Just another free Blogger theme

Kamis, 29 April 2021


Setiap Ramadhan tiba, selalu saja, ada pertanyaan, "katanya, setan dibelenggu, tapi kenapa, kemaksiatan masih ada ?" 

Pertanyaan yang sederhana, namun memiliki kedalaman dan kompleksitas masalah yan cukup luar biasa.  Penulis sendiri, rasa-rasanya, baru bisa memahami dalam waktu-waktu terakhir, dan itupun, belum tentu, memberikan gambaran dan atau jawaban yang memuaskan.

Selasa, 06 April 2021

“hore....”, teriak sejumlah anak. “Pak, Sudah bel..” ujarnya. Teriakan itu disampaikan, berkaitan dengan lonceng jam pergantian pelajaran berbunyi. Sejumlah anak kelihatan sumringah. Kelihatan bahagia. Seolah baru keluar dari sebuah “tekanan” yang berat dan tak kuasa dipikulnya.

Bukan hal aneh. Tidak unik. Siang itu sebenarnya, hanya memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk mempresentasikan kembali materi ajar, yang saat itu masih terpampang pada peta konsep di whiteboard (papan tulis putih). Tidak aneh-aneh.  Tugasnya pun sangat sederhana, yaitu menjelaskan kembali peta konsep yang sudah buat bersama sebelumnya.

Senin, 05 April 2021


Tidak semua orang, senang dengan perbedaan pendapat. Tidak semua orang, bisa, hidup dalam suasana perbedaan pendapat. Tidak semua orang kerasan, untuk hadir di tengah benturan pandangan.

opini, dengan seketika muncul dalam benak ini. Sesaat, selepas mengikuti sebuah kegiatan pertemuan. Pertemuannya disebut pertemuan dinas, dan dihadiri oleh orang-orang yang dipersepsi masyarakat, adalah dewasa dan berpendidikan. Tetapi, seusai rapat itu, perasaan ini malah gelisah dan merasa tidak nyaman, dengan tanggapan beberapa orang, yang menilai bahwa rapat barusan, terbilang kurang nyaman.

"lha, apa masalahnya..?"

Sabtu, 27 Maret 2021

 


"Untuk apa kita belajar mengenai kearifan lokal?"

Pertanyaan yang sering muncul di tengah kita membincangkan masalah-masalah yang terkait dengan kearifan lokal. Baik di lembaga pendidikan atau di forum ilmiah, pertanyaan ini, cukup sering muncul, dengan maksud untuk meluruskan dan atau mengingatkan kepada kita semua, mengenai target akhir dari pembicaraan mengenai kearifan lokal (local wisdom).

Seperti sudah disampaikan di kesempatan lain, bahwa kita tidak bisa sekedar berhenti dengan membicarakan masalah kearifan lokal. Tidak bisa begitu. Kita harus melangkah maju, dan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, serta kebutuhan zaman. 

Bila demikian adanya, maka apa posisi pentingnya kita membahas masalah-masalah yang terkait dengan kearifan lokal ?

Rabu, 17 Maret 2021

Tidak akan terlupakan. Kendati tidak lama, praktek hidup di tempat ini. Sama serupa dengan rekan-rekan yang lainnya, ada yang seminggu, tiga hari, atau beberapa jam. Saya termasuk diantara mereka yang bisa menikmati hidup, praktek hidup nyata di kawasan ini, tidak lebih dari satu hari lamanya.


Hal besar dari pengalaman hidup itu, ternyata mampu mengikat kenangan sampai detik ini. Detik tulisan ini, ditulis, atau detik-detik tulisan ini dibaca lagi.  Ternyata benar, ungkapan orang bahwa, kenangan itu, mampu menembus waktu dan ruang. Perjalanan hidup tidak begitu lama, namun kenangannya mengendap lama, dan bahkan sulit untuk dilupakan.

Senin, 15 Maret 2021



Hidayah. Istilah yang cukup popular dalam lisan masyarakat Islam. Kata ini, bukan saja, menjadi salah satu kosa kota spiritual, namun juga menjadi bagian penting dalam konteks sosial kemasyarakatan. Karena seseorang yang mendapatkan hidayah, akan memiliki status sosial tertentu di tengah masyarakat.

Lantas apa yang dimaksud dengan hidayah ?

Pertanyaan ini mucul, sesaat selepas shalat subuh di masjid pinggir rumah. Seperti biasanya, dengan tetangga, kerap saling sapa dan saling tanya. Salah satu lontaran pertanyaan saat itu, adalah "bagaimana kabar sahabat, sehat ? alhamdulillah, dapat hidayah lagi...?" ungkapnya dalam bentuk canda.

Kamis, 04 Februari 2021

 


Seorang petani, bekerja di sebuah kebun. Sedari pagi hari, sang petani ini sudah mencangkuli tanah beberapa petak di kebun tersebut. Dia bekerja tidak sendirian. Ada lima atau enam petani yang lain pun turut bekerja di tempat tersebut. Seperti hari-hari yang lainnya, pada hari itu si petani memiliki kewajiban untuk bekerja di lading sang Majikan, selama 10 jam, yaitu mulai dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Kendati demikian, si Majikan tidak melarang bila ada yang datang bekerja lebih pagi, dan pulang agak telat. Malahan, tuan Majikan memberikan nilai lebih kepada mereka yang memiliki semangat kerja yang tinggi, juga menjunjung tinggi produktivitas.

Tak ayal lagi, berdasarkan pengalamannya dia bekerja, sang petani kita ini, datang lebih pagi dari pada rekanan kerja yang lainnya. Dalam benaknya, tertanam keinginan untuk menunjukkan hasil kerja yang baik, sehingga lahan kebun Majikannya tersebut dapat ditanami secara baik, yang pada akhirnya akan menghasilkan hasil kebun yang melimpah. Pada bayangan petani kita ini, bila hasil kebunnya melimpah, dan Majikan bahagia dengan hasil pertaniannya, bukan hal yang mustahil akan ada limpahan rijki kepadanya juga. Oleh karena itu, motivasi dasar seperti ini, menjadi sesuatu hal yang kuat dalam jiwanya untuk terus bekerja keras selama satu minggu ini.