Just another free Blogger theme

Senin, 03 Agustus 2026

Alkisah. Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB. Kami, sebanyak 29 orang berdiri, bergerombol di Jembatan Gambir - Jakarta. Kumpulnya di sana, dimaksudkan untuk memudahkan kendaraan penjemput, untuk bisa pulang ke kampung halaman, Paris van Java.


Kontakan demi kontakan di lakukan. Ketua rombongan meyakinkan, perjalanan akan lancar, dan penjembut siap tiba di depan kelompok kami. Dari pihak driver memberitakan, bahwa kendaraannya tengah terus berusaha untuk melaju. Begitulah kisahnay di sekitar malam itu.

Detik demi detik berlalu. menit demi menit berlalu. Kendaraan tak jua muncul dihadapan kelompok. Mulai galau bermunculan. "posisi penjemput di  mana..?", "kendaraan di mana?" , "dah sampai belum...?" sejumlah pertanyaan bermunculan dari ragam lisan, yang ada di kelompok. Sementara sang Ketua Regu, hanya bisa meyakinkan, "kendaraan sedang melaju, tapi lambat, macet..." ungkapnya.

Kami pun berdiam diri. Menghadirkan rasa sabar, dan siap untuk menunggu. Hampir dipastikan, semua orang yang hadir saat itu, lebih mengambil sikap sabar untuk menunggu, perjalanan  bis penjemput.

"lihat, di maps.." ujar sang Ketua, "posisinya di sini, tapi kelihatannya, dibelokkan oleh pihak pengatur jalan, jadi muter lagi ke sini.." paparnya, sambil menunjuk ke maps, yang sekedar diterangi lampu jalanan. Beruntung ponsel itu memancarkan cahaya, sehingga memudahkan kami untuk melihatnya. Namun, tidak semua peduli dengan itu, karena yang mereka pedulikan bukanlah maps, tetapi bis penjemput itu sendiri.

Waktu terus berjalan. Sesekali bahkan berulang kali, saya melihat jam. Pun demikian orang lain. perjalanan waktu, ternyata tidak bisa distop, dan stok kesabaran mulai menipis. Hampir 40 menitan berlalu, hanya untuk sekedar berdiri di pinggiran jalan, dibawah jembatan Statsion Gambir Jakarta.

Pukul 23 sudah terlewat, dan kami menunggu sudah melebihi kapasitas kesabaran dan ketahanan fisik. Kegelisahan muncul lebih menguat, kesabaran mulai menurun. Namun, tetap saja, sang waktu terus berjalan, sementara bis penjemput, seakan mempermainkan malam di kala itu, dengan tetap bersembunyi dibalik keramaian dan kemacetan jalanan Jakarta.

"bagaimana sekarang ? " tanya yang lain, "situasi macet seperti ini.."

"kita susul saja ke sana.." usul yang lain, yang kemudian disahuti rekan-rekan sekelompok. AKhirnya, kami pun berjalan melawan arus, atau lebih tepatnya, kembali menuju titik kumpul sebelumnya. Bayangkan saja, perjalan tadi sore bergerak ke depan, dan malam ini, kamu bergerak lagi mundur, dengan maksud untuk menjemput bis penjemputan tersebut.

Semua bergerak. Kantuk dilawan. Lelah dibabat.  Kendati ada kantuk dan lelah, namun karena bernafsu untuk segera bisa naik ke bis penjemputan, dan pulang menuju Bandung, kami tetap memaksa kaki untuk melaju mencari, menemukan dan menjemput bis yang terjebak macet di tengah keramaian kota.

Lumayan. Ada 10-15 menitan kami berjalan, dan kemudian tampak bis penjemputan yang kami maksudkan. Dia teronggok di tengah kemacetan, dengan lajut bak bayi yang berjalan merangkak, selangkah demi selangkah.

Melihat sosok bis jemputan itu, sontak saja, emosi berterak kegiranga. "Itu dia, ayo masuk, kelompok 13, kita pulang..." ujar yang lain. Sejumlah rekanan yang lain, mempercepat langkah, dengan maksud ingin segera masuk ke bis jemputan, dan duduk santai didalamnya, untuk melepas penat dan lelah.

Saking riangnya, kami tidak sempat menghitung perjalanan itu. Akhirnya, kami bisa duduk di kursi bis dan mengucapkan "akhirnya, kita bisa juga istirahat di dalam bis...".

"iya sih, tapi, tetap saja macet.." balas yang lain, "tapi lumayan, setidaknya kita bisa istirahat dalam bis, daripada dikolong jembatan jalanan, seperti tadi..".

Celotehan itu terus berlanjut, antara ucapan syukur, dan kebahagiaan, yang bercampur dengan kenangan atas perjalanan panjang malam itu, di kota kebanggaan Indonesia selama ini. Bis pun melajut, seperti hal yang tadi sudah diceritakan, dan kami yang ada dalam bis, saat ini, lebih banyak menatap banyak orang yang juga antri, menunggu jemputran. "ya Allah, kapan jemputan mereka hadir..? ada yang duduk termenung, ada yang tertidur pulas, bahkan tampak ada juga yang mengalami masalah kesehatan..".

Jalannya bis jemputan yang lambat, dan sangat lambat itu, memberi pencerahan batin ke dalam para penghuni bis. Di luar sana, masih banyak penumpang yang belum terangkut, dan belum di jemput. Mereka itu, ada orang tua, laki perempuan, bahkan anak-anak.

"beruntung kita, susul, kalau tidak, kita akan mengalami derita yang seperti mereka rasakan, menunggu, untuk waktu yang tidak pasti...?"

emmmm. 

Sambil menikmati kursi bis, kami terus melaju ke tempat kerinduan, di Bandung. Namun di sela itu, saya khususnya, merasakan, "ternyata, takdir itu, sekedar memindahkan waktu perjalanan hidup." 

Jika kami menunggu, maka ujian kesabaran dilatih, dan kebahagiaan datang menghampiri. Sedangkan, dengan menjemput, maka ujian kerja dan upaya perlu dimaksimalkan, dan kemudian kebahagian bisa diraih. Menunggu dia datang, atau dia dijemput ! itu, pilihan hidup, tetapi keduanya, tetap memerlukan adanya pengorbanan dari kita semua.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar