Ruang memberikan peluang untuk membangun kedekatan-manusia. Atau, lebih tepatnya, ruang akan menjadi faktor penting dalam memaksa seseorang untuk menunjukkan ekspresi-kedekatan kemanusiaannya. Seperti yang terjadi, dan tampak di area toilet. Seperti waktu itu, dan sore itu terjadi.
Seperti yang disampaikan dalam tulisan sebelumnya, Sabtu sore, 1 Agustus 2026, terjadi fenomena kerumunan terkondisikan (conditioned crowd). Jamaah berdatangan dari penjuru propinsi Jawa Barat, Banten dan DKI, untuk hadir atas undangan Kementerian Agama dalam kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan, yang mengambil tempat di Monumen Nasional Jakarta.
Sekali lagi, narasi ini, hendak mengomentari kejadian yang terjadi di depan toilet Masjid Istiqlal Jakarta. Fenomena yang kita maksudkan itu, adalah adanya gejala terbentuknya transformasi fungsi ruang-area toilet menjadi ruang-kedekatan (proximity space). Setidaknya, kita melihat ada empat karakter ruang kedekatan ini.
Pertama, kedekatan fungsional (functional proximity). Pihak panitia, sudah menyediakan fasilitas umum untuk wudhu, BAB atau BAK peserta yang hadir. Ada sejumlah titik yang dijadikan tempat untuk kebutuhan biologis peserta saat itu. Namun, sebagian diantara jama'ah, tidak bisa memanfaatkan fasilitas itu, dan lebih mencari ke tempat lain, yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhannya. Karena alasan untuk mencari WC duduk, maka dia akan berusaha keras mencari tempat lain, yang dianggap berkesesuaian dengan kebutuhannya, atau ada pula orang yang sebaliknya. Inilah yang disebut dengan kedekatan fungsional.
Kedua, kedekatan-sosial (social proximity). Sembari menunggu antrian di depan toilet, ada sejumlah orang yang mengajak untuk berbincang. Bincangan itu, dimulai dari sisi perkenalan, dan kemudian membincangkan realitas yang sedang dihadapi. Mengoreksi jumlah fasilitas umum, kondisinya, dan juga membludaknya pendatang dari berbagai daerah untuk hadir dalam acara itu.
Hal uniknya, mereka berinteraksi secara sadar dan praktis. Kendati semula tidak mengenali satu sama lain, tetapi ulah kondisi dan keruangan yang ada, kemudian mereka melakukan jalinan komunikasi diantara mereka. Inilah yang dimaksud dengan ruang (space), pada dasarnya memiliki potensi sebagai tempat membangun kedekatan manusia. Bukan sok akrab, tetapi itulah realitas faktual dari ruang. Kadang seseorang berusaha untuk membuka diri untuk berkenalan dan berbicang mengisi waktu antrian. Kejadian ini, bisa terjadi di antrian toilet, rumah sakit, parkiran, atau terminal, dan lain sebagainya. ruang memantik terbangunnya kedekatan personal atau sosial diantara para penghuni riang tersebut.
Ketiga, kedekatan ruang (spatial proximity). Persiangan untuk meraih kesempatan dalam memanfaatkan fasilitas umum, dibarengi dengan kesadaran untuk antri, mendorong seseorang untuk membangun kedekatan ruang. Setiap orang, melakukan upaya untuk mau beriringan dan berantri dengan orang lain. Entah siapa yang ada di belakang atau di depan diri kita, namun, secara sadar kita akan berantrian secara dekat dengan orang lain.
Realita itu merupakan fenomena sosial dalam membangun kedekatan ruang. Walaupun, sebagian besar diantara mereka membangun kedekatan yang sifatnya mekanis, otomatis dan tanpa-ketulusan-natural, namun lebih merupakan sebuah kedekatan-mekanis. Artinya, ada dianatra mereka yang antri, tanpa harus akrab dengan orang yang ada didepan atau dibelakang antrian mereka.
Dalam fenomena ini, memang terbelah menjadi realitas-sosial. Satu sisi, ada sekelompok orang yang membangun kedekatan-organis, dan menghadirkan keakraban, kehangatan, dan kesadaran dalam menjalani proses keruangannya. Sementara disisi lain, ada sekelompok orang yang membentuk diri dengan kedekatan-mekanis (mecanic proximity), yakni sekedar antri dan berdekatan secara fisik, tanpa dilandasi kesadaran kemanusiaan.
Keempat, ada kedekatan waktu (temporary proximity). Kendati dalam bahasa celotehan, namun menunjukkan makna yang signifikans. "toilet menyatukan, kita.." ungkap seseorang, yang kemudian disahuti dengan senyuman. Mereka mengatakan hal itu, menunjukkan ada sebuah kesadaran yang sama, terkait dengan naluri-kebutuhan yang sama. Mungkin karena usia, karena ada gejala ketidaknormalan fungsi tubuh sehingga sering 'beser' (buar air kecil), dan lain sebagainya.
Kelompok ini, hadir dalam satu ruang, didorong oleh sebuah kesamaan kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan itu, kadang memiliki siklus biologsi yang bersamaan. Karena itu, kedekatan waktu ini menjadi bagian dari fenomena perilaku geografi yang unik, dalam kehidupan manusia.
Berdasarkan timbangan analisis ini, dapat disederhanakan bahwa ruang di permukaan bumi, bisa berubah menjadi tempat yang mampu memaksa terbangunnya sebuah kedekatan (proximitas), Namun demikian, karakter kedekatan itu, akan tumbuhkembang dengan keunikan ragam perilaku manusia dalam memaknai ruang tersebut.

0 comments:
Posting Komentar