Tidak terpikirkan sebelumnya. Tetapi, sudah dirasakan. Maksudnya itu, setelah memberikan argumentasi, dan kemudian diambil keputusan, rasa-rasanya ada satu hal yang mengganjal, dan harus saya lakukan seketika itu. Tindakan yang saya maksudkan itu, adalah minta maaf, terhadap seluruh argumentasi yang sudah disampaikan sebelumnya. Karena, saya pikir, argumentasi itu, tentunya dapat menyakinkan bagi sebagian orang, tetapi dapat pula memberikan sayatan yang menyakitkan pada sebagian yang lainnya. Itulah yang terasa dan dirasakan, dan kemudian terpikirkan. Khususnya, selepas keluar dari ruang perbincangan.
Pasalnya, siang kemarin, sudah terjadi rapat keputusan, untuk menetapkan nasib seorang peserta didik. Seperti biasanya, bagi seorang tenaga pendidik, di setiap akhir tahunnya, ada momen evaluasi terhadap peserta didik yang sudah menjalani proses belajar dalam satu tahun terakhir. Termasuk, kepada dua orang peserta didik yang menjadi bahan pembicaraan kali ini. Dalam rapat itulah, sikap tanggapan, pemikiran dan pendapat, sangat potensial dan sering terjadi. Sulit dihindari.
Karena perbedaan sudut pandang, atau perbedaan kepentingan, atau perbedaan teori dan pemikiran yang digunakan, maka akan melahirkan argumentasi yang bebeda dalam mendukung, membela atau menolak pandangan. Namun demikian, bagi mereka yang terbiasa dengan budaya akademik, dinamika serupa ini, sangatlah bisa dinikmati.





.jpg)
