Just another free Blogger theme

Senin, 05 Januari 2026

Setidaknya, ada tiga pola ekspansi kekuasaan di era modern. Model-model ini, mungkin jadi, bukan yang terakhir, dan bukan pula yang pertama. Model-model ini, lebih merupakan modifikasi teknik atau strategi politik klasik, yang kemudian pindah-rupa ke dalam bentuk baru, yang bisa disebut modern. Tentunya, kasus Amerika Serikat - Venezuela adalah yang  terbaru, atau teraktual. 


Tentunya, secara pribadi kita prihatin dengan situasi yang terjadi di Benua Amerika itu. Salah satu Negara di Amerika Latin mendapat gangguan dari salah satu negara di Amerika Utara. Bukan hanya menggoncang psikologis warna negaranya, tetapi juga menyentuh atau menyenggol nurani bangsa-bangsa di Dunia. Apa yang terjadi, dan apa yang harus dilakukan oleh Dunia ? sebuah pertanyaan, yang kerap kali jawabannya, masih diselimuti kabut ketidakpastian.

Cermatan kita  terhadap tindak-tanduk AS ini,  dilain pihak, malah kemudian mengantarkan kita pada pertanyaan lain. Akankah ada model perebutan kekuasaan terhadap negara lain, dengan dalih tertentu kemudian bisa dibenarkan oleh dunia ? entahlah. 

Untuk menelaah jawaban itu, dan bukan berarti untuk mendapatkan jawaban pasti terkait hal itu, rasanya, ada waktu yang leluasa untuk menemukan model-model  ekspansi kekuasaan politik di era modern, selain yang tampak hari ini, dan saat ini.

Pertama, model klasik yang dianggap modern, yakni tidak merebut wilayah dan tidak merebut kekuasaan politik, namun menguasai sistem ekonomi dan sistem politiknya. Kekuatan ekonomi menjadi garda terdepannya, untuk menaklukkan politik kekuasaan sebuah negara.

Contoh yang unik dan menarik, adalah kemampuan China dalam menguasai sejumlah negara di berbagai belahan dunia. Diakui atau tidak, dinyatakan formal atau informal, China adalah satu negara ekonomi yang kuat dan tangguh, serta mampu memberikan pengaruh nyata terhadap negara-negara yang dibantunya. Bahkan, istilah jebakan utang China, menjadi salah satu kosa-kata politik, yang dikhawatirkan banyak negara, tetapi juga sudah dirasakan oleh banyak negara. 

Miliaran dolar uang asal China telah mendongkrak perekonomian beberapa negara Eropa - tetapi ada beberapa kesepakatan yang ternyata mengundang masalah. Para kritikus mengatakan itu adalah "jebakan utang", di mana China dapat memilih apa yang terjadi jika pinjaman tidak dilunasi.

Laporan baru yang dirilis oleh lembaga kajian kebijakan luar negeri Australia, Lowy Institute, pada Selasa (27/5/2027), sebagaimana dikutip The Guardian, mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, 75 negara termiskin di dunia dijadwalkan membayar utang sebesar US$22 miliar kepada China, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Negara-negara tersebut terancam bangkrut, dan akan 'tunduk' pada kendali China sebagai pemilik modal yang mempengaruhi negaranya.

Apakah Indonesia berada pada posisi ini ? 

Kedua, model klasik gaya Rusia. Rusia dan Ukraina, adalah contoh lain dalam konteks ekspansi kekuasaan politik. Di awal kisah, Ukraina dianggap Rusia sebagai negara yang tidak patuh untuk tetap menjaga netralitas politiknya. Di masa itu, Ukraina malah bernafsu untuk melakukan koalisi politik dengan negara-negara Barat, NATO.

Di lain pihak, Ukraina selama ini, dianggap sebagai negara yang sudah banyak mendapat bantuan dari Rusia. Karena itu, saat memutuskan untuk bergabung dengan NATO, Rusia menganggapnya akan menjadi ancaman politik bagi negaranya. Pada ujungnya, negara ini pun diserang Rusia, dan belum selesai sampai sekarang. Perang masih berlanjut.

Model klasik Rusia, menyerang secara politik, sejatinya pernah pula dilakukan Amerika Serikat kepada Negara Irak. Kekuasaan Sadam Hussein, Presiden Irak saat itu, tuntuh seketika, selepas mendapat serangan dari Amerika Serikat. AS dapat dikategorikan sukses menumbangkan Sadam Hussein, sementara Vladimir Putin masih terus berjuang menaklukkan negara yang dipimpin Volodymyr Oleksandrovych Zelenskyy .

Pertanyaannya, apakah Indonesia akan menderita serupa itu, bila membangkang pada negara adikuasa di Dunia ?

Terbaru, dan teraktual, adalah kondisi Venezuela. Negara penghasil dan pemilik cadangan minyak terbesar di Dunia ini, sekarang mengalami krisis politik. Di awal Tahun baru, Amerika Serikat, melancarkan serangan dengan menculik Presiden Nicolas Maduro dan istrinya. Presiden dan Istrinya, diculik dari kediamannya, dan dibawa ke AS untuk disidangkan dengan tuduhan perdagangan Narkoba.

Untuk kasus AS ini, memang bukan yang pertama kali melakuka hal ini. Di era modern ini, AS menyerang Irak, dengan tuduhan terorisme. Tuduhan dilayangkan, dan penghancuran sebuah negara terjadi juga. Pada hari ini, tuduhan perdagangan Narkoba dilakukan, Nicolas Maduro tidak mengakui tuduhan itu, tetapi penghancuran negara sudah terjadi.

Selain tiga pola itu, kondisi dunia yang hari ini, tidak baik-baik saja, masih tetap tidak mampu menyelesaikan masalah Palestina - Israel. Kondisi dan kasus ini, terus berlarut-larut dan sangat panjang. Sementara, PBB sebagai organisasi dunia, hampir bisa dipastikan, belum mampu menunjukkan tindakan dan sikap nyata, dan signifikans dalam menjaga keamanan dan perdamaian dunia.

Sejumlah negara yang masih aman, seperti halnya, negara kita, baru bisa mengeluarkan retorika politiknya ke dunia. Selain itu, jangan-jangan kita pun, diliputi kewaswasan, bila saja, negara-negara besar dunia tadi, Israel, China, Rusia dan AS, melakukan tindakan brutal ke negara-negara sasarannya.

Pertanyaan kecil bagi kita saat ini, bagaimana Indonesia menghadapi situasi serupa ini ? akankah kita, terus berkutat dengan ijazah palsu, pencitraan politik, MBG, retorika kosong tentang pemberantasan korupsi ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar