Saya menuliskan ini, ada dalam bayang-bayang kekhawatiran. Khawatir bukan karena ide atau gagasannya. Kekhawatiran itu, justru lebih disebabkan karena kecerobohan dalam menuliskannya.
Bisa dibayangkan. Kita sedang menuliskan, apa yang mungkin sedang terjadi pada diri sendiri. Sesuatu yang potensial terjadi itu, adalah sebuah derajat dari kecerobohannya itu sendiri, yaitu bertengger di gunung kebodohan.Teman-teman atau rekan pembaca, tentunya sudah tahu, bahkan bisa jadi lebih paham dari apa yang hendak saya tuliskan. Dan, inilah gunung kebodohan yang saya sendiri, tak sadari.
Baru saja, membaca sehalaman, dan atau mendengar khutbah-pengetahuan itu, sepintasan lalu, kemudian merasa pede, dan percaya diri untuk menuliskannya di blog pribadi ini. Benar-benar, terasa dan sangat dirasakan.
"Ah, saya paham, dan gampang..", pekikku saat itu. Kendati baru sepintar lalu menyimaknya, namun gagasan besar dari grafik Dunning Kruger Effect, sudah merasa dipahami.
Mirisnya lagi. Kondisi ini, tidak hanya terjadi pada diri sendiri. Eh, maaf, mungkin ini, sekedar penilaian subjektif belaka. Tapi, rasa-rasanya, puncak kebodohan itu, sedang teridap oleh banyak orang. Baru juga menjadi partisipan partai, sudah merasa menjadi pakar politik. Baru saja menjadi anggota ormas pendidikan, merasa pakar pendidikan. Baru saja, belajar hukum satu semester, sudah merasa mejadi lawyers atau advokat.
Penyakit ini, sedang melanda negeri kita, eh negeri siapa ya ? ah, entahla. Karena, sejatinya, kondisi dan keadaan ini, memang hadir tanpa disadari oleh pelaku. Andai si pelakunya diingatkan, maka mereka tidak akan mengakuinya, karena itu tadi, "sudah merasa pakar", padahal baru saja, berada di puncak kebodohan. Pengetahuan terbatas, tetapi merasa sudah menjadi pakar, dan tahu segalanya !!!
sekali lagi, secara tidak sadar. Padahal baru baca sehalaman dan mendengarkannya sekali, tapi kemudian, merasa percaya diri dan sudah memahami hakikatnya.
Di sinilah, saya merasakan kekhawatiran. Khawatir saya menjadi salah satu orang yang mengalami kehidupan, berada di puncak gunung kebodohan (Mt. Stupid). Merasa sudah paham, merasa sudah ahli, padahal ilmu atau informasinya baru secuil belaka.
Termasuk dalam beberapa hal sebelumnya.
Sejatinya, dalam dua hari terakhir ini, saya sempat menuntaskan dua tulisan serius. Ah, tidak akan disebutkan temanya. Hal yang penulis sadari dan akui, ruang lingkup kajian itu, jauh dari latar belakang keilmuan yang selama ini digeluti. Istilah lainnya, adalah jauh dari ruang lingkup kepakaran.
Hanya nekad, dan merasa bisa, atau merasa mampu untuk menuliskannya, maka kemudian diselesaikannyalah dua makalah itu.
Rasanya, semua itu, sekedar untuk memuaskan hawa nafsu diri, dalam mempertontonkan diri sebagai orang yang paham dengan topik itu. Padahal, sejatinya, pengetahuan dan kompetensinya pun, barulah secuil belaka.
Namun, mengapa nekad ? inilah buah dari keberadaan orang yang hidup di puncak kebodohan. Membanggakan pengetahuan diri yang terbatas, dan menunjukkan diri melampaui kepatutannya.
Kendati demikian, saya sendiri, tidak mau, masuk ke dalam jurang keputusaan. Tidak. Saya tidak mau masuk ke wilayah itu.
Tersadari saat ini, dan terbayang sudah. Andai ada ragam pihak yang memberikan komentar terhadap tulisan itu, dan kemudian memberikan kritikan pedas dan tajam, dan bahkan mampu menunjukkan celah kebodohanku, maka bukan hal mustahila, saya akan berada di asfala safilin, di dasar lembah yang paling rendah dan hina. Itulah lembah keputusasaan.
Seperti tempo tahun, pernah merasakan. Ada media massa yang tidak tepat menuliskan posisi dan status sosial. Kemudian, tercantum dalam media itu, afiliasi akademikku ke perguruan tinggi favorit di Kota Bandung. Padahal, saya sendiri tidak menyatakan hal itu, dan tidak mengaku seperti itu. Sebagai lulusan dari kampus kebanggaan, sudah tentu, saya akui itu, tetapi saya bukan akademisi dari lembaga perguruan tinggi itu. Saya, adalah guru biasa, guru dari sebuah madrasah, setingkat SMA. Itu saja. Titik.
Netizen memang mahakuasa, dan maha merdeka. Mereka leluasa dan merasa bebas mengkritik atau memberikan penilaian, sesuka hati. Sampai, saya merasa terpukul berkali-kali, dan "tidak menyangka akan terjadi seperti ini..".
Terpuruk di lembah keputusasaan !!!
Pasionku, menurut diri dan orang lain, adalah tetap menulis. Karena itu, saya kemudian bangkit dan menunjikkan diri lagi, sebagai penulis, lebih tepatnya guru yang penulis, atau penulis yang jadi guru. Tema tulisannya, sesuka hati, sebagaimana seorang warga negara biasa saja.
Dari situlah, saya mencoba bangkit lagi, dan menunjukkan kompetensi diri, dan melupakan kritikan pedas di masa lalu. Sampai hari ini, setidaknya, saya tidak merasa minder, karena sudah lahir puluhan buku, atau artikel, termasuk juga tulisan yang diharapkan mampu menunjukkan diri, sebagai orang yang bangkit dari lembah keputus asaan, menuju kemandirian identitas diri.
Entahlah !... apa sebutan orang lain, terhadap perjalanan hidup ini !

0 comments:
Posting Komentar