Just another free Blogger theme

Jumat, 05 Juni 2020

Matahari Terbit Lautan Kabut - Foto gratis di PixabaySikap dan kelakuan tidak menghargai waktu, hampir terlakukan secara tidak sadar. Banyak orang, diantara kita yang melakukan hal ini, tanpa kesadaran. Bahkan, kerap kali menghadapi sesuatu dengan cara ujug-ujug, atau mendadak. Mendadak berganti hari, mendadak sudah mepet. Mendadak teringatkan, dan lain sebagainya. Semuanya serba mendadak.
Ujung-ujung dari situasi serupa ini, kadang malah menyalahkan waktu. "Ah, gak ada waktu." ketusnya dalam hati, dan seringkali pula terlontar dalam lisan. Pertanyaan kita adalah, apakah layak kita menyalahkan waktu ?
Pengalaman kita, selama Pandemic Covid-19 tahun 2020 ini, terasa cukup banyak hal, yang dirasa dan terasa mendadak. Seorang guru, mendadak daring, Seorang pelajar mendadak belajar di rumah. Seorang ayah dan ibu, mendadak harus memainkan peran sebagai guru. Hal yang lebih memprihatinkan, sejumlah sahabat, tetangga kita, atau saudara kita, mendadak di rumahkan, karena pandemic ini. Semua serba mendadak.
Pertanyaan dasar kita memang mengacu pada satu hal, "apakah ada sesuatu hal yang salah, dengan sesuatu hal yang mendadak ?" dalam istilah yang lain, "apakah hukum kemendadakan, adalah sesuatu hal yang salah, sehingga kita bisa menyalahkan waktu ?", ketusan diantara kita, "habis mendadak sih, jadi beginilah kejadiannya...." ungkapnya, dengan arah dan tujuan yang tak jelas, siapa yang dijadikan sasaran omelannya tersebut.
Untuk mentafakuri situasi serupa ini, rasanya kita perlu melihat, mencari dan menggali makna lain, terkait dengan jalannya waktu dalam hidup dna kehidupan kita saat ini.
Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami, menceritakan kepada kami, az Zuhri telah menceritakan kepada kami dari Sa'id bin al Musayyab dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw  bersabda: Allah Swt berfirman: "lbnu Adam mengganggu pada-Ku, ia telah memaki-maki masa, padahal Aku-lah masa itu, sebab di tangan-Ku segala urusannya, Aku yang membolak-balik malam dan siang".
Dengan memperhatikan hadist Qudsi ini, setidaknya kita menemukan ada beberapa pelajaran penting.
Pertama, tidak layak memaki-maki waktu. Waktu adalah hukum alam, yang berjalan apa adanya. Manusia memperhatikan atau mengabaikannya, maka waktu akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Andai kiat kerja keras, waktu akan berjalan. Andai kita isi waktu itu dengan tidur malas, pun, waktu akan terus berjalan. Oleh karena itu, pada saat kita memaki-maki waktu, maka ada kekeliruan sikap dari manusia itu sendiri.
Kedua, pada hadist Qudsi ini, ada asma Allah Swt yang terlupakan, yaitu asma ad-Dahr. Allah Swt adalah ad-Dahr, hal itu sesuai dengan pengakuan Ilahi tentang Dirinya, Aku-lah Masa (wa Ana ad-Dahr). Allah Swt menyatakan Diri, bahwa Diri-Nyalah ad-Dahr, karena Diri-Nya yang menciptakan waktu, siang dan malam. Dalam kekuasannya, segala urusan makhluk di dunia dan diakhirat itu.
Ketiga, Allah Swt adalah mengurus waktu. Dalam hadits itu digunakan lafaz aqallabul lail wa nahar, akulah yang membolak-balilkkan malam dan siang. Lafaz qallab, bisa diartikan bolak-balik, dan dapat pula diartikan mengatur atau mengelola. Oleh karena itu, lafaz aqallabul lail wa nahar   dapat dimaknai Allah Swt-lah yang mengatur peredaran benda langit, sehingga terjadinya proses malam dan siang.
Keempat, pesan umum yang ingin tersampaikan, terkesan mengenai pentingnya kita dalam menjaga sikap dan lisan, jangan sampai tercetus pemahaman atau pemikiran yang lebih mengarah pada menyalahkan faktor luar, termasuk lingkungan, tiadanya waktu luang, dan lain sebagainya. pepatah lain mengatakan, salah satu ciri orang lemah dan tak bertanggungjawab adalah menunjuk faktor lain sebagai penyebab kegagalan dan kesalahan. Kita boleh tidak sepakat dengan pernyataan itu, tetapi hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita.
Andai kita senantiasa menyalahkan orang lain, akankah kita mendapat efek perubahan dari tindakan semua itu ? ataukah, lebih baik kita melakukan koreksi terhadap kelemahan diri, dan kemudian memperbaikinya ?
Wallahu 'alam/.

Kamis, 21 Mei 2020


Pembagian Takjil Gratis dengan Penerapan Jaga Jarak Fisik - Bagian 2Dalam minggu ini, berkesempatan mengikuti webinar dari berbagai lembaga. Dua diantaranya dari program pendidikan geografi, dan dua diantara yang lainnya adalah jurusan pendidikan umum (fakultas tarbiyah). Motivasi dasar waktu, sesungguhnya sangat sederhana, yakni ingin mengetahui dampak pandemic terhadap dunia pendidikan, baik dalam konteks pendidikan umum (tarbiyah) maupun pendidikan geografi.

Selasa, 05 Mei 2020



Hadist Shalat Wajib sendiri dan berjamaah - TandanSari TaphilSaya baru sadar sekarang. Ini adalah pekerjaan luar biasa. Pekerjaan yang tidak terduga dan diduga sebelumnya, ternyata memiliki efek yang sungguh luar biasa. Tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa hal ini akan terjadi seperti hari ini.

Sabtu, 02 Mei 2020


Profesi Guru – Momon Sudarma | Shopee IndonesiaSudah biasa. Rasanya sudah jadi menu rutin. Ada dua kesempatan, untuk ngorek-ngorek profesi guru. Saat pelaksanaan hari pendidikan, dan hari guru. Ini adalah momentum nasional yang seolah menjadi waktu yang tepat untuk ngomelin guru. Kalau di tahun-tahun sebelumnya, sebenarnya ada satu lagi, waktu yang tepat ngomelin guru, yakni saat pengumuman kelulusan. Nilai Ujian Nasional, adalah objek praktis untuk membincangkan profesi guru. Tetapi untuk tahun ini, mungkin tidak ada kesempatan yang terakhir ini. Sehingga tersisa dua momen nasional saja.

Selasa, 24 Maret 2020


Hasil gambar untuk covid 19Walaupun, kisah ini, lebih  merupakan apologia, tetapi rasanya ingin sekali di kemukakan di sini. Ya, penulis sebut sebagai apologi, karena peran nyata penulis sendiri, tidak terlihat, tidak terasa, bahkan mungkin tidak ada. Andaipun ada yang menyebut dan menilai, bahwa penulis sudah menunjukkan peran dalam penanganan pandemic Covid-19 ini, lebih merupakan sebagai kepanjangan tangan dari Pemerintah, karena penulis sebagai seorang ASN.

Jumat, 20 Maret 2020


Salah satu karakter ilmu modern (science) yaitu mempercayai statistic.  Proses kuantivikasi (penstatistikan) atau menghitung secara matematik, menjadi trend baru di masyarakat Indonesia.  Peran nyata dari revolusi kuantitatif ini, mulai dan sangat dirasakan sekali yaitu pada praktek pemilihan umum, pemilihan presiden atau pemilihan kepala daerah.

Minggu, 09 Februari 2020


Hasil gambar untuk budayaSalah satu konsep dasar dalam pengembangan geografi manusia atau geografi budaya adalah memahami konsep budaya. Budaya atau kebudayaan, merupakan konsep kunci yang banyak menjadi perhatian banyak kalangan, sepert Antropologi, Sosiologi dan juga Geografi Manusia.