berbeda.Ada yang sedang menggali permatanya. Ada yang baru memasuki ruang tumbuh.Ada yang sedang mengumpulkan keberanian untuk mencoba. Ada pula yang sudah memiliki kompetensi dan tinggal memperluas medan pengabdiannya. Yang terpenting adalah jangan berhenti bergerak. Sebab manusia bukan sekadar hasil dari kemampuan yang dimilikinya hari ini.
Manusia juga merupakan kemungkinan dari kemampuan yang belum selesai dibangun. Maka, ketika suatu hari kita bertemu seseorang yang berkata, "Saya tidak mampu," mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan, "Mengapa kamu tidak mampu?"
Melainkan: "Apa yang membuatmu belum percaya bahwa kamu mampu?" Dan ketika seseorang berkata, "Saya mampu," pertanyaan berikutnya bukan untuk menjatuhkannya: "Apa yang sudah kamu lakukan untuk membuktikannya?"
Dua pertanyaan itu membawa kita kepada dua sisi yang sama pentingnya: keyakinan dan kenyataan. Percaya diri memberi seseorang keberanian untuk melangkah. Kemampuan memberi langkah itu pijakan. Pengalaman memberikan arah. Dan keberanian untuk terus belajar membuat perjalanan tidak berhenti pada satu keberhasilan.
Barangkali, di situlah makna sebenarnya dari menjadi manusia yang mumpuni: bukan manusia yang merasa sudah selesai, tetapi manusia yang cukup percaya diri untuk melangkah dan cukup rendah hati untuk terus bertumbuh.

0 comments:
Posting Komentar