Hari ini, di sejumlah tempat, yang dihuni Umat Muslim, ramai menyelenggarakan peringatan terjadinya perjalanan historik Rasulullah Muhammad Saw, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, terus ke Shidratul Muntaha, atau dikenal dengan Isra' Mi'raj. Peristiwa ini, diduga, terjadi pada malam 27 Rajab.
Disela-sela itu, kendati sedang melakukan kegiatan keagamaan, ada saja yang ngajak berbincang di luar masalah keagamaan.
"ya, agama ini, kan bukan masalah ritual saja..." ungkapnya
"maksudnya..?"
"selain harus bagus ritualnya, kita pun, dituntut untuk peka, peduli dan empati pada masalah-masalah sosial kebangsaan..." tuturnya lagi.
"Memang betul demikian. Tapi, lantas apa kaitannya dengan peringatan isra' miraj kali ini ?" tanyaku lagi kepadanya.
"di sinilah problem kebangsaan umat kita ini..." potongnya, dengan setengah menyimpulkan. Orang yang mendengar pasti, kaget dan dibuatnya heran, dengan kesimpulan serupa itu. Tapi, karena, merasa ada waktu luang, dan perlu mengetahui pandangannya terkait tema pembicaraan ini, maka kami semua siap untuk menyimaknya.
"persoalan kita hari ini, adalah lemah dalam mengimplementasikan konsep atau inspirasi dari peristiwa sejarah..", dia membuka pandangan.
Kita butuh, pendekatan reflektif, atau semiotik, dalam memahami peristiwa sejarah ini. Peristiwa yang kita kenali selama ini, sebagai peristiwa Isra' Mi'raj, adalah peristiwa teologis dan bahkan metafisis. Generasi kita, yang hidup di era sekarang ini, tentu, memiliki hak untuk bertanya, apa manfaatnya kisah itu bagi kehidupan kita sekarang ini ? bila hak itu sudah ditunaikan, maka ada kewajiban untuk menginterpretasikan dan mengimplementasikannya ke dalam konteks kehidupan di era modern.
Sampai pada penggalan pikiran ini, sejumlah orang yang mendengarkan, mulai tertarik. Tertarik terhadap hasrat dia untuk menjelaskan inspirasi praktis isra' mi'raj ke dalam kehidupan era modern, khususnya untuk generasi milenial atau GenZ. Didorong sebuah kepenasaran, hadirlah pertanyaan, "apa dan bagaimana itu, bisa kita lakukan sekarang ?", tanyaku kepadanya.
Sekali lagi, dia menegaskan bahwa pandangannya itu, lebih merupakan percikan dari pikiran-pikiran semiotis, tidak historis teologis. Artinya, pendekatan ini, adalah memanfaatkan konsep, dan peristiwa sejarah sebagai cermin, untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Terlalu panjang, kalau kajian ini, dilakukan secara utuh. Waktu dan ruang pendek ini, cukup untuk menjelaskan bagian tengah dari kisah ini.
Perhatikan dengan seksama. Perjalanan kita dalam 20 tahun terakhir, khususnya selepas reformasi nasional. Sewaktu gerakan itu mengemuka, kita memiliki harapan besar untuk menjadi bangsa maju, besar dan kuat. Gerakan reformasi memberikan janji, perubahan di segala lini kebangsaan, mulai dari sistem kepartaian, budaya politik, hukum, dan budaya birokrasi.
Apa yang terjadi hari ini ?
Setiap orang bisa memberikan tafsir yang berbeda terhadap situasi dan kondisi ini. Setiap orang, memiliki hak untuk memaknai perjalanan kebangsaan ini. Tetapi, ada satu hal yang tidak bisa ditutup-tutupi, yaitu kesenjangan ekonomi di tengah masyarakat. Isu ini, masih terus menjadi menu media sosial, dan bahan pembicaraan di tengah masyarakat kita. Utang negara, yang harus ditanggung anak cucu, masih terus menganga, dan malah kian melebar, kian mengkhawatirkan. Pemerintah memandang, itu tidak masalah, sebagian ekonom mendukung pandangan ini. Sebagian lagi, memandang situasi ini, sangat mengkhawatirkan, dan bisa mengancam keutuhan bangsa dan negara di masa depan.
Maka, pertanyaan lanjutan, apa yang sedang terjadi dengan negara kita ? reformasi, bagaimana kabarnya, dan pembangunan berkelanjutan bagaimana ceritanya ?
Sekali lagi, setiap orang memiliki hak untuk memberikan penafsiran dan pembelaan terhadap realitas ini. Namun, pertanyaan kritis hari ini, apakah bangsa dan negara kita ini, tengah menjalani proses mi'raj kebangsaan, atau proses peningkatan kualitas kebangsaan ? atau malah tengah mengalami involusi kebangsaan ?
Iya, mi'raj kebangsaan yang kita maksudkan, adalah perjalanan kolektif bangsa Indonesia menuju cita dan harapan tertinggi dan termulia. Mi'raj kebangsaan adalah persadaran sistematis berkelanjutan yang dilakukan secara kolektif dan simultan oleh bangsa Indonesia, dalam mewujudkan negara Pancasila, yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sedangkan ancaman involusi kebangsaan, adalah gerakan tidak disadari oleh bangsa Indonesia, untuk terus berkubang dalam lubang undur-undur. Diam di satu tempat, dan muter-muter, sehingga menyebabkan dirinya nyungseb, terkubur dalam lumpur pasir.
Perhatikan dengan seksama. Bagaimana repotnya bangsa ini, menyelesaikan kasus ijazah. Asli atau palsu, masih saja, sulit diakhiri. Sulit diakhiri. Sudah ada keputusan, tetapi masih tetap diragukan, dan keraguan itu, karena dilandasi oleh latar-argumen keputusan yang tidak ajeg dan tidak berkeadilan. Kedua kubu, dengan teguh, memegang keyakinan sendiri. Satu pihak merasa ijazah asli adalah dokumen pribadi yang tidak bisa sembarang orang dan waktu untuk dipublikasikan, dan satu pihak lagi, memandang hal itu, sebagai konsumsi publik.
Perhatikan lagi secara kritis. Strategi pembangunan nasional, sudah beberapa tahun terakhir, masih saja, mengandalkan mode utang. Untuk menutupi defisit anggaran, Pemerintah dengan ringan dan mudahnya, menempuh jalur pinjam utang ke luar negeri. Sebagai negara berkekurangan, memang pendekatan ini, adalah jalan pintas. tetapi, sebagai sebuah negara, yang ceritanya memiliki segudang sumberdaya alam, dan eksploitasi sumberdaya alam yang dilakukan setiap harinya, maka pendekatan utang dan ngutang, adalah sesuatu yang sulit untuk dinalar orang awam.
Sampai pada titik inilah, pertanyaan kritis dari pojok-kemasyarakatan ini, apakah perjalanan bangsa kita ini, tengah mengalami mi'raj atau involusi dalam lubng undur-undur ?
Bagaimana menurutu pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar