Just another free Blogger theme

Jumat, 21 November 2025

Pengalaman kita hari ini, dan sudah berjalan hampir 1 tahun lamanya. Mungkin juga, akan terus berlanjut ke masa depan. Kita semua, khususnya masyarakat yang mengikuti perkembangan kasus di media sosial, ramai membincangkan keabsahan ijazah, baik terkait pejabat negara di pusat, maupun pejabat negara di daerah. Media massa, baik media sosial maupun media elektronik, tidak henti-hentinya memubilikasikan konten ini, dengan sangat massif, dan terus dijadikan sajian utama kepada masyarakat.


Di sini  saya, tidak akan mengomentari masalah konten kasus di maksud. Karena kebetulan ini, membaca buku karya Clifford Geertz, jadi terenyuh untuk membincangkan masalah metodologi penarasian dalam sebuah konteks keilmuan. Maksudnya saya akan membincangkan inspriasi dari Hayat dan Karya, dari tulisan Geertz dalam memotret fenomena yang sedang terjadi saat ini, di lingkungan kita.

Sabtu, 15 November 2025

Hari itu, 13 November 2025, mendapat pencerahan dari narasumber kepramukaan. Saat itu, sang narasumber, Kaka Pelatih dari Pramuka memberikan sebuah ilustrasi mengenai sejumlah anggota Pramuka yang sudah meraih tingkatan Garuda. Ada siaga Garuda, Penggalang Garuda, Penengak Garuda dan juga Pandega Garuda. Luar biasa. Mantap dan keren.


Peserta Kursus Orientasi Kepramukaan, dibuatnya kagum, dengan kehadiran sang Garuda tersebut. Tentunya, selepas menyaksikan hal itu, muncul pertanyaan dasar namun konyol, "gimana caranya, mereka mengatur waktu hidup, sehingga bisa meraih Garuda?" lebih lanjut dari itu, para penggumam itu, setidaknya saya merasakan, "kok bisa, sementara di sekolahku, jumlah peserta didik pramuka itu, dari tahun ke tahun, jarang beranjak jauh dari jumlah jari tangan dan kaki, disamping itu pun, raihan tertingginya  kadang sekedar Bantara atau Laksana..".

Jumat, 14 November 2025

Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada Sir Robert Stephenson Smyth "Baden-Powell", Bapak Pandu sedunia. namun, hal ini, rasanya ingin dicurhatkan di ruang ini. Baden-Powell (22 Februari 1857 – 8 Januari 1941), dikenal sebagai BP, bipi atau Lord Baden-Powell, adalah letnan satu umum di tentara, penulis, dan dikenal sebagai pendiri Gerakan Kepanduan se-dunia.



BP lahir di London. Karir dan kemampuannya sangat mengagumkan. Dia dikenali sebagai seniman, penulis, bahkan sempat menjalani tugas sebagai Inspektur Jendral Kavaleri di tahun 1903. Bahkan, pernah pula ditugas ke luar negeri, dan menjalani peperangan di luar negaranya. Pengalaman hidup, dan prestasi hidup yang luar biasa itu, sangat dikenal oleh kalangan pramuka di Indonesia (terlebih lagi di dunia).

Kamis, 13 November 2025

Hari ini, mendapat pencerahan. Ketercerahannya diri ini, ada yang bersumber dari narasumber, dan ada pula yang bermula dari sesama peserta. Peseta Kursus Orientasi Pramuka.


Ketercerahan ini, setidaknya adalah mampu memetakan keragaman penafsiran di level lapangan terhadap makna wajibnya Pramuka sebagai ekstrakurikuler di jenjang pendidikan dasar dan menengah.  Penulis merasakan, bahwa dari obrolan di hari ini,  kendati, sikap yang muncul masih tetap melahirkan keberagaman, namun, pemetaan mengenai makna wajib ini, menjadi penting untuk dikomunikasikan.

Rabu, 12 November 2025

Saya, agak kurang paham maksudnya. Tetapi, teks dan penjelasan sederhananya, sangat jelas. Sang penutur, yang menjadi Andalan Pramuka, saat memberikan materi Kursus Orientasi Kepramukaan, mengatakan, bahwa "generasi alpa ini, hidup dengan suasana tanpa doktrin". 



Generasi Tanpa Doktrin, terdengar kuat dalam narasi di Kursus Orientasi Kepramukaan tersebut. Sepintar, terdengar bahwa di generasi ini, tidak ada narasi yang tunggal, dan mereka memiliki keleluasaan untuk lebas dari ikatan narasi tunggal. Generasi ini, mendapat isme baru dari media sosial dan informasi di dunia maya, terkait ragam narasi atau doktrin. Sehingga, doktrin kehidupan, bahkan termasuk dokrin agama sekalipun, tidak menjadikannya terikat terhadapnya.

Jumat, 24 Oktober 2025

 


Islam sangat memperhatikan aspek praktis. Tidak sekedar teoritis, atau kognisi. Islam, sebagaimana yang ditunjukkan dalam informasi ilahiah dalam Kitab Suci al_Qur’an, menunjukkan adanya peran penting dalam penguatan aspek praktis dalam kehidupan di dunia ini. Kesan ini, setidaknya dapat dipelajari dari firman Allah Swt :

﴿ وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ ١٣٢ ﴾ ( الانعام/6: 132)

Masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan. Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.  (Al-An'am/6:132)

﴿ وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۚ وَلِيُوَفِّيَهُمْ اَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ١٩ ﴾ ( الاحقاف/46: 19)

Setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah menyempurnakan balasan amal mereka serta mereka tidak dizalimi.  (Al-Ahqaf/46:19)

 Dengan dua ayat ini, jelas bahwa manusia akan memiliki derajat kehidupan yang berbeda, baik selama di dunia maupun di akhirat kelak. Informasi ini, bukan dimaksudkan untuk diskriminasi, melaikan informasi formal terkait dengan inklusivitas-proporsional dalam menilai kinerja manusia.

Lantas persoalannya, bagaimana Islam menyajikan informasi mengenai keragaman atau variasi kualitas amal perbuatan manusia ? ditemukan, setidaknya ada empat kualitas perbuatan manusia.

Kamis, 09 Oktober 2025

Beberapa tahun lalu, kadang mendapat komentar yang miring, saat memberikan jawaban, terkait motto hidup. Sudah beberapa tahun sebelumnya, jika ditanya, mengenai moto hidup, dijawab dengan kalimat, “berbuat baiklah, semaksimalmu, karena semua itu akan kembali pada diri sendiri”. Beberapa teman, menilainya, sebagai sesuatu yang egois, dan mereka menyarankan, mengapa tidak menggunakan kalimat, “berbuat baik dan mengabdi kepada Masyarakat?”


Ah, mungkin, sekedar salah paham, atau belum mendapat penjelasan lebih lanjut saja, sehingga mereka melakukan komentar serupa itu. Karena sejatinya, bisa jadi, motivasi intrinsic, atau dorongan utama dalam diri seseorang, tentunya adalah karena dirinya ingin mendapat keuntungan, kebahagiaan, atau kebaikan itu sendiri.  Artinya, kebaikan apapun yang dilakukan seseorang untuk orang lain, sejatinya adalah untuk kebaikan diri kita sendiri.