Just another free Blogger theme

Kamis, 08 Januari 2026

Siapa yang tak kenal Nadiem Makarim, sebagai orang yang sukses dalam teknopreneur ? membuingnya transportasi online di Indonesia, tentunya, tidak akan hilap untuk menyebutkan orang yang satu ini. Apapun penilaian kita terhadap kesejahteraan pekerja transportasi online, tetapi inisiasi dan penggerakan ekonomi sektor ini, tentunya menjadi sesuatu hal yang baru, bagi bangsa Indonesia saat itu.



Sayangnya, di akhir ujung karirnya sampai 2025 ini, tokoh profesional, yang sukses sebelum masuk birokrasi itu, malah kemudian terjerat kasus Korupsi.

Masih ditahun 2025, kita pun mengenali kasus Ira Puspadewi. Tokoh profesional, milik Indonesia ini, April 2006 hingga April 2014, Ira bekerja di perusahaan ritel pakaian multinasional hingga menjabat sebagai Direktur Global Initiative Regional Asia di Gap Inc. Ia lalu melanjutkan kariernya di sektor BUMN ketika diangkat sebagai Direktur Utama PT Sarinah  pada April 2014 hingga Agustus 2016, lalu sebagai Direktur Ritel, Jaringan, dan SDM di PT Pos Indonesia hingga Desember 2017, dan sebagai Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry pada Desember 2017 hingga Agustus 2024. Bahkan, dia punIa cukup lama berkarier di luar negeri hingga kemudian pulang ke Tanah Air. Kariernya sebagai diaspora Indonesia di Amerika Serikat terbilang cukup cemerlang. Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi meraih penghargaan The Best Industry Marketing Champion 2022 kategori Transportation dari perusahaan konsultan pemasaran terkemuka MarkPlus, Inc yang diberikan pada acara ajang Marketer of The Year (MOTY) 2022 di Jakarta, kemarin.

Kembali lagi, kembali sudah mendapatkan rehabilitasi hukum dari Presiden Indonesia, beliau sempat digunjang-ganjing masalah hukum. Dengan tuduhan yang sama, serupa Nadiem Makarim, yakni korupsi.

Ah, sudahlah. Andai kita, mendaftar jumlah kasus ini, secara berkelanjutan, bisa jadi, akan jauh lebih panjang, dari yang sudah bisa lakukan saat ini. Terlalu banyak kasus korupsi di negeri ini, mulai dari pejabat level bawah di kelurahan, sampai kementerian, bahkan dugaan sampai pada pucuk pimpinan sekalipun. Dugaan demi dugaan, terus bermunculan. Memang betul, butuh pembuktian, tetapi pemberitaan kasus serupa ini, makin memprihatinkan kita semua.

Hal yang hendak di kedepankan di narasi ini, adalah mengapa banyak tokoh profesional, bahkan sudah diakui integritas dan kompetensinya di level dunia sekalipun, selepas masuk ke lingkungan birokrasi, malah terjerat kasus-kasus yang memprihatinkan ini ?

Pertanyaan pertama, apakah benar, bahwa materi, jabatan, atau kekuasana, kerap kali menggoba manusia untuk merubah karakter ? Disaat berkarir secara profesional, banyak orang yang bisa teguh dengan prinsip hidupnya, namun saat diberi kekuasaan, dengan limpahan materi yang bisa menggoda, kemudian bisa berubah pikiran ?

Rasanya, hipotesis ini, sulit untuk dibuktikan. Setidaknya, pendapatan seorang Nadiem Makarim, menurut pemberitaan, jauh lebih besar di banding dengan pendapatannya di Kementerian. Pun demikian, gensi sosial profesi Ida Puspadewi di luar negeri, jauh lebih bergengsi dari sekedar jabatan-jabatan yang didapatnya di birokrasi.

Lantas mengapa kasus ini mencuat ?

Pertanyaan kedua, apakah benar, ucapan "jangan manusia, malaikat sekalipun, kalau masuk dalam sistem birorkasi Indonesia saat ITU, tetap akan mudah terjebak budaya korup..". Apakah pernyataan serupa ini, bisa dibenarkan, atau sekedar momok yang dihembuskan orang untuk menakuti orang lain, bisa masuk ke birokrasi level elit ?

Problem kedua ini, rasanya, agak menggantung. Sulit dibuktikan, tetapi kenyataan, sejumlah kasus orang profesional yang mudah terseret arus budaya birokrasi, sangat mudah ditemukan. Setidaknya, oleh dua orang dimaksud.

Tanpa bermaksud untuk membela, atau keberpihakan pada dua tokoh itu. Namun, seseorang yang lahir dari karir profesional, yang membutuhkan energi dan mental kejuangan yang berintegritas, sulit dipahami bila kemudian memiliki mental korup. Kecuali memang, bila dalam meniti karir usahanya, dilahirkan dari sistem korup, dan transaksional dengan dunia politik.

Pertanyaan ketiga, apakah ada super-team dalam sebuah birokrasi, yang memiliki kuasa dan  sumberdaya, yang mampu mengondisikan sistem kerja dan sistem regulasi, sehingga mampu menjebak orang-orang baru ke dalam jaring-jaring tindakan menjerumuskan ?

Aduh, sulit untuk dibuktikan. Saya sendiri tidak yakin, tetapi, untuk menemukan informasi yang lebih mendalam, memang dibutuhkan analisis dan kajian yang lebih mendalam. Logikanya, bila hal ini, memang terjadi, maka, hal yang menjadi penting untuk dibicarakan itu, adalah pentingnya merombak sistem dan rezim, bukan mengubah personal. Perubahan orang perorangan, bila saja, mereka tidak menjadi dominan, dan tidak kukuh, maka orang baru itu, cenderung akan menjadi korban.

Bila hari ini, publik sangat mendamba dan berharap besar kepada Menteri Keuangan, Purbaya. Namun, bila kondisi ketiga ini, benar-bena ada dan terjadi, maka, berapa lama beliau bisa bertahan, dan sampai kapan beliau aman ? mungkinkah ada jebakan birokrasi, yang kemudian bisa menjeratnya pada lubang yang sama dengan yang dialami Nadiem Makarim atau Ira Puspadewi ?

Kita semua tidak paham dengan semua hal ini.

Hal yang publik harus sama-sama cermati, bahwa gejala adanya orang  profesional, terjebak pada kasus-kasur korup, merupakan satu keprihatinan bangsa dan nasional. Kapan lagi, kita memiliki orang nasionalis, dan berintegritas, bila kemudian ada lingkungan yang korup, maka orang-orang baik, akan bisa terjerumus pula.

 Bila, Tom Lembong dan Ira Puspadewi kemudian mendapat pengampunan dari Presiden. Apakah Nadiem Makarim pun, akan mengalami hal serupa ? bila terjadi yang demikian, sebenarnya apa yang sedang terjadi di negeri kita ?

Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan ?????

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar