Just another free Blogger theme

Sabtu, 01 Agustus 2026

Saya, ada dibelakang mereka. Antrian cukup panjang. Iseng-iseng diitung, ada yang antri dengan jumlah sekitar 10 orang dengan ujung ekor yang mengular 2-3 orang lagi di belakangnya. Ada pula yang 9 orang, dengan ujung ekor yang mengular serupa pula. Antrian itu, tampak, panjang, mengular di depan mulut toilet.



Di toilet Masjid Isiqlah. Sore itu. Jelang  maghrib. Bersamaan dengan kegiatan Doa dan Dzikir yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia, di kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta. 

Bersama sejumlah rekanan dari Kota Bandung, sudah hadir di lokasi, sekitar pukul 16.00 WIB. Jam'ah pun sudah tumpah ruang di kawasan ini. Satu diantara mereka yang hadir dalam hiruk pikuk, adalah kami yang sedang antri di depan toilet ini.

Betul. Pembaca sudah bisa paham. Hadirnya jama'ah, ribuan jumlahnya, dari sejumlah wilayah dari tiga propinsi (begitulah menurut informasi), yakni Jawa Barat, DKI dan Propinsi Banten. Jama'ah yang hadir pun, tua dan muda, masih sehat dan yang sudah memiliki masalah degeneratif. 
Fenomena yang umum terjadi dalam situasi itu, adalah beser, atau kebutuhan buang air kecil, dengan intensitas yang pendek dan massal. Sekali lagi, saya adalah satu diantara mereka yang mengalami masalah ini.  

Sejatinya, di kawasan perhelatan itupun, sudah disediakan panitia. Tetapi, kenampakkannya hal yang serupa. Kemudian, beberapa rekanan mengambil kesempatan untuk uji keberuntungan ke Masjid Istiqlal, walau harus berjalan cukup jauh dari lokasi. Tidak mengapa. Itulah yang kami rasakan, yang terpenting --kelihatannya, memiliki pemikiran yang sama, tertunaikannya kebutuhan biologis yang satu ini.

Sayangnya, dan inilah fenomena yang terjadi di setiap fasilitas umum ini, yakni antri yang cukup panjang. Antrian ini, terjadi, bukan hanya di toilet Masjid Istiqlal, tetapi juga di sejumlah fasum yang disediakan panitia. 

Antri. Panjang. Menuntut kesabaran. Andai kuat, untuk itu dilakukan. Bila tidak, maka kekesalan, secara reflek muncul dalam diri seseorang.

"harusnya, semua orang memiliki kepekaan..." ujar, seorang jama;ah dihadapanku. Mereka menuturkan dan mengenalkan diri, dari salah satu madrasah di Jakarta. "tidak usah mandi....", ketusnya lagi.

"iya, betul, dalam situasi serupa ini, cukup BAB..." Pandangan ini, disampaikannya, dengan menyampaikan alasan, bahwa dibalik orang antri itu, potensial ada kebutuhan yang lebih krusial. Sedangkan untuk wudhu, dapat dilakukan di luar,  yang saat itu, tampak boleh kosong dibanding dengan depan toilet saat itu.

"lihat, itu orang.." ungkapnya lagi, sambil menunjukkan pada seseorang yang baru keluar dari toilet dengan kondisi sudah wudhu atau mungkin masalah sudah mandi juga. "lemah kepekaannya..", katanya.

"Melihat kejadian itu, salah kita kita sebagai orang tua. Bahkan, kita-kita yang jadi tenaga pendidik pun, bertanggungjawab terhadap kondisi ini..." ungkapku.

"terlalu mengedepankan kognitif, dan juga membiarkan anak-anak berkembang dengan egonya sendiri.." dia menambahkan. 

Tidak terasa, sambil melepas kepenatan karena suhu Jakarta yang tinggi, dan antrian yang panjang, kami berdiskusi pendek di depan toilet. Sesekali pula, kami melakukan lirikan dan lemparan senyum dan komen, ke tetangga barisan, yang juga diisi oleh beberapa rekanan yang antri depan toilet itu.

Terbetik dalam pikiran, dimanapun, kalau ada masalah bersama, bisa memantik perdebatan yang cukup mencerahkan. "iya, kita saja, merasa bisa peka dan hadir kepekaan ini, saat kita menjadi korban.." pancingku.

Dengan cepat, mitra yang baru kenal di depan toilet itu, menyambar, dengan menyampaikan pandangannya. "memang, dari derita dan penderitaan itulah, asahan terhadap kepekaan akan terjadi. Kalau kita tidak merasakan, apa yang dirasakan korban, kita tidak akan memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah kehidupan ini.." paparnya.

"walaupun, kita, saat ini, sebenarnya, tengah belajar sabar. Sabar dalam mengantri..."

"nah, di sinilah problemnya. Kita belajar sabar mengantri, tetapi ada pihak yang dzalim dalam memanfaatkan kesabaran kita." paparnya lagi, "mereka yang tidak peka dengan kesabaran orang lain, itulah yang zalim terhadap orang sabar...".

Saat itu, tidak terasa waktu diskusinya. Tetapi, sembari ngerumpi itu pula, mata dan kaki kami tetap melakukan pengawasan dan pengecekan, seiring dengan keluar masuknya antrian ke ruang toulet untuk menunaikan hajatnya. sore itu, di Istiqlal.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar