Just another free Blogger theme

Minggu, 18 Januari 2026

Kegaduhan politik global, masih terus muncul, dan berkembang. Kali ini, Amerika Serikat tidak membidik Timur Tengah, seperti 20 tahun lalu, dan bukan pula membidik kawasan Amerika Selatan, seperti tiga minggu lalu. Amerika Serikat saat ini, membidik Greenland, di ujung Utara Planet Bumi.


Secara formal legal, Greenland adalah kawasan otonom yang masuk Kerajaan Denmark.   Diperkirakan, 4.500 tahun lalu, penduduk awal (Paleo-Eskimo) tiba dari Kanada, menguasai seni bertahan hidup di lingkungan Arktik yang keras, berburu anjing laut dan paus, serta membuat kayak dan iglo. Kemudian, abad ke-13: Suku Inuit  tiba di Greenland, menggantikan budaya sebelumnya. 

Mendengar Greenland, bisa mengajak kita pada dua pengetahuan umum. Pengetahuan pertama, teringat suku Eskimo, dengan iglo di kawasan kutubnya. Kemudian, kita pun akan diingatkan pula dengan Viking, kelompok pelaut ulung, yang bisa mengarungi perjalanan air, dengan gagahnya.

Hari ini, kawasan yang eksotik ini, menjadi salah satu sasaran Pemerintah Amerika Serikat. Kita sebut, salah satunya. Karena bisa jadi, dengan alasan yang serupa, atau ada alasan lain, AS bisa melakukan penyerangan ke wilayah lain, yang dianggap menjadi bagian penting dari posisi strategis negaranya.

Apa alasan faktual atau alasan verbal yang mengemuka ke media sosial, sehingga AS begitu bernafsu untuk mengakuisi kawasan Greenland ini ? ya, AS bermaksud untuk mengekspansi wilayah ini, sesuai dengan politik luar negeri yang dimilikinya.

Donald Trump, seperti yang mengemuka di media sosial, memandang bahwa kawasan ini, akan menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan negaranya, dari ancaman negara asing. AS memandang bahwa Greenland akan menjadi posisi sengketa politik global, di masa depan. Bila tidak dikendalikan AS, maka kawasan ini, potensial akan dijadikan pangkalan militer oleh Rusia atau China. 

Itulah, pemahaman dan pandangan politik luar  negerinya, terkait dengan Kawasan ini !

Dengan mendasarkan diri pada pemahaman dan geopolitiknya itu, AS, saat ini memandang penguasaan kawasan Greenland menjadi hal penting, dan harus dilakukan dengan keamanan masa depan negaranya. Tanpa penguasaan terhadap kawasan ini, mereka memandang bahwa ancaman keamanan dalam negerinya akan terganggu.

Teori dan kesadaran ini, yakni kebutuhan akan keamanan nasionalnya, AS merasa berhak untuk melakukan ekspansi atau pencaplokan kawasan lain yang berdaulat. Dengan alasan untuk kepentingan nasional, pemerintah AS menyakinkan warganya, terkait dengan kepatutan dan keharusannya untuk menguasai Greenland saat ini.

Pada bagian inilah, narasi ini, perlu untuk kemudian dijadikan bahan perbincangan global kita. Artinya, benarkah dan bisakah, alasan keamanan dalam negeri, kemudian menjadi alasan dan dorongan bagi sebuah negara, untuk melakukan ekspansi wilayah ke daerah sekitarnya, padahal kawasan itu adalah milik dari negara yang berdaulat ?

Bila saja, sikap dan hasrat kekuasaan AS ini, benar-benar diwujudkan, seperti halnya, saat AS melakukan penyulikan Maduro dari Venezuela, maka dalil ini, akana menjadi preseden buruk bagi negara-negara kecil, atau negara lemah, atau negara yang memiliki  hambatan geografik untuk mengontrol dan mengendalikan wilayahnya.

Kita belum yakin, apakah Negara sebesar Indonesia, yang memiliki luas wilayah membentang, dan kemudian terpisah-pisah oleh lautan, dan bahkan kadang sulit dikontrol oleh Pusat, mampu mengendalikan kawasan itu ? bila tidak, maka bukan hal mustahil kawasan itu, akan menjadi sasaran empuk bagi sejumlah negara mengancam kedaulatan Indonesia.

Bagaimana menurut pembaca?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar